| Arswendo saat diwawancarai INOVASI |
Status sebagai tokoh masyarakat tidak
membuatnya merasa lupa daratan. Saat berbincang dengan INOVASI, Ia
tampak begitu hangat menjawab pertanyaan yang menyinggahinya.
Arswendo Atmowiloto,
seorang yang pernah mendekam dalam penjara karena melakukan jajak
pendapat yang cukup kontroversial ini, berhasil diwawancarai INOVASI
setelah ia memberikan materi pada bedah buku yang diselenggarakan di
aula Fisip Unsrat (29/07).
“Mahasiswa sekarang terbagi menjadi dua,
yakni mahasiswa yang masih independen dan mereka yang telah terkooptasi
dengan kekuatan politik,” tuturnya diawal pembicaraan.
Arswendo berpendapat, pandangan
masyarakat awam yang sering menilai gerakan mahasiswa lebih banyak
dituggangi elit politik dikarenakan begitu kuatnya pengaruh Partai
Politik dalam gerakan mahasiswa.
“Hampir semua segi diajak menjadi kadernya dan diajak untuk berpartisipasi,” tutur pria kelahiran 26 November 1948.
Ia berpendapat, gerakan mahasiswa tahun
1966 merupakan gerakan yang paling murni. Keyakinan tersebut ia dasarkan
bahwa saat itu mahasiswa tidak dibesarkan oleh Orde Lama dan masih
belum berafiliasi dengan Orde Baru.
Ia mencontohkan, begitu banyak kelompok
mahasiswa ditiap kampus bahkan terpecahnya BEM merupakan sebab yang
paling menonjol untuk melemahkan gerakan mahasiswa.
“Tapi kalau ada leadership dari suatu kelompok mahasiswa, pasti kesaktian gerakan mahasiswa akan kembali dimiliki,” tuturnya mengakhiri percakapan.
0 komentar:
Posting Komentar