• Lembaga Pers Mahasiswa INOVASI Universitas Sam Ratulangi Manado
  • Lembaga Pers Mahasiswa INOVASI Universitas Sam Ratulangi Manado
  • Lembaga Pers Mahasiswa INOVASI Universitas Sam Ratulangi Manado
  • Lembaga Pers Mahasiswa INOVASI Universitas Sam Ratulangi Manado
  • Lembaga Pers Mahasiswa INOVASI Universitas Sam Ratulangi Manado

Senin, 07 November 2022

Astrid Tuela, Perupa Wanita Muda Sulawesi Utara

Astrid Tuela, perupa muda yang pernah berkuliah di Teknik Universitas Sam Ratulangi ini turut serta dalam kegiatan #Satoegaris dengan menampilkan karya 2 dimensinya. Karya Astrid yang didominasi oleh warna merah muda dan diberi nama Out Growing Wild ini sudah dipinang oleh seorang kolektor bahkan sebelum karya ini resmi dipajang di UPTD Kebudayaan Manado. Sebuah kanvas persegi berukuran 45x65 cm serta 2 kanvas oval berukuran 10x8 cm menjadi wadahnya untuk menorehkan kuas dan cat tersebut. Ide lukisannya tercetus dari seorang fotografer asal Jakarta bernama Anto Ismail, yang karyanya dianggap out of the box oleh Astrid sendiri. Menurutnya, Anto Ismail merupakan seorang tokoh yang berbicara secara bebas lewat karyanya perihal keluar untuk “bertumbuh liar” sehingga menginspirasinya untuk membicarakan dirinya sendiri lewat lukisan yang ia hasilkan dengan penamaan karya yang hampir sama.

Out Growing Wild oleh Astrid Tuela
Sumber: dokumentasi pribadi

Out Growing Wild oleh Astrid Tuela
Sumber: dokumentasi pribadi

Lukisan ini berbicara tentang keresahan dan perasaan kegagalan hidup yang ia coba samarkan dengan warna-warna terang. Karya yang bersifat personal untuknya ini memakan waktu kurang lebih 3 minggu dari pembuatan hingga pemajangan di UPTD Kebudayaan Manado. Tidak hanya menguras waktu, karya ini juga menguras perasaan dan jiwa karena sudah diminati Kolektor bahkan sebelum karya ini sepenuhnya rampung. Warna merah muda dan warna lainnya menjadi harapan Astrid bahwa semua hal; baik kegagalan dan kesedihan akan berlalu jika kita berani untuk keluar, karena semua hal yang positif dan keceriaan itu akan lebih besar daripada keresahan yang ada. Gambarannya sendiri tercirikan dengan guratan melingkar yang banyak dan berulang, berbicara mengenai laut dan alam juga tercirikan dengan lukisan tangannya.

Astrid menemukan passion-nya dalam dunia seni ketika ia merasa tidak menemukan apa yang ia cari selama menjadi mahasiswa. Adanya pertentangan dari sang Ayah membuat Astris sempat mengalami gejolak emosi dalam prosesnya, namun ia tetap maju dan berani berkarya sehingga ia berhasil melakukan pameran tunggal pada Februari tahun 2020 lalu. Ia mencari nilai dan ide karyanya dengan menyepi, pandemi COVID-19 membuatnya sendiri malah semakin mendorongnya untuk menghasilkan banyak karya. Perasaan sedih, kesepian, dan kecamuk emosi karena kehilangan teman serta komunikasi dengan orang lain membuat tangannya menghasilkan karya yang bersifat personal baginya. Meskipun belajar dengan cara otodidak; melihat teman, proses diskusi, bahkan kegiatan sehari-hari seperti menaiki angkot cukup menunjangnya di dalam dunia seni ini.

Meskipun sudah berkecimpung dan menggeluti dunia seni, restu dari sang Ayah masih belum didapatkan. Hal ini membuatnya melahirkan karya personal tentang ayahnya dari awal 2020 hingga akhir tahun 2021 dan dipamerkan pertama kali di Museum Tanta Mien Manado. Karya ini dihasilkan di atas kertas linen tipis yang ia gulung dan bawa kemana saja dengan bantuan lakban dan staples. Karya manual ini sangat berharga dan bernilai personal yang turut membantunya untuk maju di dunia seni.

Kegiatan Bulan Menggambar Nasional merupakan cara Astrid ikut berpartisipasi dalam Satoegaris dengan satu panggilan dari perupa senior yang menghubunginya terlebih dahulu. Koordinator kegiatan Satoegarispun terus meyakinkannya untuk mengikuti kegiatan ini tanpa mengurangi rasa hormat kepada perupa senior lainnya, bahkan hal ini sangat diapresiasi olehnya karena pihak Satoegaris menunggu karyanya untuk dipajang di khalayak umum meskipun ia sempat ragu untuk mengikuti kegiatan ini sebelumnya. Ia mengatakan bahwa ke depannya ia akan tetap ikut di pameran-pameran seni rupa karena ingin terus mendukung perkembangan dan minat dari dunia seni terhadap khalayak umum. Astrid menutup perbincangan dengan pesan untuk dirinya sendiri juga kepada orang lain, “jangan takut untuk gagal, tetap buat karya dan percaya pada diri sendiri; satu-satu, pelan-pelan” ujarnya.

Penulis: Dinda


Minggu, 06 November 2022

Pameran Perupa Muda Sulawesi Utara: SATOEGARIS

Tanggal 28 Oktober 2022, ada perbedaan peringatan hari Sumpah Pemuda di daerah Museum Kebudayaan Kota Manado. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kebudayaan Manado ini dimeriahkan oleh pembukaan kegiatan seni dengan tajuk #Satoegaris dan kegiatan ini berlangsung hingga tanggal 6 November 2022 kemarin. Satoegaris sendiri merupakan sebuah inisiasi oleh para perupa Sulawesi Utara yang dipertemukan pada saat kegiatan Bulan Menggambar Nasional yang berlangsung pada bulan Mei lalu. Terletak di lantai 2 gedung Museum Kebudayaan kota Manado, sebanyak 32 karya 2 dimensi (lukisan) dan 5 karya instalasi dipajang untuk dipamerkan kepada khalayak umum.

Eat in the candlelight
Sumber: dokumentasi pribadi

Asa
Sumber: dokumentasi pribadi

Koordinator kegiatan Satoegaris, Luthfi Madina, menyampaikan bahwa memerlukan kurang lebih 5 bulan untuk mengadakan kegiatan ini, berawal dari ide hingga persiapan dan eksekusi ide kegiatan. Ia menuturkan bahwa karya yang dipajang tidak ada kriteria atau tinjauan khusus selama tidak mengandung penyinggungan unsur SARA, pornografi, dan politik. Para perupa yang turut serta dalam kegiatan ini masih tergolong perupa muda, ini bertujuan agar mereka berani menunjukkan karya mereka dan memberikan wadah lebih bagi karya-karya yang telah mereka hasilkan. Pemilihan tajuk kata Satoegaris sendiri diilhami oleh momentum peringatan Sumpah Pemuda yang diharapkan dapat menampilkan karya serta wajah baru di dalam lingkup dunia seni Sulawesi Utara sehingga akan tumbuh juga harapan dan semangat baru dengan landasan kolektivitas yang rapi.


Para perupa yang ada memiliki latar belakang berbeda-beda. Berasal dari beberapa institusi pendidikan yakni Universitas Sam Ratulangi, Universitas Negeri Manado, Politeknik Negeri Manado, bahkan keikutsertaan dari mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Karya yang ditampilkan di sini dibuat oleh perupa laki-laki dan perempuan, mahasiswa aktif dan alumni dari universitas yang telah disebutkan sebelumnya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, beberapa karya yang ditampilkan dalam pameran kali ini telah dipinang oleh kolektor karya seni yang ada.


Tidak hanya pameran seni rupa, dalam kegiatan ini ada beberapa kegiatan menarik lainnya. Rangkaian kegiatan lain seperti diskusi seni, pemutaran film, Art Workshop, acara seremonial pembukaan atau penutupan dan keberadaan Marketplace. Kegiatan penutupan sendiri berlangsung dari jam 4 sore hingga menuju larut malam karena mengingat hari minggu merupakan akhir pekan yang digunakan orang-orang untuk bersantai. Luthfi menambahkan, Satoegaris jilid 2 sangat diharapkan ada di kemudian hari menjadi annual event kebudayaan dan didukung oleh lebih banyak lagi perupa-perupa muda Sulawesi UtaraSemoga inisiasi ini bisa terjalankan kembali, ya!


Penulis: Christine

Rabu, 17 Agustus 2022

HUT RI KE-77: SOLIDARITAS HIMIKA SUKSES GELAR UPACARA BAWAH LAUT


Pengibaran Sang Saka Merah Putih
Foto: Julio/Inovasi

Pengibaran bendera bawah laut sudah menjadi kegiatan tahunan bagi Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (Himika Unsrat). Youth Center Kawasan Megamas, Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut) dipilih menjadi lokasi perayaan HUT ke-77 RI yang dilaksanakan pada pukul 10.00 WITA sampai selesai. Perayaan ini dihadiri oleh para dosen, mahasiswa/i, Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal), Polisi Air dan Udara (Polairud) serta siswa/i SMA di Manado turut meramaikan kegiatan tersebut.

Menurut ketua panitia, Clara Maria Fatti, pelaksanaan upacara dihadiri oleh ratusan peserta dan puluhan tim penyelam “peserta daratan itu sekitaran 300an dan untuk tim penyelam 77 orang sesuai dengan umur kemerdekaan Indonesia” ucapnya.

Clara juga menambahkan ada beberapa instansi yang turut bergabung dalam pengibaran bendera bawah laut, ”untuk yang ikut serta dalam penyelaman ada dari mahasiswa Ilmu Kelautan, Alumni, Dive Center, Dinas Kelautan dan Perikanan. Mereka juga menjadi sebagian sponsor kegiatan ini.”

Penyelam Wanita Membawa Bendera Merah Putih
Foto: Julio/Inovasi

Salah satu mahasiswa Ilmu Kelautan, Nadine Mamangkey, bertugas sebagai pembawa bendera merah putih mengungkapkan perasaan bahagia walapun ada sedikit tantangan dari darat ke laut.

“Pertama kali turun itu senang, semangat juga. Sedikit gugup karena jarak dari sini ke tiang bendera itu lumayan jauh,” ujarnya.

Nadine mengingatkan kepada generasi selanjutnya agar tetap solid dalam melaksanakan kegiatan ke depannya, “untuk tahun-tahun selanjutnya dalam melaksanakan upacara bendera bawah laut semoga semakin semangat, cinta tanah air, selalu tumbuh dan pertahankan solidaritas agar acara-acara seperti ini dapat dilaksanakan dengan baik,” tambahnya.

Tim Penyelam Pengibaran Bendera Bawah Laut
Foto: Itin/Inovasi

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Unsrat, Dr. Roike Iwan Montolalu S.Pi., M.Sc., menyampaikan terima kasih kepada beberapa instansi yang telah memberikan dukungan dan bantuan sehingga  kegiatan upacara bendera bawah laut ini dapat berjalan mulus.

“Kegiatan ini, karena ada dukungan penuh dari Lantamal, kemudian dari Polairud, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulut, Dive Center yang ada di Sulawesi Utara yang telah menopang penuh dan membantu mengirimkan personil untuk kegiatan upacara ini,” ungkapnya.

Penulis: Ryan

 

Rabu, 25 November 2020

Peran Guru Bagi Anak Indonesia




Waktu berjalan dengan sangat cepat, tak terasa kini kita semua memperingati Hari Guru Nasional (HGN) lagi yang jatuh pada tanggal 25 November 2020. Namun, seperti isi pidato Menteri Kebudayaan dan Pendidikan, Nadiem Makarim, tahun ini kita memperingati Hari Guru Nasional dengan situasi berbeda. Dimana, adanya pandemi covid-19 yang membuat upacara bendera tidak dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia.

Begitu juga dengan kegiatan belajar dan mengajar yang mengharuskan kita untuk teteap tinggal dari rumah. Mengerjakan tugas, praktikum dan belajar mandiri dilakukan secara daring dengan sistem pembelajaran jarak jauh. Menurut UNESCO dari data yang didapatkan lebih dari 90% atau di atas 1,3 miliar siswa global harus belajar dari rumah. 

Akibatnya, guru dan siswa dituntut untuk bisa melakukan pembelajaran dengan sistem tersebut. Namun, kenyataan masih banyak siswa dan murid yang masih memiliki keterbatasan dengan fasilitas belajar daring yang bisa dibilang lumayan mahal.

Hal ini, menyebabkan tugas dan tanggung jawab guru semakin rumit dibandingkan biasnya. Guru harus berani keluar rumah untuk memberikan tugas kepada siswa yang tidak memiliki fasilitas, harus memperbanyak jatah pengunaan internet, memberi dan mngerjakan tugas dari alat elektronik seperti yang kita ketahui bahwa tingkat radiasi untuk kesehatan mata sangat tinggi.

Akan tetapi melihat ketidaknyaman dan kerisihan yang ada, pemerintah terlebih khusus kementerian kebudayaan dan pendidikan berusa untuk mengurangi beban guru yang semakin meningkat akibat adanya pandemi ini. Dengan memberikan sejumlah jatah internet yang harus digunakan untuk pembelajaran oleh siswa dan guru di Indonesia. 

Peran guru di Indonesia sangatlah penting bahkan keberadaan guru sangat dijunjung tinggi di Negara kita. Sejak masa Kolonial Belanda, Penjajahan Jepang hingga saat ini. Hingga berdirinya komunitas guru. 

Mulanya, organisisai Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan sejak tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Kemudian pada tahun 1932 berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Namun, pada saat Jepang masuk ke Indonesia PGI sangat dilarang untuk beroperasi. 

Hingga setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Kongres Guru Indonesia pada 24-25 Nobember 1945 di Surakarta. Dalam kongres tersbut dibentuklah organisasi PGRI untuk mewadahi semua guru yang ada di Indonesia. Kurang lebih 50 tahun kemudian pemerintah Republik Indonesia menerbitkan Keputusan Presiden No. 78 Tahun 1994, yang isinya menetapkan berdirinya PGRI sekaligus Hari Guru Nasional.

Dari sejarah singkat ini, kita belajar bahwa peranan guru untuk mewujudkan salah satu tujuan Negara Indonesia tercantum dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dengan ilmu dan pengetahuan yang mereka dapatkan di luar maupun di dalam negeri. 


Penulis : Milah Shofiyati



Selasa, 24 November 2020

Jaga Tradisi dan Kebersamaan Lewat Panganan

 

(Foto/Anasrullah : Bahan-Bahan Tumpeng Serakat Kampung Cungking)
Foto/Anasrullah : Bahan-Bahan Tumpeng Serakat Kampung Cungking

“Pangan tak pernah lepas dari manusia, alam dan juga pencipta.”

Hari itu Wiwin Indrianti kembali mengikuti rangkaian Slametan Kampung Amin Pikin di Desa Cungking, Banyuwangi. Ini adalah salah satu ritual yang dilakukan oleh masyarakat Using setiap bulan haji di minggu pertama setelah hari raya Idul Adha untuk selametan bersih desa.

Hal ini yang membuat perwakilan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara PD Using ini sangat tertarik mempelajari jenis-jenis panganan yang digunakan saat ritual adat masyarakat Using. Ada tanggung jawab yang dirasakan Wiwin untuk mencari tahu dan memberikan edukasi terkait budaya, adat, dan tradisi masyarakat Using. Terutama hal-hal yang berhubung dengan panganan.

 “Saya seperti punya kontrak dengan diri sendiri bahwa saya akan melestarikan, mendokumentasikan adat tradisi Using yang bagian dari diri saya sendiri,”  kata  Wiwin.

Ternyata ragam jenis panganan ini tidak hanya sekadar pelengkap ritual. Ada makna yang mengikuti penggunaan ragam panganan ini. Dalam bukunya yang berjudul Olah Rasa Ujung Timur Jawa, Wiwin menuliskan bahwa makanan-makanan ini memainkan peran penting dalam religi, ritual, dan kepercayaan masyarakat Banyuwangi sebagai Using.

“Tidak sekadar untuk nutrisi tubuh, tapi juga bentuk penghormatan pada leluhur,” ungkapnya.

Kebiasaan makan bersama di akhir ritual yang kerap dilakukan juga menjadi sarana dalam menjaga hubungan antara manusia melalui panganan. Ini juga secara tidak langsung menunjukkan simbol hubungan lekat antara manusia dan tanah sebagai ruang hidup.

“Selalu diakhiri dengan acara makan bersama tiap ritual, sesederhana apapun itu,” terangnya.

Makanan Diganti, Makna Tetap Sama

Ada hal unik dan khusus yang kerap dilakukan oleh Wiwin tiap mengikuti ritual adat. Melihat ragam macam panganan di nampan-nampan sesaji yang digunakan saat ritual. Suatu waktu ia menemukan bahwa satu jenis pangan tidak terlihat. Kali lain, jenis pangan lainnya sudah tergantikan.

“Saya selalu catat jenis makanan apa saja yang ada dan tidak, jadinya sadar dan ingat,” kenangnya.

Misalnya, dalam Slametan Kampung Amin Pikin di Cungking yang dilakukan setiap minggu pertama setelah Idul Adha. Ada beberapa jenis makanan di dalam tumpeng serakat yang terpaksa diganti. Macam-macam alasannya, seperti kecocokan tanah, musim tanam dan panen hingga kondisi kesuburannya saat itu.

“Seperti labu siam putih jadi hijau. Terong putih jadi hijau. Ini bisa jadi pengganti yang penting warnanya tidak begitu jauh berbeda,” tambahnya.

Dari cerita Wiwin dapat diketahui bahwa tiap panganan yang digunakan saat ritual disiapkan secara khusus oleh beberapa orang Mbah (nenek). Kelompok pemasak ini yang selalu memasak kebutuhan pangan ritual di desa.

Selain karena kondisi alam, beberapa hal yang disampaikan Wiwin juga menjadi penyebab pergantian bahan-bahan panganan tersebut juga ada beragam. Seperti perubahan kondisi lahan yang berubah mempersempit area tanam sehingga harus mencari beberapa jenis tanaman jauh luar desa. Langkanya keberadaan jenis tanaman dan makanan lokal juga menjadi alasan selanjutnya.

Meski begitu, menurut Dosen di Universitas Negri PGRI Banyuwangi ini, sekalipun jenis panganan itu berubah, tidak ada makna di dalam ritual yang berubah. Sekalipun dalam upaya mengumpulkan tanaman dan makanan yang dibutuhkan sedikit lebih sulit.

“Semoga bahan-bahan itu bisa lebih mudah ditemukan seperti dulu,” harapnya.

Yang terpenting bagi Wiwin tetaplah panganan dalam ritual ini menjadi wadah untuk menunjukkan penghormatan, menjaga relasi manusia dengan Tuhan, dan sesama manusia.

(Foto/Anasrullah : Foto Makanan Ritual Dusun Andong)
(Foto/Anasrullah : Foto Makanan Ritual Dusun Andong)

Edukasi untuk Pelestarian

Menerbitkan buku yang berisi informasi terkait jenis-jenis makanan yang digunakan saat ritual masyarakat Using adalah cara yang Wiwin pilih. Ia ingin agar informasi terkait panganan saat ritual ini tetap dapat diserap dengan baik oleh kalangan muda.

“Jadi, makna-maknanya tidak putus di generasi yang lebih tua. Tetap dapat diturunkan,” ceritanya.

Seperti Sego Golong yang menyimbolkan sembilan lubang badan manusia atau hawa nafsu sehingga harus dijaga agar hidup lebih tentram. Bisa juga disebut jalan pengabdian kepada Sang Maha Pencipta untuk keselamatan hidup.

Atau ritual Tumpeng Sewu dalam prosesi ritual adat bersih desa. Tiga jenis tumpang disediakan di awal untuk masing-masing jenis ritual dan di akhir tiap keluarga menyediakan Tumpeng Pecel Pitik.

Oleh karena itu bagi Wiwin penting untuk masyarakat Using mendapat edukasi terkait apa itu sebenarnya Using, ritualnya apa saja, termasuk panganan dan makna apa saja yang ada di tiap ritual.

”Saat pertanyaan begitu datang dari orang Using sendiri, ini sangat memprihatinkan,” tambahnya.

Karena itu jugalah Venedio Nala Ardisa meletakkan ketertarikannya pada budaya Using. Sebagai pemuda Using, ia aktif di Komunitas Milenial Mocoan Lontar Yusup dan Barisan Pemuda Adat Nusantara. Sejak kecil ia juga sudah mengikuti banyak ritual masyarakat di desanya. Ia juga kerap memerhatikan jenis makanan apa saja yang digunakan saat ritual. Kadang ia juga menyadari bahwa beberapa jenis panganan tidak ada atau digantikan dengan makanan lain.

“Seperti makan nasi goreng tapi ndak pake kerupuk,” katanya sambil tertawa.

Lewat memperhatikan hal tersebut Dio menjadi tahu jenis-jenis bahan pangannya apa saja yang ada dan berubah dalam makanan ritual, setelah bergabung dengan paguyuban dan mengikuti pelatihan yang  diinisiasi Wiwin soal olah rasa makanan ritual ia jadi tahu lebih dalam lagi.

(Foto/Anasrullah : Kegiatan Pengenalan Kembali Makanan-Makanan Ritual yang Dilakukan Wiwin)
(Foto/Anasrullah : Kegiatan Pengenalan Kembali Makanan-Makanan Ritual yang Dilakukan Wiwin) 

Romo Catur dan Usaha Mempertahankan Makanan Lokal

Tiburtius Catur Wibawa, atau Romo Catur, begitu ia dikenal oleh masyarakat luas. Ia yang menjabat sebagai Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Malang ini juga memiliki caranya sendiri dalam menjaga eksistensi panganan lokal.

Griya Ekologi Kelir (GEK) di Banyuwangi awalnya digunakan untuk tempat SMA Katolik Hikmah Mandala namun kini digunakan juga tempat kunjungan wisatawan. Pemilihan beberapa rumah adat Using sebagai bangunan rumah juga sebagai symbol untuk melestarikan budaya.

Dipilih sekaligus untuk melestarikan budaya nenek moyang kita untuk dirawat, dijaga, dan dilestarikan,” jelas Romo Catur.

Untuk menu makanan yang disajikan di GEK, Romo Catur bercerita bahwa mereka menyajikan makanan lokal Banyuwangi. Jenisnya beragam, mulai dari kue cucur, lapet ketan dibungkus daun kelapa, awuk atau iwek-iwek. Tujuannya untuk pengenalan tradisi dan kebudayaan di sana.

"Yang lama mereka tidak menikmati makanan tersebut mereka bisa menikmati, untuk tetap juga menjaga supaya lestari," tutur Romo Catur.

Selain makanan ringan, tersaji juga makanan berat tradisional seperti Pecel Pitik. Pecel Pitik adalah makanan khas masyarakat Using berupa ayam panggang bumbu kepala dicampur rempah-rempah dan ditambah sedikit air kelapa atau nasi tempong.

Romo Catur juga bercerita bahwa proses pembuatan makanan ini juga secara tidak langsung membentuk interaksi yang menggiring pada tenggang rasa antar umat beragama. Pekerja yang rata-rata adalah Muslim tetap menjalin hubungan baik dengan jemaat gereja Katolik itu.

"Kalau kekurangan tenaga tambahan maka melibatkan warga sekitar juga,” ujarnya.

Wiwin sepakat bahwa hubungan antarmanusia yang terjaga itu juga dapat dilakukan dengan media makanan. Tumpukan jenis makanan yang kerap digunakan saat tradisi. Rasa syuku kepada Pencipta dan kebersamaan antarsesama.

“Sekalipun banyak bahan makanan yang sulit ditemukan lagi, ini tetap dapat menunjukkan betapa berdayanya masyarakat adat dalam ketahanan pangan,” tutupnya.

(Foto/Wibawa Catur : Suasana Griya Ekologi Kelir)
(Foto/Wibawa Catur : Suasana Griya Ekologi Kelir)

Sabtu, 21 November 2020

Mengenal Sosok Julius Sterling Morton


Pixabay.com

Siapa yang tidak mengenal seorang  Julius Sterling Morton?

Hmm.... Mungkin, banyak dari kalian yang bertanya-tanya siapa sosok Julius ini

Julius Sterling Morton adalah seorang Aktivis Lingkungan yang berasal dari Amerika Serikat. Seorang yang pertama kali mencetuskan tanggal 21 November adalah Hari Pohon Sedunia atau biasa disebut dengan Arbor Day, semasa hidupnya dia yang selalu berperan dalam mengkampanyekan gerakan menanam pohon.

Diawal karirnya, dia adalah seorang editor surat kabar lokal kemudian dia menjadi sekretaris agrikultur di masa Presiden Grover Cleveland, sempat juga menjabat sebagai Gubernur Nebraska pada Tahun 1858-1859.

Morton membangun rumah besar dengan 30 kamar. Putranya, Joy, mengembangkannya menjadi rumah besar dengan 52 kamar yang mirip dengan Gedung Putih di tempat yang sekarang menjadi Taman Bersejarah Negara Bagian Arbor Lodge di Kota Nebraska. Di perkebunan sekitarnya, Morton memanjakan daya tariknya dengan pepohonan, menanam banyak jenis tumbuhan langka dan pohon apel pusaka. Morton adalah  Seorang yang sangat dihormati sebagai seorang petani, Morton berusaha untuk mengajari orang-orang teknik pertanian dan kehutanan modern.  Di antara pencapaiannya yang paling signifikan adalah berdirinya Arbor Day.

Hari Pohon Sedunia adalah hari libur dimana kita dihimbau untuk menanam banyak pohon. Kata arbor diambil dari bahasa latin yang berarti pohon. Biasanya hari pohon ini ada di hari-hari musim semi dan tiap negara tanggalnya bervariasi. Ini tergantung iklim dan musim tanam di tiap negara.

Arbor Day, pertama kali diusulkan oleh Morton pada 4 januari 1872 saat rapat dewan pertanian  dan dirayakan secara resmi pada tanggal 10 April 1872. Perayaan pertama di Nebraska berlangsung meriah dan bagi mereka yang menanam pohon paling banyak akan diberikan penghargaan.

Di Nebraska sendiri telah dibentuk sebuah Yayasan Hari Pohon yang bergerak dibidang edukasi dan konservasi lingkungan. Organisasi ini merupakan organisasi nonprofit terbesar yang didirikan John Rosenow di Nebraska, Amerika Serikat. Tujuan didirikan Yayasan tersebur agar dapat menginspirasi masyarakat dalam menanam pohon dan memberikan tingkat kepedulian yang tinggi dalam  menanam pohon agar mereka sadar bahwa pohon merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Ada sebuah kutipan yang berbunyi

Jika kau merawat aku hari ini artinya kau menyiapkan kehidupanmu 20 tahun ke depan”

 

“Aku tercipta untukmu wahai manusia, rawat dan jagalah agar kamu tetap hidup”

Selamat Hari Pohon Sedunia!


Penulis: Adinda Larasati