Rabu, 09 April 2014

Liputan Perjalanan-Mitos Legenda Gunung Api Bromo ‘Rara Anteng dan Joko Seger’

Legenda gunung Bromo berkaitan dengan legenda Kawasan Tengger. Menurut legenda, pada akhir abad 15, seorang putri keturunan kerajaan Majapahit, Rara Anteng, menikah dengan joko Seger. Nama Tengger merupakan perpaduan dari akhir nama Rara Anteng (Teng) dan Joko Seger (Ger).
Setelah beberapa lama, pasangan tersebut berumah tangga, belum juga dikaruniai keturunan kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada yang maha Kuasa agar dikaruniai keturunan. Permintaan mereka akhirnya dikabulkan dengan syarat anak bungsu harus dikorbankan ke dalam kawah Bromo.
gambar ilustrasi didapat dari Museum Merapi, Jogjakarta
Setelah pasangan tersebut menyanggupinya, didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya, sehingga Rara Anteng dan Joko Seger ingkar janji. Dewa menjadi marah, kemudian terjadilah prahara. Keadaan menjadi gelap gulita, kawah gunung Bromo menyemburkan api. Anak bungsunya bernama Raden Kesuma lenyap dari pandangan, dia terjilat api dan masuk ke kawah Bromo. Bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib, “Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan sang Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram. Sembahlah sang Hyang Widi. Aku ingatkan kalian agar setiap bulan Kasada yang ke-14, mengadakan sesaji berupa buah-buahan, sayuran, bunga, dan binatang piaraan, kepada Sang Hyang Widi di kawah gunung Bromo.”
Cerita tersebut didapatkan dari tulisan serta gambar yang dipamerkan dalam Museum gunung Merapi. Kru Inovasi berkunjung ke Museum Merapi pada Selasa, 08 Maret 2014, sehari sebelum pesta Pemilu diadakan serentak seluruh Indonesia. (dd)

0 komentar:

Posting Komentar