Disini Minoritas dihargai dan menghargai
Belum genap dua tahun
saya berada di kota (Manado) ini, pandangan saya terhadap masyarakat disini,
menyangkut keberanekaragaman agama yang diyakini kepada setiap masing-masing
umat beragama sangat luar biasa, begitu terasa kebersamaan antar umat beragama
disini, masyarakat sangat antusias menghargai perayaan setiap umat beragama,
beberapa contoh, seperti, perayaan Natal tahun lalu, nampak saudara Muslim
turut mengamankan/menjaga berlangsungnya ibadah Natal di setiap gereja, agar
tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, akibat isu-isu miring yang beredar
di negri tercinta ini, saat itu. Dan beberapa bulan lalu disaat hari raya
Imlek, dimana saudara umat Buddha salah satu kaum minoritas di Manado,
merayakan Imlek dengan penuh sukacita, sehingga tidak ada tekanan dari dalam
diri untuk merayakan hari kebesarannya, acara pun berjalan khusyuk.
Realitas juga terjadi
pada saat menyambut hari raya Nyepi 1936 tahun baru Saka yang dilakukan saudara
kita umat Hindu, minggu (30/3) kemarin di sekitaran lapangan Tikala, pemeluk
agam Hindu yang bisa dikategorialkan paling minoritas di Indonesia bahkan di
Manado. Siang itu, melakukan upacara pawai Ogoh-ogoh sebagai penyambutan hari
raya Nyepi, terlihat beberapa umat Hindu menggotong dua patung Ogoh-ogoh
berjalan mengelilingi lapangan Tikala, setelah mengelilingi dua patung
Ogoh-ogoh pun di taruh di tengah lapangan Tikala lalu di bakar, ‘diyakini’
dengan membakar patung Ogoh-ogoh tersebut fungsinya untuk menolak semua hal-hal
yang jahat.
Beruntung, keberadaan
saya di Manado, pertama kalinya saya melihat penyambutan hari raya Nyepi
disini. Dikatakan beruntung, karena ini juga merupakan pertama kalinya acara
ibadah upacara ini berlangsung di Manado. “sepertinya pertama kalinya umat
Hindu merayakan penyambutan hari Nyepi di Manado” ujar Donny warga Tingkulu
yang niatnya pulang, tak sengaja lewat Tikala dari arah pasar 45 ternyata ada
acara ini, dan dia pun tak mau melewatkan acara ini. Menarik, sebagai warga
saya tidak sendiri, beberapa warga setempat pun begitu antusias menyaksikan
serta mensukseskan acara ini. Dan ini bukti nyata kebersamaan antar umat
beragama di Manado, tidak ada istilah minoritas mayoritas, mungkin di pandang
sebelah mata. SI TOU TU MOU TOU / BHINEKA TUNGGAL IKA adalah slogan dari
propinsi Sulawesi Utara dan negara Indonesia, yang benar-benar diterapkan pada
warga masyarakat Sulut. Saya salut pada Sulut dan kita patut menjaga tradisi
positif ini.
MFR
0 komentar:
Posting Komentar