Selasa, 01 April 2014

Menyambut perayaan Nyepi



Disini Minoritas dihargai dan menghargai

Belum genap dua tahun saya berada di kota (Manado) ini, pandangan saya terhadap masyarakat disini, menyangkut keberanekaragaman agama yang diyakini kepada setiap masing-masing umat beragama sangat luar biasa, begitu terasa kebersamaan antar umat beragama disini, masyarakat sangat antusias menghargai perayaan setiap umat beragama, beberapa contoh, seperti, perayaan Natal tahun lalu, nampak saudara Muslim turut mengamankan/menjaga berlangsungnya ibadah Natal di setiap gereja, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, akibat isu-isu miring yang beredar di negri tercinta ini, saat itu. Dan beberapa bulan lalu disaat hari raya Imlek, dimana saudara umat Buddha salah satu kaum minoritas di Manado, merayakan Imlek dengan penuh sukacita, sehingga tidak ada tekanan dari dalam diri untuk merayakan hari kebesarannya, acara pun berjalan khusyuk.

Realitas juga terjadi pada saat menyambut hari raya Nyepi 1936 tahun baru Saka yang dilakukan saudara kita umat Hindu, minggu (30/3) kemarin di sekitaran lapangan Tikala, pemeluk agam Hindu yang bisa dikategorialkan paling minoritas di Indonesia bahkan di Manado. Siang itu, melakukan upacara pawai Ogoh-ogoh sebagai penyambutan hari raya Nyepi, terlihat beberapa umat Hindu menggotong dua patung Ogoh-ogoh berjalan mengelilingi lapangan Tikala, setelah mengelilingi dua patung Ogoh-ogoh pun di taruh di tengah lapangan Tikala lalu di bakar, ‘diyakini’ dengan membakar patung Ogoh-ogoh tersebut fungsinya untuk menolak semua hal-hal yang jahat. 

Beruntung, keberadaan saya di Manado, pertama kalinya saya melihat penyambutan hari raya Nyepi disini. Dikatakan beruntung, karena ini juga merupakan pertama kalinya acara ibadah upacara ini berlangsung di Manado. “sepertinya pertama kalinya umat Hindu merayakan penyambutan hari Nyepi di Manado” ujar Donny warga Tingkulu yang niatnya pulang, tak sengaja lewat Tikala dari arah pasar 45 ternyata ada acara ini, dan dia pun tak mau melewatkan acara ini. Menarik, sebagai warga saya tidak sendiri, beberapa warga setempat pun begitu antusias menyaksikan serta mensukseskan acara ini. Dan ini bukti nyata kebersamaan antar umat beragama di Manado, tidak ada istilah minoritas mayoritas, mungkin di pandang sebelah mata. SI TOU TU MOU TOU / BHINEKA TUNGGAL IKA adalah slogan dari propinsi Sulawesi Utara dan negara Indonesia, yang benar-benar diterapkan pada warga masyarakat Sulut. Saya salut pada Sulut dan kita patut menjaga tradisi positif ini.
MFR

0 komentar:

Posting Komentar