Minggu, 12 Mei 2013

PK2MB Dari Kaca Mata Maba

Salah satu kegiatan mahasiswa baru (Acel)
Memasuki dunia kampus merupakan harapan sebagian besar masyarakat Indonesia, walaupun tidak semua orang bisa menikmati pendidikan ditingkatan ini.
Mereka menilai memasuki dunia kampus adalah suatu cara untuk melompat ke tingkatan yang lebih tinggi, baik itu dari kaca mata pendidikan ataupun status sosial.
Bagi Yulius Abbas, mahasiswa baru (maba) Jurusan Ilmu Pemerintahan, memasuki dunia kampus merupakan suatu alasan untuk menjadi seorang pemimpin yang bermoral dengan proses yang panjang dan tidak mudah tentunya.
Lain halnya dengan Jezhinta, mahasiswi baru yang terdaftar di Fakultas Sastra ini, baginya, mahasiswa adalah suatu tingkatan yang lebih tinggi dalam menuntut ilmu untuk mencapai cita-cita.
Melalui kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru, Ia menilai  banyak sisi positif didalamnya, baik itu kekeluargaan antara senior dengan junior maupun pelajaran berharga yang didapat dari kegiatan ini.
“Dapat mengenali kehidupan kampus dan memperoleh banyak pengetahuan, walaupun sering tertekan dengan tindakan senior-senior,” jelas mahasiswi yang akrab dipanggil jesi.
Sedangkan menurut Sandy Randang, yang menjadi ‘jendral’ mahasiswa baru Fisip Unsrat, perasaan terkesan saat mengikuti PK2MB tak bisa dihindari, melalui kegiatan ini banyak teman baru yang ia dapatkan.
Sebagai mahasiswa yang mengikuti PK2MB sandy mengharapkan Unsrat bisa meningkatkan kualitas dalam bersosialisasi ke sekolah-sekolah, agar dapat meningkatkan daya tarik mahasiswa untuk masuk ke Universitas ini.
Pendapat berbeda muncul dari Dirham Van Rate, Mahasiswi jurusan ilmu komunikasi melihat PK2MB dari dua sisi, positif dan negatif. Sisi positif kegiatan ini, menurut Dirham, bisa dilihat dari pengetahuan tentang kehidupan kampus, mendapat banyak teman dan mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan.
Namun, Dirham melihat sisi negatif PK2MB dari tindak kekerasan yang sering terjadi didalamnya. Perkelahian yang tak terhindarkan antara senior dan junior merupakan “nilai merah” dari kegiatan tahunan ini.
Ia menyesali tindakan senior yang sering mengucapkan kata-kata kotor dalam melakukan pembinaan kepada mahasiswa baru. Sadar atau tidak ini sangat mempengaruhi psikologi dari mahasiswa baru, jelasnya.
“Wah, senior-senior bisa berkata kotor. Kita (Junior) juga boleh donk,” ungkap Dirham.
Kedepannya, Dirham berharap senior bisa memberikan contoh positif bagi mahasiswa baru, sehingga tujuan dari ospek bisa tercapai.
“Jangan merasa diri sebagai senior, jika belum bisa memberi contoh positif bagi mahasiswa baru,” pungkas Dirham. (Andro/Reinhard/Rendy/Themmy)

0 komentar:

Posting Komentar