Oleh: Tamara
Maninggir
Hujan
baru saja membasahi tanah. Sore itu, saya duduk di salah satu angkutan umum
jurusan Pasar 45-Sario kampus. Setengah termenung, sambil memandangi hujan.
Tiba-tiba dikagetkan suara hentakan keras di dekatku disusul cacian dan sumpah
serapah. Mataku kualihkan ke sekeliling, Nampak dari kaca jendela angkot,
seorang bapak yang berusia sekitar empat puluhan, mengenakan jaket usang, masih
mengenakan helm bersama seorang perempuan paruh baya, serta anak kecil yang
duduk terapit di tengah Bapak dan Ibu ini. Meskipun hujan masih mengguyur,
terlihat jelas wajah merah si pengendara motor itu menahan amarah. Motor yang
dikendarai si Bapak melaju beriringan dengan mobil angkutan umum jurusan Pasar
45-Malalayang. Kondisi jalan yang berlubang dan hujan menyebabkan genangan air
di beberapa titik seputaran jalan Boulevard. Pas di depan salah satu pusat
perbelanjaan di Manado, Angkutan Umum tersebut masuk ke salah satu titik lubang
alhasil mencipratkan genangan air ke motor yang berada di sampingnya, si Bapak,
Ibu beserta anak kecil tadi.
Perasaan
iba melihat insiden itu, kondisi tubuh yang basah kuyup apalagi melihat wajah
polos anak kecil itu yang menggigil kedinginan. Mungkin besok dia harus
sekolah, atau harus menikmati masa kecilnya, bermain bersama teman-temannya.
Peristiwa yang dialaminya hari ini bisa saja membuatnya absen melakukan
kegiatan itu. “saya harap dia tidak sakit”
Wajah
amarah si Bapak, bisa saja karena sesal untuknya, yang menganggap tak bisa
melindungi dua perempuannya dari insiden kecil seperti ini atau bisa saja
amarah yang tak jelas ditujukan ke siapa.
Peristiwa
sore ini adalah cerminan kondisi sosial Manado, kondisi jalanan sempit dan
berlubang, salah satu potret fasilitas umum di Kota yang digadang-gadang
menjadi Kota Model Ekowisata ini. Bapak paruh baya itu, adalah masyarakat kota
manado, dan keluhan mereka haruslah didengar pemerintah yang berlindung dibalik
mobil mewah ber-Ac tanpa takut kena hujan, maupun panas.
Mungkin
yang menjadi catatan, letupan-letupan amarah sore itu dapat menimbulkan
kesadaran baru di benak si Bapak. Kesadaran akan kondisi jalanan kotanya yang
buruk hingga memicu pertanyaan tentang aliran dana pajak yang rutin
dibayarkannya tiap tahun. Kemana dana itu, jika fasilitas umum tak bisa
dinikmati masyarakat dengan baik? Dan akhirnya, pertanyaan-pertanyaan ini mengalir
bersama rintikan hujan di tanah, bermuara hingga nanti menjadi aliran air yang
besar dan tak dapat dibendung.
Amarah
hari ini jika tak mampu diselesaikan pemerintah, bisa saja memancing letupan
amarah yang lain. Dan akhirnya, memicu pertanyaan-pertanyaan baru yang
menyangsikan kinerja pemerintah.
0 komentar:
Posting Komentar