Senin, 03 Juni 2013

Cipratan di depan Mega-Mall Manado

Oleh: Tamara Maninggir

Hujan baru saja membasahi tanah. Sore itu, saya duduk di salah satu angkutan umum jurusan Pasar 45-Sario kampus. Setengah termenung, sambil memandangi hujan. Tiba-tiba dikagetkan suara hentakan keras di dekatku disusul cacian dan sumpah serapah. Mataku kualihkan ke sekeliling, Nampak dari kaca jendela angkot, seorang bapak yang berusia sekitar empat puluhan, mengenakan jaket usang, masih mengenakan helm bersama seorang perempuan paruh baya, serta anak kecil yang duduk terapit di tengah Bapak dan Ibu ini. Meskipun hujan masih mengguyur, terlihat jelas wajah merah si pengendara motor itu menahan amarah. Motor yang dikendarai si Bapak melaju beriringan dengan mobil angkutan umum jurusan Pasar 45-Malalayang. Kondisi jalan yang berlubang dan hujan menyebabkan genangan air di beberapa titik seputaran jalan Boulevard. Pas di depan salah satu pusat perbelanjaan di Manado, Angkutan Umum tersebut masuk ke salah satu titik lubang alhasil mencipratkan genangan air ke motor yang berada di sampingnya, si Bapak, Ibu beserta anak kecil tadi.
Perasaan iba melihat insiden itu, kondisi tubuh yang basah kuyup apalagi melihat wajah polos anak kecil itu yang menggigil kedinginan. Mungkin besok dia harus sekolah, atau harus menikmati masa kecilnya, bermain bersama teman-temannya. Peristiwa yang dialaminya hari ini bisa saja membuatnya absen melakukan kegiatan itu. “saya harap dia tidak sakit”
Wajah amarah si Bapak, bisa saja karena sesal untuknya, yang menganggap tak bisa melindungi dua perempuannya dari insiden kecil seperti ini atau bisa saja amarah yang tak jelas ditujukan ke siapa.
Peristiwa sore ini adalah cerminan kondisi sosial Manado, kondisi jalanan sempit dan berlubang, salah satu potret fasilitas umum di Kota yang digadang-gadang menjadi Kota Model Ekowisata ini. Bapak paruh baya itu, adalah masyarakat kota manado, dan keluhan mereka haruslah didengar pemerintah yang berlindung dibalik mobil mewah ber-Ac tanpa takut kena hujan, maupun panas.
Mungkin yang menjadi catatan, letupan-letupan amarah sore itu dapat menimbulkan kesadaran baru di benak si Bapak. Kesadaran akan kondisi jalanan kotanya yang buruk hingga memicu pertanyaan tentang aliran dana pajak yang rutin dibayarkannya tiap tahun. Kemana dana itu, jika fasilitas umum tak bisa dinikmati masyarakat dengan baik? Dan akhirnya, pertanyaan-pertanyaan ini mengalir bersama rintikan hujan di tanah, bermuara hingga nanti menjadi aliran air yang besar dan tak dapat dibendung.
Amarah hari ini jika tak mampu diselesaikan pemerintah, bisa saja memancing letupan amarah yang lain. Dan akhirnya, memicu pertanyaan-pertanyaan baru yang menyangsikan kinerja pemerintah.

0 komentar:

Posting Komentar