Minggu, 13 April 2014

Cerita Pendek: Pemaknaan hidup dari segelas kopi di jalanan Surabaya

Aku memaknai hidup dari segelas kopi panas; debu-debu jalanan; petikan gitar.
 Apa yang istimewa dari hidup, kalau bukan tentang pemaknaan akan setiap cerita yang terus saja berjalan tak kenal lelah – tak pernah berhenti.

Kopi – minuman yang berwarna pekat, hitam, disajikan dalam secangkir gelas. Sekilas tak menarik. Kita telah terbiasa dengan konstruksi warna sejak kecil – hitam itu tak pernah menarik. Namun, apa yang terkandung di balik rasanya. Pahit, manis, dan nikmat. Aku bukan penggila kopi. Dan aku belum memiliki sejarah yang panjang meminum kopi, ketimbang penikmat kopi yang berseliweran di sekitarku. Aku hanya memiliki cerita yang panjang dalam setiap sajiannya –di rumah kopi, angkringan, dan di jalanan.
            Perjalanan panjangku kali ini keluar dari zona kenyamananku – kotaku – menjajaki kota asing di luar sana, ribuan kilometer dari tempatku. Cerita ini dimulai dengan segelas kopi yang disajikan di kota panas itu, Surabaya. Aku tak meminum kopinya, hanya menatapmu, menikmati kopimu. Kau meneguknya pelan, jakunmu terlihat jelas bergerak, mengisyaratkan pelan-pelan airnya masuk ke dalam tenggorokanmu, lalu berdiam dalam perutmu – yang sedikit buncit itu. Tegukan berikutnya, kau sodorkan padaku. Aku menolak halus, lalu segera mengambil gelas yang berisi teh manis milikku, dan meminumnya. Aku merasakan tatapanmu untukku. Kau menikmatinya juga, bukan?
            Aku hampir lupa, sedari tadi kita belum berbincang – berkomunikasi secara verbal (maksudku lisan). Kita hanya saling menatap, tersenyum, meneguk minuman dari gelas kita masing-masing, tanpa menumpahkan kata. Aku ingin, kau membuka suaramu, lalu mengomentari wajahku yang manis, atau bersyukur pada waktu yang menghadiahi kita pertemuan indah ini. Aku ingin, kau begitu. Tapi kau tidak begitu. Kau memilih diam, mengambil gitar, dan menyanyikan lagunya Iwan Fals, Entah, sambil menatapku. Dadaku bergejolak, kau terlalu menarik – dan aku harus menolakmu.
            Berikutnya, adalah obrolanmu dengan mereka. Aku diam mendengarkan, mengamati. Aku melihat lalu-lalang orang, percikan debu di pinggiran gelas, atau serangga yang mencoba menghampiri kerumunan kita. Aku pernah mengalami yang seperti ini. Seorang pria gondrong yang membawaku ke dunianya –membuatku terasing di tengah mereka – ketika aku mulai terbiasa, lalu meninggalkanku. Cerita lama yang membuatku takkan mengulanginya lagi.
            Aku bicara tentang hati, tentang rasa. Di kota yang semuanya sibuk tak kenal waktu, aku merenung – mencoba mereka ulang setiap rasa yang coba kususun, kubangun, di atas fondasi yang bernama harapan. Harapan untuk menjalani hidup denganmu – seorang pria di kota lain yang mengikatkan komitmennya, denganku.
            Entah, aku tak berani menyebut ini cinta. Aku hanya melihat harapan padamu. Harapan untuk menjalani kotak masa depan denganmu. Tapi, ini bukanlah tentang cinta. Ini hanyalah seorang perempuan yang berharap pada sesuatu yang entah akankah terwujud. Aku tak percaya cinta lagi. Dalam hidup yang penuh dengan kepentingan, kemunafikan, kebohongan, masih adakah ketulusan. Di mataku, kalian para pria, sama saja. Tidak ada yang namanya cinta, semuanya hanya tentang kepentingan kalian yang berkutat pada nafsu, sex, kebanggaan, dan dominasi.
            Hidup memberiku banyak pelajaran. Bahwa kita tak boleh mempercayai pada segala yang kelihatan. Sajian-sajian waktu yang romantis, bisikan-bisikan ketulusan yang hampa, semuanya terlihat seperti asap yang mengepul sebentar, lalu menghilang. Getaran-getaran yang coba kau munculkan dengan menggantungkan peruntungan pada musik, puisi, dan sederet kata romantismu, kuakui, kadang berhasil. Tapi hanya sebentar, sayang. Kenyataan hidup belakangan ini lebih kuat mendominasi ketimbang bujuk rayumu yang terdengar sesat.
            Dari lesehan warung kopi yang berada di sisi kanan jalan kota Surabaya yang ramai, sepaket dengan petikan gitar, wajah misteriusmu, dan bayangan pria yang telah mengikatku di kota asalku, aku menikmati kopi yang hanya kupandangi – tanpa kusentuh. Hitam pekatnya mengajarkan aku bahwa hidup tidak hanya berwarna putih dan mudah ditafsirkan dari tembok-tembok rumah atau tumpukan buku di atas meja. Tapi hidup adalah tentang misteri yang dapat kau temui di jalanan pahit-manisnya. Aroma khas kopi, juga mengajarkanku untuk menajamkan penciuman agar segera membaui bau-bau tulang rusukku –yang entah disimpan Tuhan dimana. (dd)

0 komentar:

Posting Komentar