Aku
memaknai hidup dari segelas kopi panas; debu-debu jalanan; petikan gitar.
Apa yang istimewa dari hidup, kalau bukan
tentang pemaknaan akan setiap cerita yang terus saja berjalan tak kenal lelah –
tak pernah berhenti.
Kopi
– minuman yang berwarna pekat, hitam, disajikan dalam secangkir gelas. Sekilas
tak menarik. Kita telah terbiasa dengan konstruksi warna sejak kecil – hitam
itu tak pernah menarik. Namun, apa yang terkandung di balik rasanya. Pahit,
manis, dan nikmat. Aku bukan penggila kopi. Dan aku belum memiliki sejarah yang
panjang meminum kopi, ketimbang penikmat kopi yang berseliweran di sekitarku.
Aku hanya memiliki cerita yang panjang dalam setiap sajiannya –di rumah kopi, angkringan,
dan di jalanan.
Perjalanan panjangku kali ini keluar dari zona
kenyamananku – kotaku – menjajaki kota asing di luar sana, ribuan kilometer
dari tempatku. Cerita ini dimulai dengan segelas kopi yang disajikan di kota
panas itu, Surabaya. Aku tak meminum kopinya, hanya menatapmu, menikmati
kopimu. Kau meneguknya pelan, jakunmu terlihat jelas bergerak, mengisyaratkan
pelan-pelan airnya masuk ke dalam tenggorokanmu, lalu berdiam dalam perutmu –
yang sedikit buncit itu. Tegukan berikutnya, kau sodorkan padaku. Aku menolak
halus, lalu segera mengambil gelas yang berisi teh manis milikku, dan
meminumnya. Aku merasakan tatapanmu untukku. Kau menikmatinya juga, bukan?
Aku hampir lupa, sedari tadi kita belum berbincang –
berkomunikasi secara verbal (maksudku lisan). Kita hanya saling menatap,
tersenyum, meneguk minuman dari gelas kita masing-masing, tanpa menumpahkan
kata. Aku ingin, kau membuka suaramu, lalu mengomentari wajahku yang manis,
atau bersyukur pada waktu yang menghadiahi kita pertemuan indah ini. Aku ingin,
kau begitu. Tapi kau tidak begitu. Kau memilih diam, mengambil gitar, dan
menyanyikan lagunya Iwan Fals, Entah, sambil
menatapku. Dadaku bergejolak, kau terlalu menarik – dan aku harus menolakmu.
Berikutnya, adalah obrolanmu dengan mereka. Aku diam
mendengarkan, mengamati. Aku melihat lalu-lalang orang, percikan debu di
pinggiran gelas, atau serangga yang mencoba menghampiri kerumunan kita. Aku
pernah mengalami yang seperti ini. Seorang pria gondrong yang membawaku ke
dunianya –membuatku terasing di tengah mereka – ketika aku mulai terbiasa, lalu
meninggalkanku. Cerita lama yang membuatku takkan mengulanginya lagi.
Aku bicara tentang hati, tentang rasa. Di kota yang
semuanya sibuk tak kenal waktu, aku merenung – mencoba mereka ulang setiap rasa
yang coba kususun, kubangun, di atas fondasi yang bernama harapan. Harapan
untuk menjalani hidup denganmu – seorang pria di kota lain yang mengikatkan komitmennya,
denganku.
Entah, aku tak berani menyebut ini cinta. Aku hanya
melihat harapan padamu. Harapan untuk menjalani kotak masa depan denganmu.
Tapi, ini bukanlah tentang cinta. Ini hanyalah seorang perempuan yang berharap
pada sesuatu yang entah akankah terwujud. Aku tak percaya cinta lagi. Dalam
hidup yang penuh dengan kepentingan, kemunafikan, kebohongan, masih adakah
ketulusan. Di mataku, kalian para pria, sama saja. Tidak ada yang namanya
cinta, semuanya hanya tentang kepentingan kalian yang berkutat pada nafsu, sex,
kebanggaan, dan dominasi.
Hidup memberiku banyak pelajaran. Bahwa kita tak boleh
mempercayai pada segala yang kelihatan. Sajian-sajian waktu yang romantis,
bisikan-bisikan ketulusan yang hampa, semuanya terlihat seperti asap yang
mengepul sebentar, lalu menghilang. Getaran-getaran yang coba kau munculkan
dengan menggantungkan peruntungan pada musik, puisi, dan sederet kata
romantismu, kuakui, kadang berhasil. Tapi hanya sebentar, sayang. Kenyataan
hidup belakangan ini lebih kuat mendominasi ketimbang bujuk rayumu yang
terdengar sesat.
Dari lesehan warung kopi yang berada di sisi kanan jalan
kota Surabaya yang ramai, sepaket dengan petikan gitar, wajah misteriusmu, dan
bayangan pria yang telah mengikatku di kota asalku, aku menikmati kopi yang hanya kupandangi –
tanpa kusentuh. Hitam pekatnya mengajarkan aku bahwa hidup tidak hanya berwarna
putih dan mudah ditafsirkan dari tembok-tembok rumah atau tumpukan buku di atas
meja. Tapi hidup adalah tentang misteri yang dapat kau temui di jalanan
pahit-manisnya. Aroma khas kopi, juga mengajarkanku untuk menajamkan penciuman
agar segera membaui bau-bau tulang rusukku –yang entah disimpan Tuhan dimana.
(dd)

0 komentar:
Posting Komentar