Berjalan kemana saja kaki melangkah. Entah sudah berapa jauh aku
berjalan, aku sendiri tidak bisa mengingatnya. Yang aku ingat sudah tiga hari
belakangan ini belum ada satupun makanan mengisi perutku, yang aku ingat aku
belum mengganti pakaianku semenjak kepergian pertamaku dari rumah. Dan yang
paling—paling—paling ku ingat adalah hampir disepanjang perjalananku kudapati
pandangan aneh dari orang – orang disekelilingku juga panggilan asing serupa
nyanyian yang disenandungkan oleh anak – anak kecil yang mengikutiku dari
belakang.
gambar ilustrasi-sumber:www.google.com
|
“ Orang gila.. Orang gila… “
Orang
gila? Itukah namaku? Akupun lupa siapa namaku. Mungkin anak – anak kecil itu
sedang mencoba menyapaku dan mengajakku bermain bersama?
Tapi
mengapa mereka selalu lari saat ku hampiri? Padahal aku ingin sekali ikut
bernyanyi bersama, sekedar melakukan perayaan kecil – kecilan sebagai tanda
ucapan terimakasihku kepada mereka karena telah mengingatkan kembali siapa
namaku.
Dan
aku sungguh lelah berjalan, tanpa tujuan. Sendirian. Dan kesepian.
***
Hari ini aku tiba di tempat yang ramai dipenuhi dengan anak – anak,
sebuah taman yang terletak diujung jalan gang komplek. Mereka terlihat gembira,
berlarian kesana – kemari. Aku duduk sebentar tepat disebuah bangku yang berada
disitu. Ku istirahatkan sejenak ragaku. Seperti hari – hari sebelumnya
perjalananku tanpa tujuan.
Hari
ini genap sudah lima hari perutku berteriak keroncongan minta diisi. Aku tidak
tahu bagaimana cara mendapatkan makanan. Aku ingin makan lezat. Seorang bocah
kecil berlari kearahku , aku menatapnya bingung, baru kali ini ada anak kecil
yang tidak mengejekku juga lari ketika ku dekati. Ia membagikan sepotong
rotinya kepadaku.
“ om.. om.. ini..”
Aku
menerimanya tanpa malu – malu. Dengan rakus segera kuhabiskan. Dan bocah
perempuan itu tersenyum memandangiku seolah tahu aku sedang kelaparan. Sekali.
Terdengar
sebuah suara dari seberang memanggilnya
“ bella… “ ia berbalik
“ bella.. sini sayang. Jangan dekat
– dekat, itu orang gila.. “ katanya.
Raut
wajah ibu muda itu berubah menjadi tatapan gelik. Seolah melarang gadis kecil
yang kutebak adalah putrinya untuk mendekatiku. Apa salahku? Aku tidak berbuat
macam – macam terhadap Bella-nya. Aku tidak punya niat jahat sama sekali.
Sungguh. Aku bahkan ingin mengucap terimakasih padanya, tapi Bella keburu
pergi.
Seingatku,
aku juga pernah memiliki—ya—seorang ibu seperti wanita itu. Dan ibuku adalah
wanita yang baik hati. Tetapi aku lupa siapa dan dimana ia berada. Yang ku
ingat hanyalah.. hanya aku pernah punya. Itu saja.
***
Berat badanku
semakin menurun saja. Aku bingung dengan orang – orang disekitarku. Mengapa aku
selalu mendapatkan tatapan aneh dan perlakuan yang tidak mengenakkan dari
mereka? apa yang salah denganku? Dan anak – anak kecil itu, selalu saja
kudapati nyanyian “orang gila” disetiap aku tak sengaja bertemu. Namun, masih
seperti hari kemarin, mereka selalu saja lari terbirit saat ku hampiri. Ah,
sayang sekali, padahal aku ingin sekali ikut bernyanyi bersama mereka.
***
Sudah sekian lama aku berjalan, baru
kali ini aku tiba disuatu tempat yang dimana tak kudapati tatapan aneh dari
orang – orang disekelilingku. Sepanjang perjalanan tak kudapati bocah – bocah
yang mengikuti langkahku dibelakang sambil menyenandungkan nyanyian “orang
gila” seperti yang biasa ku dengar.
“ selamat datang, Herman.. “
Mereka memanggilku dengan nama “Herman”. Herman? Ya. Tidak buruk.
Aku menyukainya. Dan ku berikan senyum terbaikku untuk setiap siapa saja yang
ku temui di tempat ini.
Ingatanku
tiba – tiba sampai kepada gadis kecil bernama Bella yang memberikanku sepotong
roti di taman bermain kemarin. Semua orang yang berada di tempat ini seperti
Bella. Ya, maksudku, mereka ramah dan baik hati. Tidak mengolokku, ramah dan
baik hati, juga tidak takut saat ku hampiri.
Wajah
mereka berseri – seri dan bercahaya. Aku suka tempat ini. Ku putuskan untuk
menetap di tempat ini dan tidak berjalan lagi.
Mungkin,
Bella berasal dari sini. Nanti, aku akan mencoba untuk menemukannya dan
mengucapkan terimakasih yang tidak sempat ku ucapkan dulu.
Semua
orang berlalu lalang dengan gembira. Pakaian mereka bersih, juga wangi. Saling
melemparkan senyum satu sama lain. Aku penasaran dimana aku berada saat ini.
Seorang
lelaki tua lewat dihadapanku, ku hentikan ia sebentar.
“ Permisi pak, saya orang baru
disini. Sudah lama sekali saya berjalan, belum pernah saya temui tempat sebagus
dan seindah ini. Kalau saya boleh tahu, saya sedang berada dimana saat ini?”
“ Surga..” katanya. Ia tersenyum
kearahku. Senyuman paling ramah yang belum pernah ku temukan pada manusia
manapun. (red-Ino)

0 komentar:
Posting Komentar