Jumat, 11 April 2014

Herman Namaku

Berjalan kemana saja kaki melangkah. Entah sudah berapa jauh aku berjalan, aku sendiri tidak bisa mengingatnya. Yang aku ingat sudah tiga hari belakangan ini belum ada satupun makanan mengisi perutku, yang aku ingat aku belum mengganti pakaianku semenjak kepergian pertamaku dari rumah. Dan yang paling—paling—paling ku ingat adalah hampir disepanjang perjalananku kudapati pandangan aneh dari orang – orang disekelilingku juga panggilan asing serupa nyanyian yang disenandungkan oleh anak – anak kecil yang mengikutiku dari belakang.


gambar ilustrasi-sumber:www.google.com

            “ Orang gila.. Orang gila… “
Orang gila? Itukah namaku? Akupun lupa siapa namaku. Mungkin anak – anak kecil itu sedang mencoba menyapaku dan mengajakku bermain bersama?
Tapi mengapa mereka selalu lari saat ku hampiri? Padahal aku ingin sekali ikut bernyanyi bersama, sekedar melakukan perayaan kecil – kecilan sebagai tanda ucapan terimakasihku kepada mereka karena telah mengingatkan kembali siapa namaku.
Dan aku sungguh lelah berjalan, tanpa tujuan. Sendirian. Dan kesepian.
***
Hari ini aku tiba di tempat yang ramai dipenuhi dengan anak – anak, sebuah taman yang terletak diujung jalan gang komplek. Mereka terlihat gembira, berlarian kesana – kemari. Aku duduk sebentar tepat disebuah bangku yang berada disitu. Ku istirahatkan sejenak ragaku. Seperti hari – hari sebelumnya perjalananku tanpa tujuan.
Hari ini genap sudah lima hari perutku berteriak keroncongan minta diisi. Aku tidak tahu bagaimana cara mendapatkan makanan. Aku ingin makan lezat. Seorang bocah kecil berlari kearahku , aku menatapnya bingung, baru kali ini ada anak kecil yang tidak mengejekku juga lari ketika ku dekati. Ia membagikan sepotong rotinya kepadaku.
            “ om.. om.. ini..”
Aku menerimanya tanpa malu – malu. Dengan rakus segera kuhabiskan. Dan bocah perempuan itu tersenyum memandangiku seolah tahu aku sedang kelaparan. Sekali.
Terdengar sebuah suara dari seberang memanggilnya
            “ bella… “ ia berbalik
            “ bella.. sini sayang. Jangan dekat – dekat, itu orang gila.. “ katanya.
Raut wajah ibu muda itu berubah menjadi tatapan gelik. Seolah melarang gadis kecil yang kutebak adalah putrinya untuk mendekatiku. Apa salahku? Aku tidak berbuat macam – macam terhadap Bella-nya. Aku tidak punya niat jahat sama sekali. Sungguh. Aku bahkan ingin mengucap terimakasih padanya, tapi Bella keburu pergi.

Seingatku, aku juga pernah memiliki—ya—seorang ibu seperti wanita itu. Dan ibuku adalah wanita yang baik hati. Tetapi aku lupa siapa dan dimana ia berada. Yang ku ingat hanyalah.. hanya aku pernah punya. Itu saja.
***
            Berat badanku semakin menurun saja. Aku bingung dengan orang – orang disekitarku. Mengapa aku selalu mendapatkan tatapan aneh dan perlakuan yang tidak mengenakkan dari mereka? apa yang salah denganku? Dan anak – anak kecil itu, selalu saja kudapati nyanyian “orang gila” disetiap aku tak sengaja bertemu. Namun, masih seperti hari kemarin, mereka selalu saja lari terbirit saat ku hampiri. Ah, sayang sekali, padahal aku ingin sekali ikut bernyanyi bersama mereka.
***
            Sudah sekian lama aku berjalan, baru kali ini aku tiba disuatu tempat yang dimana tak kudapati tatapan aneh dari orang – orang disekelilingku. Sepanjang perjalanan tak kudapati bocah – bocah yang mengikuti langkahku dibelakang sambil menyenandungkan nyanyian “orang gila” seperti yang biasa ku dengar.
            “ selamat datang, Herman.. “
Mereka memanggilku dengan nama “Herman”. Herman? Ya. Tidak buruk. Aku menyukainya. Dan ku berikan senyum terbaikku untuk setiap siapa saja yang ku temui di tempat ini.
Ingatanku tiba – tiba sampai kepada gadis kecil bernama Bella yang memberikanku sepotong roti di taman bermain kemarin. Semua orang yang berada di tempat ini seperti Bella. Ya, maksudku, mereka ramah dan baik hati. Tidak mengolokku, ramah dan baik hati, juga tidak takut saat ku hampiri.
Wajah mereka berseri – seri dan bercahaya. Aku suka tempat ini. Ku putuskan untuk menetap di tempat ini dan tidak berjalan lagi.
Mungkin, Bella berasal dari sini. Nanti, aku akan mencoba untuk menemukannya dan mengucapkan terimakasih yang tidak sempat ku ucapkan dulu.
Semua orang berlalu lalang dengan gembira. Pakaian mereka bersih, juga wangi. Saling melemparkan senyum satu sama lain. Aku penasaran dimana aku berada saat ini.
Seorang lelaki tua lewat dihadapanku, ku hentikan ia sebentar.
            “ Permisi pak, saya orang baru disini. Sudah lama sekali saya berjalan, belum pernah saya temui tempat sebagus dan seindah ini. Kalau saya boleh tahu, saya sedang berada dimana saat ini?”
            “ Surga..” katanya. Ia tersenyum kearahku. Senyuman paling ramah yang belum pernah ku temukan pada manusia manapun. (red-Ino)

0 komentar:

Posting Komentar