Artikel
“Ilmiah” Untuk Inovasi, Terbitan Awal 2013
Dari Hard-Copy hingga On-line:
New Media, Identitas dan Pergerakan
(Majalah)Mahasiswa Inovasi Unsrat
Nono
S. A. Sumampouw
(Peneliti
Muda Yayasan Mar-In CRC Manado)
Pengantar
Masa modern ini, perkembangan
media dan mahasiswa bagaikan menjadi satu kepingan mata uang dengan dua sisi
yang berbeda. Artinya tidak bisa lagi dipisahkan sekalipun memiliki wajah
berbeda. Lewat media, pergerakan mahasiswa dan identitas mereka dimediasi. Melalui
media pula, ide serta gagasan yang diusung mendapat tempat untuk diutarakan.
Pada sisi satunya lagi, mahasiswa merupakan salah satu potensi penggerak
terbaik dari rantai bisnis media. Termasuk, media juga memanfaatkan berita
mengenai mahasiswa. Dengan begitu, memproduksi “barang jualan” atau komoditas
mereka.
Begitulah media dan mahasiswa
dalam ide, fantasi, imajinasi dan potensinya. Kemudian saling berseliweran
membentuk jaringan tak terpisahkan. Saling mempengaruhi pada satu sudut dan
dipengaruhi dalam sudutnya yang lain. Sehingga, tak bisa dipungkiri, kajian
mengenai relasi antara mahasiswa dan media, dalam isu-isu partikular menjadi
strategis untuk dibahas. Karena akan membawa pada pemahaman yang semakin
akumulatif, bertumpuk dan luas sehingga memperkaya wacana mengenai topik ini.
Konteks masa lalu Indonesia
telah mencatat, bagaimana para pemuda-pemuda pada masa-masa akhir pendudukan
Belanda dan memasuki awal kemerdekaan, terutama mereka yang disekolahkan
Belanda atas kebijakan politik etis, atas perjuangannya, dimediasi –salah
satunya- oleh surat kabar nasional dan macam-macam publikasi untuk menjadi
pahlawan nasional (Schreiner, 1997: 381-425).
Pada masa lebih kontemporer,
berdasar tulisan Sen dan Hill (2005), kita bisa menyaksikan, bagaimana media
telah mengambil peran yang sangat penting menyuarakan aspirasi mahasiswa untuk
menjatuhkan orde-baru. Termasuk menjadi penanda identitas golongan terpelajar
Indonesia. Lebih lanjut dijelaskan, pemanfaatan mereka terhadap new media, lewat berita internet dan opini
di web-blog untuk menggalang kekuatan,
simpati pergerakan, serta mencapai tujuan ideologi, waktu itu, telah memperoleh
keberhasilan yang pantas dan bersejarah.
Dalam perkembangan
majalah-majalah di Indonesia, pada akhir dekade 1980an hingga awal 1990an,
telah menandai berdirinya lembaga-lembaga pers mahasiswa tertua yang kemudian
hari berdinamika serta berevolusi menjadi salah alat pergerakan. Mereka yang
bergabung menjadi wartawan kampus, memperoleh pendidikan dasar jurnalisme untuk
memperoleh kartu identifikasi pers. Produk awalnya didominasi majalah dan
tabloid. Lewat isi berita, model pemberitaan, opini, modal operasional, gaya
hidup dan lingkungan sosialnya, teman-teman ini telah membentuk sebuah dunia
khas yang menegaskan identitas mereka.
Universitas Indonesia
atau UI memiliki lembaga pers mahasiswa bernama Suara Mahasiswa. UGM Yogyakarta
memiliki Balairung. Universitas Airlanggga Surabaya memiliki Suara Airlangga.
Di daerah periferal Indonesia Kota Manado provinsi Sulawesi Utara, ada majalah
Inovasi dari Universitas Sam Ratulangi. Masing-masing lembaga pers yang namanya
disimiliarkan dengan produk majalah mereka, telah mengambil posisi khas,
signifikan dan berpengaruh dalam pergerakan mahasiswa di wilayah masing-masing.
Majalah-majalah mahasiswa ini
telah mengalami proses-proses transisi dan transformasi, baik secara eksternal
dan internal. Secara internal mereka telah mengalami dinamika organisasi dari
sekedar wadah penyalur-pengembang bakat dan kemampuan organisasi menjadi
pewarta ideologi. Dari terbitan tradisional berbentuk majalah, hingga
pemanfaatan fasilitas dunia maya berbentuk web-blog
atau situs resmi.
Secara eksternal, kehadiran lembaga-lembaga ini juga menjadi salah satu
jalinan dari dinamika politik negara. Penanda sistem kungkungan intelektual mahasiswa
dalam bentuk sistem NKK-BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus-Badan Koordinasi Kemahasiswaan).
Bagian dari “korban” sistemik untuk kungkungan kebebasan pers nasional melalui
SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers). Termasuk juga, menjadi salah satu pejuang
demokrasi menjelang kejatuhan orde-baru. Sekaligus salah satu penanda, model
dan modal perjuangan kaum intelektual Indonesia.
Sehingga, lewat
paragraf-paragraf di atas, dapatlah dikatakan disini, perkara identitas
mahasiswa, pergerakan sosialnya yang mengusung ideologi, pemanfaatan media oleh
mereka, serta representasi mahasiswa melalui media menjadi signifikan untuk
dibahas. Apalagi, bagaimana mereka menyiasati segala kekurangan dan
keterbatasan sumber daya, faktor-faktor penghambat eksternal dengan
memanfaatkan potensi new-media
merupakan sebuah fenomena yang menggejala hari-hari ini dan menambah penting
pembahasan topik ini.
Karenanya, saya akan membahas
secara bersamaan mengenai bagaimana persoalan identitas suatu kelompok
mahasiswa dibangun dalam dan oleh media sebagai penanda atau pembaku komunitas dan
alat mediasi pergerakan. Termasuk pemanfaatan new media demi tujuan-tujuan dan siasat strategis kelompok
dimaksud. Terlebih lagi, persoalan yang akan dikemukakan disini adalah kasus
regional yang terjadi di belahan timur Indonesia. Bukan di pulau Jawa yang
selama ini sering dianggap representasi keseluruhan dari fenomena sosial yang
terjadi di republik ini. Sehingga diharapkan, tulisan ini akan menambah
pengetahuan dan perspektif soal bagaimana identitas, pergerakan dan pemanfaatan
media mengambil tempat dan bentuk di wilayah yang jarang direpresentasikan.
Kasus yang ingin saya angkat adalah “Majalah Mahasiswa Inovasi Unsrat Manado”.
Beberapa Catatan Pustaka: New Media, Identitas dan Gerakan Sosial
Sebelum memasuki substansi dari
tulisan ini, saya akan coba membingkai topik ini dengan beberapa kerangka teori
serta catatan pustaka mengenai new media,
identitas dan gerakan sosial dan bagaimana kesemuanya itu saling bertindihan
dalam dinamika dunia media(si) di tengah masyarakat ataupun kelompok
masyarakat.
New media dalam definisi akademik, bahkan awam, tentu akan membuat
para pembaca langsung berasosiasi secara oposisif, dalam arti pasti telah ada “old media”. Secara implisit dalam karya
Creeber (2011: 11-14), kemapanan “media lama” adalah juga menjadi tanda bangkitnya
modernisme, terutama di masa Perang Dunia I dan ke II, ketika imperialisme,
kolonialisme mendapat bentuknya. Lebih lanjut, ketika berargumen dengan
mengutip para ahli dari Frankfurt School,
Creeber menjelaskan bahwa media lama dalam bentuk opera sabun, talk show, majalah, novel telah
membangun sebuah standarisasi dimana ada klasifikasi “tinggi” dan “rendah”. Hal
tersebut terbentuk karena tidak lepas dari
indoktrinasi sebagai efek tradisi yang dikuasai kaum elit atau para
borjuis (Creeber, 2011: 13). Sehingga budaya populer atau mass culture, dianggap memiliki posisi di bawah. Sehingga,
masyarakat –bahkan terasa hingga kini-, terjebak dengan standarisasi absurd dan menghegemoni. Karena harus
berhadapan dengan macam-macam standard media –dan kehidupan-, seperti
“objektif” dan cover both sides
misalnya. Padahal, itu adalah suatu cara melegitimasi perbedaan dan kemapanan
kelas. Jadi, dalam penjelasan ini, tekanan yang dibicarakan adalah efek sosial
dari media itu sendiri pada masyarakat, bagaimana ia mem(re)produksi makna. Bukan
pada bentuk fisiknya.
Ketika masuk pada masa postmodernisme
dan new media, standard dan makna
singular yang terbentuk ketika masih dalam garis old media menuai kritik. Sebagaimana yang dikemukakan Fiske (1998)
dalam Creeber (2011: 15), makna dan ideologi yang dikemukakan media, ketika
ditangkap penonton tidak lagi menjadi tunggal melainkan berubah polisemi,
bermakna ganda. Sehingga, penonton sulit untuk memberi batas antara asli dengan
simulakra atau tiruan dari objek aslinya yang kemudian mendorong terproduksinya
hiperrealitas (realitas mengada-ada). Standard berubah menjadi samar-samar,
tidak mapan (Boudrillard,1994 dalam Creeber, 2011: 17). Jadi, yang mau dikatakan
disini, sebenarnya makna “mapan” yang disampaikan media dalam berita atau
sebuah model “standard”, menjadi berbeda ketika diinterpretasi konsumen, atau
penonton, atau juga pembaca. Semua bisa menjadi produsen makna, bisa pro, mampu
juga kontra, atau bisa keduanya secara bersamaan.
Interperetasi empirik dari
konsep yang di “langit” mengenai media lama dan baru di atas tersebut dapat
terlihat dari hadirnya internet sebagai sebuah bentuk fisik media baru yang
sebenarnya “maya”. Dewasa ini, masyarakat tidak lagi menganggap berita dari
para wartawan “besar” sebagai kebenaran, melainkan mulai menyadari
ketidakmungkinan mengelakkan subjektifitas dari kehidupan sehari-hari.
Sehingga, untuk membangun demokrasi, dimanfaatkanlah internet sebagai media merepresentasikan
keikutsertaan mereka menjadi berita sekaligus pembuatnya, ini nampak dalam web-blog dan situs you-tube misalnya (Goode, 2009). Juga sebagai siasat untuk keluar
dari standard old-media yang biasanya
diawaki oleh media mainstream. Hal
inilah yang bisa kita katakan sebagai bentuk-bentuk dari new-media. Populer dan murah sehingga kebenaran tidak dimonopoli.
Meningkatkan ruang partisipasi masyarakat dan kekayaan makna di dalam berita. Memperluas
ruang resistensi. Menyempitkan sekat diskriminasi. Dan karena semuanya itu,
menjadi suatu alternatif “baru” atas apa yang telah dibangun dan mapan oleh
media-media “lama” atau juga mainstream.
Secara lebih spesifik dan menukik, kekayaan makna ini, juga bisa dipahami “ketidakpatuhan”
terhadap model lama. Termasuk resistensi pada konsensus dalam alat apa mediasi
dilakukan. Dahulu, ketika internet belum berpengaruh seperti hari ini, model hard-copy adalah bentuk utama sebuah
organisasi penerbitan mahasiswa agar dikatakan eksis dan aktif. Hari ini, hal
tersebut dipertanyakan, disangsikan, dilawan dan dikompromikan dengan bentuk web-blog. Lebih murah dan peluang
idealisme tetap terjaga semakin terbuka, karena tidak membutuhkan sokongan dana
dari lembaga induk, yaitu universitas. Dengan begitu, menjadi lebih leluasa dan
percaya diri untuk “memberontak”.
Sementara pula, lewat dan
melalui media, identitas, termasuk ide didalamnya dapat direpresentasikan.
Serta lewat itu pula mampu membakukan stereotype
komunitas berdasar ciri tertentu termasuk menjadi alat pergerakan. Q-news di UK misalnya menjadi alat
pergerakan sebagai saluran informasi untuk keluar dari sindroma ketakutan
masyarakat dunia barat terhadap umat Islam, termasuk menjadi penanda identitas
umat Islam di UK (Bailey, et. al., 2007).
Namun penjelasan-penjelasan sebelumnya
merupakan realitas empirik persoalan identitas dalam media. Maka dari itu, kita
perlu melihat identitas dalam konsepnya yang abstrak. Sehingga menjadi mungkin
untuk diterapkan dalam kasus-kasus spesifik-regional, dalam hal ini yang
terwakili dari, dan oleh media.
Identitas sendiri dalam banyak
sumber pustaka dapat diartikan sebagai kesadaran akan ciri-ciri atau kesamaan
kelompok sendiri sehingga dapat membedakan antara in-group dan out-group
(Koentjaraningrat, 1984: 66; Suyono dan Siregar, 1985: 155). Dahulu, konsep ini
sangat terikat dengan soal etnisitas, namun kini meluas ke arah perbandingan-perbandingan
sosial yang nampak d masyarakat. Sehingga identitas sosial ini, menjadi penanda
tidak hanya soal-soal otentik seperti bahasa dan suku-bangsa melain bisa
menjadi selera, dialek, ekonomi gaya hidup, model rumah, kuliner dan lain
sebagainya (Brown, 2000: 987).
Dalam kasus ini, kita dapat memadankan konsep di atas dengan mahasiswa
misalnya dan secara spesifik model media yang mereka gunakan. Termasuk ide dan
semangat serta bentuk pergerakan yang mereka usung. Hal-hal tersebut bisa
memberi klasifikasi siapa in-group
dan siapa out-group. Contohnya,
bagaimana pergerakan mahasiswa Indonesia tahun 1998 dalam menggusur orde baru,
lewat majalah dan media apapun. Mereka dalam semua aspek, baik ide, gagasan, kehidupan
dan pergerakan direpresentasikan secara khas sebagai sebuah komunitas.
Lebih-lebih, identitas mereka ditandai oleh pemanfaatan maksimal terhadap
sebuah bentuk fisis dari media baru, yaitu internet (Sen dan Hill, 2005).
Sekalipun, adalah hal yang lumrah pada masa kini untuk melihat banyak
bentuk media mahasiswa memanfaatkan fasilitas internet yang tanpa batas. Namun,
pada jaman post-modernisme ini, pasti selalu ada hal spesifik dalam media-media
tersebut yang tidak bisa digunakan untuk memahami keseluruhan, sebagaimana
keseluruhan tidak bisa dimanfaatkan untuk memahami dimensi spesifik itu sendiri
(Sarup, 2003[1993]). Dalil inilah yang kemudian mendorong bentuk dan dinamika
media-baru cenderung dikaji lewat pendekatan post-strukturalisme dan
post-modernisme (Creeber, 2011: 16-17). Sebuah realitas desentralistik efektif
yang resisten terhadap standard media lama yang sentralistik.
Karena itu, saya percaya, bahwa majalah Inovasi Unsrat memiliki realitasnya
sendiri untuk dijelaskan. Mempunyai siasatnya sendiri dalam berdinamika. Beresistensi
terhadap halangan-halangan internal dan eksternal mereka. Sehingga, sekalipun
fenomena ini nampaknya sama dengan kecenderungan pada kelompok-kelompok serupa,
namun pasti ada unsur khasnya. Sehingga, identitas mereka akan nampak. Dengan
begitu, kita bisa mengerti bahwa ketika identitas mahasiswa direpresentasikan
dalam bentuk dan oleh media, kemudian dijadikan sebuah model pergerakan untuk
mewartakan gagasan serta perjuangan. Sembari itu pula kita sadar bahwa realitas
itu polisemi, bermakna ganda. Bertumpukan antar realitas. Tidak mapan tapi
saling berikatan. Tak bisa pula dipisahkan satu sama lain, sekalipun new media, identitas dan pergerakan
adalah hal-hal berbeda. Sehingga, dalam kerangka-kerangka itu pula, saya
mencoba mengurai fenomena yang terjadi di Majalah Inovasi Unsrat Manado. Walaupun
disadari, sekalipun ini fenomena partikular dan spesifik, pasti kompleks dan
silang-sengkarut dalam relasinya.
Inovasi Unsrat Manado dan Cerita
Memasuki akhir paruh pertama
dekade tahun 1980an, berdirilah secara resmi melalui surat keputusan Rektor
sebuah organisasi Pers Mahasiswa di Universitas Sam Ratulangi Manado.
Organisasi ini menjadi organisasi sejenis yang pertama di Indonesia. Kehadiran
lembaga ini merupakan sebuah loncatan besar, karena lebih awal dibandingkan
organisasi serupa dari kampus-kampus besar seperti Universitas Indonesia dengan
nama Suara Mahasiswa yang baru berdiri tahun 1992, inisiatif melembagakan pers
mahasiswa menjadikannya pioneer organisasi serupa di Indonesia.
Secara sederhana, para pendirinya menginginkan adanya lembaga resmi yang
bisa menyalurkan dan melatih bakat menulis mereka dari sekedar kelompok belajar
bernama sumekolah, yaitu bahasa lokal
bermakna “ayo sekolah”, menjadi sebuah lembaga pers mahasiswa. Ini terwujud
dengan diberikannya ISSN atau International
Standard Serial Number, sebuah legitimasi bahwa kehadiran mereka diterima
oleh negara. Produk pertama mereka adalah majalah yang juga diberi nama Inovasi,
terbit tanggal 27 Februari 1985 dalam oplah 700 eksemplar. Tanggal tersebut,
juga diperangati sebagai hari lahir organisasi ini. Secara resmi, organisasi
ini bernama LPPM (Lembaga Penerbitan Pers Mahasiswa) Inovasi Unsrat.
Dalam masa-masa awal berdirinya, sekitar tahun 1985-1992, kehadiran dan
standarisasi isi yang dikontrol negara dalam organisasi ini menjadi sangat
nampak dalam hampir semua hal. Intervensi terutama pada bidang struktur
organisasi, kontrol isi majalah, modal operasional bahkan model-model kooptasi
bagi pengurusnya.
Berdasarkan kebijakan NKK-BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus-Badan
Koordinasi Kemahasiswaan), maka pemimpin redaksi majalah ini adalah seorang
dosen yang ketika itu menjabat juga sebagai Deputi Pembantu Rektor Bidang
Kemahasiswaaan, bapak Ishak Pulukadang. Kebijakan tersebut mempermudah kontrol
atas isi dan sepak terjang penggerak organisasi. Implikasi lainnya dari hal
tersebut, muatan isi di standarisasi oleh keinginan pemerintah dan mengikuti tren
pasifis anak muda ketika itu. Berita berisi reportase-reportase “objektif” dari
awak redaksi, artikel-artikel dosen mengenai makna dan pentingnya “pembangunan”
yang nampak datar dan kurang kritis, puisi-puisi mahasiswa, berita-berita
kegiatan kampus dan reportase-reportase lain yang terasa kurang taringnya. Hal
ini menjadi mungkin, karena sebelum terbit, isi majalah harus dirapatkan oleh
redaksi dan mendapat persetujuan cetak dari pimpinan universitas.
Dalam hal dukungan dana sebagai modal operasional, negara dalam hal ini
universitas memegang peranan penting, bahkan terlihat memermudah peran-peran
pengurus. Subsidi diberikan untuk majalah yang terbit teratur tiga bulan
sekali, ini merupakan sebuah prestasi. Jika keuangan universitas tidak memiliki
pos yang memadai, maka sebisa mungkin universitas mencarikan sponsor penerbit
yang biasanya perusahaan rokok seperti Bentoel, Djarum atau Gudang Garam. Percetakan
pun biasanya difasilitasi oleh universitas dengan mengirimkan prototype cetakan
ke luar daerah, terutama Surabaya. Bahkan, pernah beberapa masa di akhir 1980an
hingga awal 1990an, universitas memfasilitasi pembayaran SPP mahasiswa baru
yang satu paket dengan satu eksemplar majalah Inovasi. Sehingga, untuk ukuran
kampus kecil di daerah periferal, oplah majalah ini cukup menjanjikan, karena
ketika itu mencapai antara 700 sampai 1000 eksemplar.
Pada masa itu, model-model kooptasi yang dilangsungkan universitas kepada
pengurus menjadi khas dan akhirnya membentuk sebuah identitas bagi awak
Inovasi, yang membedakan mereka dari mahasiswa umumnya. Universitas memberikan
segala fasilitas dasar yang diperlukan pengurus masa itu. Membebaskan dari
biaya kuliah, diberi fasilitas beasiswa, memperoleh kemudahan administrasi,
bisa memperoleh pendapatan kerja dari kegiatan redaksional, diberikan akses
langsung kepada pimpinan universitas. Sehingga, lazim pada jaman itu, pengurus
Inovasi dikenal sebagai para cerdik pandai golongan elite mahasiswa. Karena
kuliah dibiayai, memperoleh beasiswa sekalipun sangat sering pengurusnya
terlambat menyelesaikan studi, memiliki akses dan kedekatan dengan pimpinan
universitas dan berbagai macam kemudahan dan prioritas lain. Hal tersebut
menjadi pertanda bangkitnya sebuah kalangan bangsawan mahasiswa. Ini menjadi
cukup berpengaruh psikologis, karena biasanya pengurus berlatar-belakang
mahasiswa rantau atau dari golongan ekonomi menengah dan memperoleh posisi
nyaman ketika masuk pada kelompok ini. Jadi, semacam muncul psychological shock yang menyenangkan karena memperoleh prestise dalam
waktu lebih awal.
Sehingga pada masa awal kemunculannya, melalui paragraf di atas, kita dapat
melihat, kontrol dan kuasa negara dalam kehadiran organisasi ini menjadi berhasil,
kuat serta sangat efektif. Pembentukan standarisasi berita, proses produksi dan
operator majalah menjadi peran yang diambil alih oleh negara dalam hal ini
pimpinan universitas, melalui ruang redaksi yang secara operasional dijalankan
pengurus dan awaknya. Hampir semua model-model kontrol ini dilakukan dengan
cara pasifis-bersahabat. Dengan mula-mula mencukupkan kebutuhan dasar, baik
operasional organisasi maupun individu pengurus. Walaupun, sebagaimana yang
terbaca dalam terbitan-terbitan awal, slogan yang mereka usung sangat idealis,
yaitu “Pemantau Citra Kampus”. Namun, kenyataan walaupun mungkin kurang
disadari pengurusnya, berjalan secara kontradiktif dengan slogan dan berbanding lurus dengan keinginan pihak universitas. Eksistensi
majalah inipun tergambar dari teraturnya terbitan
mereka dalam bentuk hard-copy. Sehingga
sekalipun produktif dalam hal kuantitas namun kurang revolusioner soal ideologi
dan gerakan sosial. Dapatlah dikatakan, ini merupakan suatu bentuk ideologi dan
fisis dari old-media.
Memasuki pertengahan paruh
pertama dekade 1990an, kondisi internal dan eksternal Inovasi mulai berubah dan
ini sangat terasa hingga awal tahun 2000an.
Introduksi awak redaksi segar tidak hanya persoalan sumber daya, namun juga
ideologi. Banyak anggota yang masuk berlatar belakang aktivitis mahasiswa,
terutama GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) yang memang terkenal
kritis di Unsrat.
Ideologi Marhaenisme ala Bung Karno yang diusung GMNI dengan tekanan
mendahulukan rakyat kecil mulai menular menjadi ideologi Inovasi. Salah satunya
juga disebabkan karena para pendiri yang konservatif dengan ide dan bentuk
fisis old media yang terstandar-teratur
telah lulus kuliah dan mulai hidup berkeluarga, meninggalkan Inovasi. Apalagi,
kekangan pihak universitas dengan menjadikan dosen pemimpin redaksi mulai
melunak dengan menyerahkan mekanisme pemilihan pengurus kepada kongres anggota.
Dimana, universitas lebih menempatkan diri sebagai
fasilitator organisasi dengan hanya sebagai penyalur dana kemahasiswaaan.
Sehingga, posisi oposisi dari majalah mulai nampak dan mengesampingkan standard
objektif yang selama ini terbentuk dan dianggap ideal. Implikasinya, posisi
subjektif dan mempertanyakan semua kebijakan mulai kelihatan. Hingga, terbitan
berkala mulai tersendat karena dukungan penuh dari universitas mulai berkurang.
Pada tahun-tahun tersebut,
kondisi eksternal dunia kemahasiswaan Indonesia yang mulai kritis terhadap
pemerintah dengan letupan-letupan kecil di pulau Jawa, mulai menyulut semangat
kritis mahasiswa-mahasiswa di daerah. Pemerintah dan apapun yang
direpresentasikan olehnya menjadi semacam musuh bersama untuk ditaklukkan. Sehingga,
kondisi ini menjadi semacam vitamin untuk menjalan Inovasi sebagai alat dan
sentra pergerakan mahasiswa di Manado, bahkan Sulawesi Utara.
Pada masa itu, slogan “Pemantau Citra Kampus”
mulai diganti “Bergerilya Dengan Wacana Berjuang Dengan Pena”. Ideologi
simbolis, yang secara implisit menuntut posisi berpihak-subjektif sekaligus
kritis. Perjuangan para awak Inovasi yang mulai dicap aktivis, tidak hanya
lewat tulisan, militansi terhadap Inovasi yang diikat status keanggotaan GMNI
juga ditumpahkan ke jalan dalam bentuk demonstrasi. Sekretariat Inovasi sangat
sering digunakan sebagai tempat rapat untuk setting
demo. Hingga akhirnya, ketika para anggota tertangkap di jalanan saat
demonstrasi dan dibatasi ruang gerak serta idenya. Muncul idealisme yang
lagi-lagi menjadi vitamin militansi, yaitu “Kalau Mulutmu Dibungkam Angkatlah
Penamu”.
Alat-alat pergerakan yang dimanfaatkan mulai menggunakan media internet
melalui berita-berita email yang kemudian di foto kopi, selanjutnya dibuat
menjadi selebaran. Memang, terbitan menjadi tersendat karena suntikan dana yang
tak lagi lancar. Bahkan sekitar dua tahun sebelum kejatuhan Soeharto tidak lagi
terbit majalah. Kondisi ini membuat mereka bersiasat dengan menerbitkan edisi
buletin yang dikenal dengan sebutan “jari-jari”.
Buletin booklet Inovasi hitam putih,
yang di foto-kopi selanjutnya disebar ke mahasiswa. Beritanya adalah seputar
pergerakan mahasiswa nasional dan regional Sulawesi Utara yang mulanya
disebar-luaskan lewat email. Isinya lebih banyak berupa ajakan perjuangan dan
kritik terhadap kebijakan serta sikap pemerintah. Melalui kondisi-kondisi
seperti ini, mereka seperti juga membakukan identitas mereka yang tetap memiliki akses ke pimpinan universitas dan daerah, tapi masih idealis, dan terlebih-lebih
miskin, kumuh, kucel serta pemberontak.
Sampai akhirnya, ketumbangan
orde baru juga menandai puncak perjuangan awak Inovasi yang dianggap berhasil
menggerakkan mahasiswa Unsrat Manado bahkan di Sulawesi Utara, yang membuat
mereka menjadi golongan-golongan darah biru angkatan ’98 di regional Indonesia yang
terkenal idealis. Dimana, sebuah catatan yang masih menjadi cerita hingga kini,
terutama bagi calon anggota, bahwa Inovasi-lah yang mengirim anggotanya dua
orang dalam demo besar di Jakarta Mei 1998 sebagai wakil mahasiswa Sulawesi
Utara, yaitu Maxi Kalangi dan Victor Ratumbanua.
Pada masa ini, kita melihat
bahwa ada transformasi identitas di Inovasi terutama bagi anggotanya. Dari
organisasi yang dikenal elite dan mewah menjadi organisasi yang anggotanya
idealis, pemberontak, cinta rakyat kecil, kucel, maskulin, kritis dan terlebih
tidak bisa lepas dari cap sebagai sarangnya mahasiswa “merah” atau GMNI. Ditambah,
yel-yel anggota Inovasi pun menjadi sama dengan GMNI, yaitu tangan kiri dikepal
dan diangkat ke atas serta memekikkan MERDEKA.
Memasuki milenium baru, kekuatan organisasi ini terlihat menjadi lemah.
Terutama karena memasuki masa plot
atau klimaks menurun. Setelah tidak adanya musuh yang telah berhasil
ditumbangkan dan tujuan bersama, serta terjebak pada euforia kemenangan. Banyak
anggotanya lebih senang mengambil tempat dalam kegiatan politik praktis daerah
yang memang gandrung merekrut aktivis Inovasi sebagai anggotanya. Terutama karena tawaran itu dianggap lebih menjanjikan secara
finansial dari
sekedar menjadi miskin-idealis di Inovasi. Kembali lagi, persoalannya adalah kooptasi yang bersifat pasifis dan
menghegemoni. Jadi, “kekalahan” mereka lebih karena kondisi internal yang
kurang bisa dikontrol
Sekalipun, memang tradisi idealisme ala GMNI masih dipertahankan hingga
kini, termasuk identitas aktivis mahasiswa “miskin” yang terlanjur dikenal
melekat pada mereka. Walau tetap masih kritis dan “membangkang”. Penurunan kuantitas
terbitan serta kualitasnya tetap terasa. Tidak lagi ada terbit majalah,
melainkan –hanya- Tabloid yang bergantung pada subsidi dana kemahasiswaan serta
dibagikan gratis. Kekritisan Inovasi inipun sepertinya menjadi sulit
berkompromi dengan pimpinan Universitas, sehingga organisasi ini ditekan dan tak
nampak memiliki semangat militansi yang cukup untuk keluar dari masalah. Akhirnya-pun,
kondisi ini membuat geliat organisasi ini semakin menurun, sekalipun masih
mempertahankan idealisme yang terlihat romantistik, namun hal tersebut nampak
kurang laku untuk dijual kepada calon-calon anggota agar bisa bergabung dengan
organisasi ini. Jadi bisa dikatakan, Inovasi, akhir paruh
pertama hingga awal tahun 2010 terlihat sekarat. Hidup tidak, matipun segan.
Bulan Maret tahun 2010, ada
beberapa anak muda yang direkrut dan dilantik sebagai pengurus Inovasi
sekaligus merayakan hari lahir organisasi. Mereka melakukan beberapa terobosan
dengan menyadari potensi dan kekurangan yang ada. Posisi subjektif-kritis yang
menjadi tradisi tetap dipertahankan. Namun, karena menyadari posisi tersebut
tidak menguntungkan untuk memperoleh dana operasional, mereka memaksimalkan
sumber daya dengan menerbitkan buletin dalam bentuk full-colour print.
Langkah baik yang dijejaki adalah membuat edisi on-line yang menempel di
situs wordpress.com, alamatnya
bisa dikunjungi pada http://inovasionline.wordpress.com/.
Edisi “murahan” memang, gratis dan terlihat cocok dengan tradisi miskin para
anggotanya yang juga dilegitimasi sebagai penerus KOPASTALA (Komando Pasukan
Tahan Lapar). Namun, ini cukup untuk memperlihatkan kecenderungan mereka dalam
berjuang membangun model-model civil
society sebagaimana menjadi ide dasar dalam bentuk-bentuk dan ideologi new-media. Apalagi opini dan berita
dalam situs ini terlihat subjektif-kritis.
Walaupun
terlambat memang, karena kehadiran edisi on-line
majalah ini, telah didahului oleh edisi yang lebih mapan dari Pers Mahasiswa UI
misalnya yang alamat situsnya mendapat tempat pada alamat situs resmi
universitas, yaitu http://suma.ui.ac.id/.
Atau jika dibandingkan dengan kepunyaan majalah Balairung UGM yang memiliki
alamat situs mandiri di www.balairungpress.com.
Tetapi setidaknya sebuah usaha untuk mempertahankan ideologi, identitas dan
pergerakan mahasiswa telah mereka lakukan. Dalam bentuk-bentuk khas mereka
tentunya, ketika didukung lembaga induk ataupun ketika dibiarkan terlantar-lepas. Waktu nyaman ataupun ketika
bersiasat menghadapi sekarat.
Penutup
Kesemua hal yang dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya memang menjadi
tumpang tindih. Dimana Inovasi menjadi media –sebagai majalah dan organisasi-,
yang tidak hanya merepresentasi ide anggotanya tetapi juga identitas yang
melekat pada mereka. Disamping itu menjadi salah satu alat gerakan
kemahasiswaan, termasuk menjadi gerakan itu sendiri. Sehingga sulit rasanya
memisahkan realitas-realitas ini secara terpisah dan berelasi secara
sendiri-sendiri. Ditambah lagi, secara ideologis dan fisis, anggota Inovasi
dari bentuk dan semangat old-media
mereka mulai beranjak menekankan semangat new
media yaitu dengan memperkuat subjektifitas yang fleksibel pada standard,
dengan mulai tidak sekedar memberitakan kejadian tetapi mengajak pembaca ikut
serta dalam perjuangan mereka. Apalagi, mulai dimanfaatkannya media internet
dalam hal ini email dan web-blog
sebagai media komunikasi, siasat perjuangan dan sumber serta corong berita.
Kita melihat, dalam banyak sisi, subjek komunal atau model civil society anggota media diperkuat
disini. Sangat nampak terutama dari model-model perjuangan yang tanpa modal
dari lembaga induk dan hanya mengandalkan swadaya anggotanya.
Namun begitu, dinamika
sebagaimana yang telah dijelaskan di atas masihlah terbuka kemungkinan untuk
berkembang lebih lanjut. Karena, sebagaimana waktu masih berputar, begitu pula geliat
dalam organisasi ini. Sehingga, maksud implisit dari tulisan ini, yaitu sekedar
menjadi pembuka jalan untuk studi-studi sejenis lanjutan dalam topik spesifik,
bisa terlaksana atau setidaknya terstimulus. Dengan tekanan konsentrasi adalah
representasi pada proses dan bukan hasil. Sehingga, wacana-wacana semacam ini
menjadi lebih berkembang luas dan sebagaimana dalil new-media, tidak perlu dan tidak harus
ter-standarisasi.
Kepustakaan
Bailey, Olga G., Bart Cammaerts dan Nico Carpatiers, Understanding Alternative Media
(Berkshire: Open University Press, 2007)
Brown, Rupert, “Social Identity (Identitas Sosial)”, di dalam Adam Kuper
dan Jessica Kuper (Eds.), Ensiklopedi
Ilmu-Ilmu Sosial [Terj.] (Jakarta: Rajawali Press, 2000) hlm. 986-987
Creeber, Glen, “Digital Theory: Theorizing New Media”, di
dalam Glen Creeber (Ed.), Digital Culture
(Berkshire: Open University Press, 2011) hlm. 11-22
Goode, Luke, “Social News,
Citizen Journalism and Democracy”, di dalam New
Media Society, Vol. 29, No. 8 (Sage Publications, 2009) hlm. 1287-1305
Koentjaraningrat, et.al., Kamus Istilah Antropologi (Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984)
Sarup, Madan, Posstrukturalisme
dan Posmodernisme Sebuah Pengantar Kritis [Terj.] (Yogyakarta: Jendela,
2004 [1993])
Schreiner, Klaus H., “Penciptaan Pahlawan-pahlawan Nasional,
Dari Demokrasi Terpimpin Sampai Erde Baru 1959-1993”, di dalam Henk Schulte
Nordholt (Ed.), Outward Appearances, Trend Identitas Kepentingan [Terj.]
(Yogyakarta: LKiS, 2005 [1997]) hlm. 381-426
Sen, Krishna dan David Hill, Internet and Democracy in Indonesia (London dan New York:
Routledge, 2005)
Suyono, Ariyono dan Amirudin
Siregar, Kamus Antropologi (Jakarta:
Akademika Pressindo, 1985)
Sumber
Lain:

0 komentar:
Posting Komentar