Rabu, 04 Juni 2014

Dari Hard-Copy hingga On-line: New Media, Identitas dan Pergerakan (Majalah)Mahasiswa Inovasi Unsrat



Artikel “Ilmiah” Untuk Inovasi, Terbitan Awal 2013

Dari Hard-Copy hingga On-line: New Media, Identitas dan Pergerakan (Majalah)Mahasiswa Inovasi Unsrat

Nono S. A. Sumampouw
(Peneliti Muda Yayasan Mar-In CRC Manado)

Pengantar
                Masa modern ini, perkembangan media dan mahasiswa bagaikan menjadi satu kepingan mata uang dengan dua sisi yang berbeda. Artinya tidak bisa lagi dipisahkan sekalipun memiliki wajah berbeda. Lewat media, pergerakan mahasiswa dan identitas mereka dimediasi. Melalui media pula, ide serta gagasan yang diusung mendapat tempat untuk diutarakan. Pada sisi satunya lagi, mahasiswa merupakan salah satu potensi penggerak terbaik dari rantai bisnis media. Termasuk, media juga memanfaatkan berita mengenai mahasiswa. Dengan begitu, memproduksi “barang jualan” atau komoditas mereka.
                Begitulah media dan mahasiswa dalam ide, fantasi, imajinasi dan potensinya. Kemudian saling berseliweran membentuk jaringan tak terpisahkan. Saling mempengaruhi pada satu sudut dan dipengaruhi dalam sudutnya yang lain. Sehingga, tak bisa dipungkiri, kajian mengenai relasi antara mahasiswa dan media, dalam isu-isu partikular menjadi strategis untuk dibahas. Karena akan membawa pada pemahaman yang semakin akumulatif, bertumpuk dan luas sehingga memperkaya wacana mengenai topik ini.
                Konteks masa lalu Indonesia telah mencatat, bagaimana para pemuda-pemuda pada masa-masa akhir pendudukan Belanda dan memasuki awal kemerdekaan, terutama mereka yang disekolahkan Belanda atas kebijakan politik etis, atas perjuangannya, dimediasi –salah satunya- oleh surat kabar nasional dan macam-macam publikasi untuk menjadi pahlawan nasional (Schreiner, 1997: 381-425).
                Pada masa lebih kontemporer, berdasar tulisan Sen dan Hill (2005), kita bisa menyaksikan, bagaimana media telah mengambil peran yang sangat penting menyuarakan aspirasi mahasiswa untuk menjatuhkan orde-baru. Termasuk menjadi penanda identitas golongan terpelajar Indonesia. Lebih lanjut dijelaskan, pemanfaatan mereka terhadap new media, lewat berita internet dan opini di web-blog untuk menggalang kekuatan, simpati pergerakan, serta mencapai tujuan ideologi, waktu itu, telah memperoleh keberhasilan yang pantas dan bersejarah.
                Dalam perkembangan majalah-majalah di Indonesia, pada akhir dekade 1980an hingga awal 1990an, telah menandai berdirinya lembaga-lembaga pers mahasiswa tertua yang kemudian hari berdinamika serta berevolusi menjadi salah alat pergerakan. Mereka yang bergabung menjadi wartawan kampus, memperoleh pendidikan dasar jurnalisme untuk memperoleh kartu identifikasi pers. Produk awalnya didominasi majalah dan tabloid. Lewat isi berita, model pemberitaan, opini, modal operasional, gaya hidup dan lingkungan sosialnya, teman-teman ini telah membentuk sebuah dunia khas yang menegaskan identitas mereka.
                Universitas Indonesia atau UI memiliki lembaga pers mahasiswa bernama Suara Mahasiswa. UGM Yogyakarta memiliki Balairung. Universitas Airlanggga Surabaya memiliki Suara Airlangga. Di daerah periferal Indonesia Kota Manado provinsi Sulawesi Utara, ada majalah Inovasi dari Universitas Sam Ratulangi. Masing-masing lembaga pers yang namanya disimiliarkan dengan produk majalah mereka, telah mengambil posisi khas, signifikan dan berpengaruh dalam pergerakan mahasiswa di wilayah masing-masing.
                Majalah-majalah mahasiswa ini telah mengalami proses-proses transisi dan transformasi, baik secara eksternal dan internal. Secara internal mereka telah mengalami dinamika organisasi dari sekedar wadah penyalur-pengembang bakat dan kemampuan organisasi menjadi pewarta ideologi. Dari terbitan tradisional berbentuk majalah, hingga pemanfaatan fasilitas dunia maya berbentuk web-blog atau situs resmi.
Secara eksternal, kehadiran lembaga-lembaga ini juga menjadi salah satu jalinan dari dinamika politik negara. Penanda sistem kungkungan intelektual mahasiswa dalam bentuk sistem NKK-BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus-Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Bagian dari “korban” sistemik untuk kungkungan kebebasan pers nasional melalui SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers). Termasuk juga, menjadi salah satu pejuang demokrasi menjelang kejatuhan orde-baru. Sekaligus salah satu penanda, model dan modal perjuangan kaum intelektual Indonesia.
                Sehingga, lewat paragraf-paragraf di atas, dapatlah dikatakan disini, perkara identitas mahasiswa, pergerakan sosialnya yang mengusung ideologi, pemanfaatan media oleh mereka, serta representasi mahasiswa melalui media menjadi signifikan untuk dibahas. Apalagi, bagaimana mereka menyiasati segala kekurangan dan keterbatasan sumber daya, faktor-faktor penghambat eksternal dengan memanfaatkan potensi new-media merupakan sebuah fenomena yang menggejala hari-hari ini dan menambah penting pembahasan topik ini.
                Karenanya, saya akan membahas secara bersamaan mengenai bagaimana persoalan identitas suatu kelompok mahasiswa dibangun dalam dan oleh media sebagai penanda atau pembaku komunitas dan alat mediasi pergerakan. Termasuk pemanfaatan new media demi tujuan-tujuan dan siasat strategis kelompok dimaksud. Terlebih lagi, persoalan yang akan dikemukakan disini adalah kasus regional yang terjadi di belahan timur Indonesia. Bukan di pulau Jawa yang selama ini sering dianggap representasi keseluruhan dari fenomena sosial yang terjadi di republik ini. Sehingga diharapkan, tulisan ini akan menambah pengetahuan dan perspektif soal bagaimana identitas, pergerakan dan pemanfaatan media mengambil tempat dan bentuk di wilayah yang jarang direpresentasikan. Kasus yang ingin saya angkat adalah “Majalah Mahasiswa Inovasi Unsrat Manado”.

Beberapa Catatan Pustaka: New Media, Identitas dan Gerakan Sosial
                Sebelum memasuki substansi dari tulisan ini, saya akan coba membingkai topik ini dengan beberapa kerangka teori serta catatan pustaka mengenai new media, identitas dan gerakan sosial dan bagaimana kesemuanya itu saling bertindihan dalam dinamika dunia media(si) di tengah masyarakat ataupun kelompok masyarakat.
                New media dalam definisi akademik, bahkan awam, tentu akan membuat para pembaca langsung berasosiasi secara oposisif, dalam arti pasti telah ada “old media”. Secara implisit dalam karya Creeber (2011: 11-14), kemapanan “media lama” adalah juga menjadi tanda bangkitnya modernisme, terutama di masa Perang Dunia I dan ke II, ketika imperialisme, kolonialisme mendapat bentuknya. Lebih lanjut, ketika berargumen dengan mengutip para ahli dari Frankfurt School, Creeber menjelaskan bahwa media lama dalam bentuk opera sabun, talk show, majalah, novel telah membangun sebuah standarisasi dimana ada klasifikasi “tinggi” dan “rendah”. Hal tersebut terbentuk karena tidak lepas dari  indoktrinasi sebagai efek tradisi yang dikuasai kaum elit atau para borjuis (Creeber, 2011: 13). Sehingga budaya populer atau mass culture, dianggap memiliki posisi di bawah. Sehingga, masyarakat –bahkan terasa hingga kini-, terjebak dengan standarisasi absurd dan menghegemoni. Karena harus berhadapan dengan macam-macam standard media –dan kehidupan-, seperti “objektif” dan cover both sides misalnya. Padahal, itu adalah suatu cara melegitimasi perbedaan dan kemapanan kelas. Jadi, dalam penjelasan ini, tekanan yang dibicarakan adalah efek sosial dari media itu sendiri pada masyarakat, bagaimana ia mem(re)produksi makna. Bukan pada bentuk fisiknya.
                Ketika masuk pada masa postmodernisme dan new media, standard dan makna singular yang terbentuk ketika masih dalam garis old media menuai kritik. Sebagaimana yang dikemukakan Fiske (1998) dalam Creeber (2011: 15), makna dan ideologi yang dikemukakan media, ketika ditangkap penonton tidak lagi menjadi tunggal melainkan berubah polisemi, bermakna ganda. Sehingga, penonton sulit untuk memberi batas antara asli dengan simulakra atau tiruan dari objek aslinya yang kemudian mendorong terproduksinya hiperrealitas (realitas mengada-ada). Standard berubah menjadi samar-samar, tidak mapan (Boudrillard,1994 dalam Creeber, 2011: 17). Jadi, yang mau dikatakan disini, sebenarnya makna “mapan” yang disampaikan media dalam berita atau sebuah model “standard”, menjadi berbeda ketika diinterpretasi konsumen, atau penonton, atau juga pembaca. Semua bisa menjadi produsen makna, bisa pro, mampu juga kontra, atau bisa keduanya secara bersamaan.
                Interperetasi empirik dari konsep yang di “langit” mengenai media lama dan baru di atas tersebut dapat terlihat dari hadirnya internet sebagai sebuah bentuk fisik media baru yang sebenarnya “maya”. Dewasa ini, masyarakat tidak lagi menganggap berita dari para wartawan “besar” sebagai kebenaran, melainkan mulai menyadari ketidakmungkinan mengelakkan subjektifitas dari kehidupan sehari-hari. Sehingga, untuk membangun demokrasi, dimanfaatkanlah internet sebagai media merepresentasikan keikutsertaan mereka menjadi berita sekaligus pembuatnya, ini nampak dalam web-blog dan situs you-tube misalnya (Goode, 2009). Juga sebagai siasat untuk keluar dari standard old-media yang biasanya diawaki oleh media mainstream. Hal inilah yang bisa kita katakan sebagai bentuk-bentuk dari new-media. Populer dan murah sehingga kebenaran tidak dimonopoli. Meningkatkan ruang partisipasi masyarakat dan kekayaan makna di dalam berita. Memperluas ruang resistensi. Menyempitkan sekat diskriminasi. Dan karena semuanya itu, menjadi suatu alternatif “baru” atas apa yang telah dibangun dan mapan oleh media-media “lama” atau juga mainstream.
Secara lebih spesifik dan menukik, kekayaan makna ini, juga bisa dipahami “ketidakpatuhan” terhadap model lama. Termasuk resistensi pada konsensus dalam alat apa mediasi dilakukan. Dahulu, ketika internet belum berpengaruh seperti hari ini, model hard-copy adalah bentuk utama sebuah organisasi penerbitan mahasiswa agar dikatakan eksis dan aktif. Hari ini, hal tersebut dipertanyakan, disangsikan, dilawan dan dikompromikan dengan bentuk web-blog. Lebih murah dan peluang idealisme tetap terjaga semakin terbuka, karena tidak membutuhkan sokongan dana dari lembaga induk, yaitu universitas. Dengan begitu, menjadi lebih leluasa dan percaya diri untuk “memberontak”.
                Sementara pula, lewat dan melalui media, identitas, termasuk ide didalamnya dapat direpresentasikan. Serta lewat itu pula mampu membakukan stereotype komunitas berdasar ciri tertentu termasuk menjadi alat pergerakan. Q-news di UK misalnya menjadi alat pergerakan sebagai saluran informasi untuk keluar dari sindroma ketakutan masyarakat dunia barat terhadap umat Islam, termasuk menjadi penanda identitas umat Islam di UK (Bailey, et. al., 2007).
                Namun penjelasan-penjelasan sebelumnya merupakan realitas empirik persoalan identitas dalam media. Maka dari itu, kita perlu melihat identitas dalam konsepnya yang abstrak. Sehingga menjadi mungkin untuk diterapkan dalam kasus-kasus spesifik-regional, dalam hal ini yang terwakili dari, dan oleh media.
                Identitas sendiri dalam banyak sumber pustaka dapat diartikan sebagai kesadaran akan ciri-ciri atau kesamaan kelompok sendiri sehingga dapat membedakan antara in-group dan out-group (Koentjaraningrat, 1984: 66; Suyono dan Siregar, 1985: 155). Dahulu, konsep ini sangat terikat dengan soal etnisitas, namun kini meluas ke arah perbandingan-perbandingan sosial yang nampak d masyarakat. Sehingga identitas sosial ini, menjadi penanda tidak hanya soal-soal otentik seperti bahasa dan suku-bangsa melain bisa menjadi selera, dialek, ekonomi gaya hidup, model rumah, kuliner dan lain sebagainya (Brown, 2000: 987).
Dalam kasus ini, kita dapat memadankan konsep di atas dengan mahasiswa misalnya dan secara spesifik model media yang mereka gunakan. Termasuk ide dan semangat serta bentuk pergerakan yang mereka usung. Hal-hal tersebut bisa memberi klasifikasi siapa in-group dan siapa out-group. Contohnya, bagaimana pergerakan mahasiswa Indonesia tahun 1998 dalam menggusur orde baru, lewat majalah dan media apapun. Mereka dalam semua aspek, baik ide, gagasan, kehidupan dan pergerakan direpresentasikan secara khas sebagai sebuah komunitas. Lebih-lebih, identitas mereka ditandai oleh pemanfaatan maksimal terhadap sebuah bentuk fisis dari media baru, yaitu internet (Sen dan Hill, 2005).
Sekalipun, adalah hal yang lumrah pada masa kini untuk melihat banyak bentuk media mahasiswa memanfaatkan fasilitas internet yang tanpa batas. Namun, pada jaman post-modernisme ini, pasti selalu ada hal spesifik dalam media-media tersebut yang tidak bisa digunakan untuk memahami keseluruhan, sebagaimana keseluruhan tidak bisa dimanfaatkan untuk memahami dimensi spesifik itu sendiri (Sarup, 2003[1993]). Dalil inilah yang kemudian mendorong bentuk dan dinamika media-baru cenderung dikaji lewat pendekatan post-strukturalisme dan post-modernisme (Creeber, 2011: 16-17). Sebuah realitas desentralistik efektif yang resisten terhadap standard media lama yang sentralistik.
Karena itu, saya percaya, bahwa majalah Inovasi Unsrat memiliki realitasnya sendiri untuk dijelaskan. Mempunyai siasatnya sendiri dalam berdinamika. Beresistensi terhadap halangan-halangan internal dan eksternal mereka. Sehingga, sekalipun fenomena ini nampaknya sama dengan kecenderungan pada kelompok-kelompok serupa, namun pasti ada unsur khasnya. Sehingga, identitas mereka akan nampak. Dengan begitu, kita bisa mengerti bahwa ketika identitas mahasiswa direpresentasikan dalam bentuk dan oleh media, kemudian dijadikan sebuah model pergerakan untuk mewartakan gagasan serta perjuangan. Sembari itu pula kita sadar bahwa realitas itu polisemi, bermakna ganda. Bertumpukan antar realitas. Tidak mapan tapi saling berikatan. Tak bisa pula dipisahkan satu sama lain, sekalipun new media, identitas dan pergerakan adalah hal-hal berbeda. Sehingga, dalam kerangka-kerangka itu pula, saya mencoba mengurai fenomena yang terjadi di Majalah Inovasi Unsrat Manado. Walaupun disadari, sekalipun ini fenomena partikular dan spesifik, pasti kompleks dan silang-sengkarut dalam relasinya.  

Inovasi Unsrat Manado dan Cerita
                Memasuki akhir paruh pertama dekade tahun 1980an, berdirilah secara resmi melalui surat keputusan Rektor sebuah organisasi Pers Mahasiswa di Universitas Sam Ratulangi Manado. Organisasi ini menjadi organisasi sejenis yang pertama di Indonesia. Kehadiran lembaga ini merupakan sebuah loncatan besar, karena lebih awal dibandingkan organisasi serupa dari kampus-kampus besar seperti Universitas Indonesia dengan nama Suara Mahasiswa yang baru berdiri tahun 1992, inisiatif melembagakan pers mahasiswa menjadikannya pioneer organisasi serupa di Indonesia.
Secara sederhana, para pendirinya menginginkan adanya lembaga resmi yang bisa menyalurkan dan melatih bakat menulis mereka dari sekedar kelompok belajar bernama sumekolah, yaitu bahasa lokal bermakna “ayo sekolah”, menjadi sebuah lembaga pers mahasiswa. Ini terwujud dengan diberikannya ISSN atau International Standard Serial Number, sebuah legitimasi bahwa kehadiran mereka diterima oleh negara. Produk pertama mereka adalah majalah yang juga diberi nama Inovasi, terbit tanggal 27 Februari 1985 dalam oplah 700 eksemplar. Tanggal tersebut, juga diperangati sebagai hari lahir organisasi ini. Secara resmi, organisasi ini bernama LPPM (Lembaga Penerbitan Pers Mahasiswa) Inovasi Unsrat.
Dalam masa-masa awal berdirinya, sekitar tahun 1985-1992, kehadiran dan standarisasi isi yang dikontrol negara dalam organisasi ini menjadi sangat nampak dalam hampir semua hal. Intervensi terutama pada bidang struktur organisasi, kontrol isi majalah, modal operasional bahkan model-model kooptasi bagi pengurusnya.
Berdasarkan kebijakan NKK-BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus-Badan Koordinasi Kemahasiswaan), maka pemimpin redaksi majalah ini adalah seorang dosen yang ketika itu menjabat juga sebagai Deputi Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaaan, bapak Ishak Pulukadang. Kebijakan tersebut mempermudah kontrol atas isi dan sepak terjang penggerak organisasi. Implikasi lainnya dari hal tersebut, muatan isi di standarisasi oleh keinginan pemerintah dan mengikuti tren pasifis anak muda ketika itu. Berita berisi reportase-reportase “objektif” dari awak redaksi, artikel-artikel dosen mengenai makna dan pentingnya “pembangunan” yang nampak datar dan kurang kritis, puisi-puisi mahasiswa, berita-berita kegiatan kampus dan reportase-reportase lain yang terasa kurang taringnya. Hal ini menjadi mungkin, karena sebelum terbit, isi majalah harus dirapatkan oleh redaksi dan mendapat persetujuan cetak dari pimpinan universitas.
Dalam hal dukungan dana sebagai modal operasional, negara dalam hal ini universitas memegang peranan penting, bahkan terlihat memermudah peran-peran pengurus. Subsidi diberikan untuk majalah yang terbit teratur tiga bulan sekali, ini merupakan sebuah prestasi. Jika keuangan universitas tidak memiliki pos yang memadai, maka sebisa mungkin universitas mencarikan sponsor penerbit yang biasanya perusahaan rokok seperti Bentoel, Djarum atau Gudang Garam. Percetakan pun biasanya difasilitasi oleh universitas dengan mengirimkan prototype cetakan ke luar daerah, terutama Surabaya. Bahkan, pernah beberapa masa di akhir 1980an hingga awal 1990an, universitas memfasilitasi pembayaran SPP mahasiswa baru yang satu paket dengan satu eksemplar majalah Inovasi. Sehingga, untuk ukuran kampus kecil di daerah periferal, oplah majalah ini cukup menjanjikan, karena ketika itu mencapai antara 700 sampai 1000 eksemplar.
Pada masa itu, model-model kooptasi yang dilangsungkan universitas kepada pengurus menjadi khas dan akhirnya membentuk sebuah identitas bagi awak Inovasi, yang membedakan mereka dari mahasiswa umumnya. Universitas memberikan segala fasilitas dasar yang diperlukan pengurus masa itu. Membebaskan dari biaya kuliah, diberi fasilitas beasiswa, memperoleh kemudahan administrasi, bisa memperoleh pendapatan kerja dari kegiatan redaksional, diberikan akses langsung kepada pimpinan universitas. Sehingga, lazim pada jaman itu, pengurus Inovasi dikenal sebagai para cerdik pandai golongan elite mahasiswa. Karena kuliah dibiayai, memperoleh beasiswa sekalipun sangat sering pengurusnya terlambat menyelesaikan studi, memiliki akses dan kedekatan dengan pimpinan universitas dan berbagai macam kemudahan dan prioritas lain. Hal tersebut menjadi pertanda bangkitnya sebuah kalangan bangsawan mahasiswa. Ini menjadi cukup berpengaruh psikologis, karena biasanya pengurus berlatar-belakang mahasiswa rantau atau dari golongan ekonomi menengah dan memperoleh posisi nyaman ketika masuk pada kelompok ini. Jadi, semacam muncul psychological shock yang menyenangkan karena memperoleh prestise dalam waktu lebih awal.  
Sehingga pada masa awal kemunculannya, melalui paragraf di atas, kita dapat melihat, kontrol dan kuasa negara dalam kehadiran organisasi ini menjadi berhasil, kuat serta sangat efektif. Pembentukan standarisasi berita, proses produksi dan operator majalah menjadi peran yang diambil alih oleh negara dalam hal ini pimpinan universitas, melalui ruang redaksi yang secara operasional dijalankan pengurus dan awaknya. Hampir semua model-model kontrol ini dilakukan dengan cara pasifis-bersahabat. Dengan mula-mula mencukupkan kebutuhan dasar, baik operasional organisasi maupun individu pengurus. Walaupun, sebagaimana yang terbaca dalam terbitan-terbitan awal, slogan yang mereka usung sangat idealis, yaitu “Pemantau Citra Kampus”. Namun, kenyataan walaupun mungkin kurang disadari pengurusnya, berjalan secara kontradiktif dengan slogan dan berbanding lurus dengan keinginan pihak universitas. Eksistensi majalah inipun tergambar dari teraturnya terbitan mereka dalam bentuk hard-copy. Sehingga sekalipun produktif dalam hal kuantitas namun kurang revolusioner soal ideologi dan gerakan sosial. Dapatlah dikatakan, ini merupakan suatu bentuk ideologi dan fisis dari old-media.
                Memasuki pertengahan paruh pertama dekade 1990an, kondisi internal dan eksternal Inovasi mulai berubah dan ini sangat terasa hingga awal tahun 2000an. Introduksi awak redaksi segar tidak hanya persoalan sumber daya, namun juga ideologi. Banyak anggota yang masuk berlatar belakang aktivitis mahasiswa, terutama GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) yang memang terkenal kritis di Unsrat.
Ideologi Marhaenisme ala Bung Karno yang diusung GMNI dengan tekanan mendahulukan rakyat kecil mulai menular menjadi ideologi Inovasi. Salah satunya juga disebabkan karena para pendiri yang konservatif dengan ide dan bentuk fisis old media yang terstandar-teratur telah lulus kuliah dan mulai hidup berkeluarga, meninggalkan Inovasi. Apalagi, kekangan pihak universitas dengan menjadikan dosen pemimpin redaksi mulai melunak dengan menyerahkan mekanisme pemilihan pengurus kepada kongres anggota. Dimana, universitas lebih menempatkan diri sebagai fasilitator organisasi dengan hanya sebagai penyalur dana kemahasiswaaan. Sehingga, posisi oposisi dari majalah mulai nampak dan mengesampingkan standard objektif yang selama ini terbentuk dan dianggap ideal. Implikasinya, posisi subjektif dan mempertanyakan semua kebijakan mulai kelihatan. Hingga, terbitan berkala mulai tersendat karena dukungan penuh dari universitas mulai berkurang.
                Pada tahun-tahun tersebut, kondisi eksternal dunia kemahasiswaan Indonesia yang mulai kritis terhadap pemerintah dengan letupan-letupan kecil di pulau Jawa, mulai menyulut semangat kritis mahasiswa-mahasiswa di daerah. Pemerintah dan apapun yang direpresentasikan olehnya menjadi semacam musuh bersama untuk ditaklukkan. Sehingga, kondisi ini menjadi semacam vitamin untuk menjalan Inovasi sebagai alat dan sentra pergerakan mahasiswa di Manado, bahkan Sulawesi Utara.
                 Pada masa itu, slogan “Pemantau Citra Kampus” mulai diganti “Bergerilya Dengan Wacana Berjuang Dengan Pena”. Ideologi simbolis, yang secara implisit menuntut posisi berpihak-subjektif sekaligus kritis. Perjuangan para awak Inovasi yang mulai dicap aktivis, tidak hanya lewat tulisan, militansi terhadap Inovasi yang diikat status keanggotaan GMNI juga ditumpahkan ke jalan dalam bentuk demonstrasi. Sekretariat Inovasi sangat sering digunakan sebagai tempat rapat untuk setting demo. Hingga akhirnya, ketika para anggota tertangkap di jalanan saat demonstrasi dan dibatasi ruang gerak serta idenya. Muncul idealisme yang lagi-lagi menjadi vitamin militansi, yaitu “Kalau Mulutmu Dibungkam Angkatlah Penamu”.
Alat-alat pergerakan yang dimanfaatkan mulai menggunakan media internet melalui berita-berita email yang kemudian di foto kopi, selanjutnya dibuat menjadi selebaran. Memang, terbitan menjadi tersendat karena suntikan dana yang tak lagi lancar. Bahkan sekitar dua tahun sebelum kejatuhan Soeharto tidak lagi terbit majalah. Kondisi ini membuat mereka bersiasat dengan menerbitkan edisi buletin yang dikenal dengan sebutan “jari-jari”. Buletin booklet Inovasi hitam putih, yang di foto-kopi selanjutnya disebar ke mahasiswa. Beritanya adalah seputar pergerakan mahasiswa nasional dan regional Sulawesi Utara yang mulanya disebar-luaskan lewat email. Isinya lebih banyak berupa ajakan perjuangan dan kritik terhadap kebijakan serta sikap pemerintah. Melalui kondisi-kondisi seperti ini, mereka seperti juga membakukan identitas mereka yang tetap memiliki akses ke pimpinan universitas dan daerah, tapi masih idealis, dan terlebih-lebih miskin, kumuh, kucel serta pemberontak.  
                Sampai akhirnya, ketumbangan orde baru juga menandai puncak perjuangan awak Inovasi yang dianggap berhasil menggerakkan mahasiswa Unsrat Manado bahkan di Sulawesi Utara, yang membuat mereka menjadi golongan-golongan darah biru angkatan ’98 di regional Indonesia yang terkenal idealis. Dimana, sebuah catatan yang masih menjadi cerita hingga kini, terutama bagi calon anggota, bahwa Inovasi-lah yang mengirim anggotanya dua orang dalam demo besar di Jakarta Mei 1998 sebagai wakil mahasiswa Sulawesi Utara, yaitu Maxi Kalangi dan Victor Ratumbanua.
                Pada masa ini, kita melihat bahwa ada transformasi identitas di Inovasi terutama bagi anggotanya. Dari organisasi yang dikenal elite dan mewah menjadi organisasi yang anggotanya idealis, pemberontak, cinta rakyat kecil, kucel, maskulin, kritis dan terlebih tidak bisa lepas dari cap sebagai sarangnya mahasiswa “merah” atau GMNI. Ditambah, yel-yel anggota Inovasi pun menjadi sama dengan GMNI, yaitu tangan kiri dikepal dan diangkat ke atas serta memekikkan MERDEKA.
Memasuki milenium baru, kekuatan organisasi ini terlihat menjadi lemah. Terutama karena memasuki masa plot atau klimaks menurun. Setelah tidak adanya musuh yang telah berhasil ditumbangkan dan tujuan bersama, serta terjebak pada euforia kemenangan. Banyak anggotanya lebih senang mengambil tempat dalam kegiatan politik praktis daerah yang memang gandrung merekrut aktivis Inovasi sebagai anggotanya. Terutama karena tawaran itu dianggap lebih menjanjikan secara finansial dari sekedar menjadi miskin-idealis di Inovasi. Kembali lagi, persoalannya adalah kooptasi yang bersifat pasifis dan menghegemoni. Jadi, “kekalahan” mereka lebih karena kondisi internal yang kurang bisa dikontrol
Sekalipun, memang tradisi idealisme ala GMNI masih dipertahankan hingga kini, termasuk identitas aktivis mahasiswa “miskin” yang terlanjur dikenal melekat pada mereka. Walau tetap masih kritis dan “membangkang”. Penurunan kuantitas terbitan serta kualitasnya tetap terasa. Tidak lagi ada terbit majalah, melainkan –hanya- Tabloid yang bergantung pada subsidi dana kemahasiswaan serta dibagikan gratis. Kekritisan Inovasi inipun sepertinya menjadi sulit berkompromi dengan pimpinan Universitas, sehingga organisasi ini ditekan dan tak nampak memiliki semangat militansi yang cukup untuk keluar dari masalah. Akhirnya-pun, kondisi ini membuat geliat organisasi ini semakin menurun, sekalipun masih mempertahankan idealisme yang terlihat romantistik, namun hal tersebut nampak kurang laku untuk dijual kepada calon-calon anggota agar bisa bergabung dengan organisasi ini. Jadi bisa dikatakan, Inovasi, akhir paruh pertama hingga awal tahun 2010 terlihat sekarat. Hidup tidak, matipun segan.
Bulan Maret tahun 2010, ada beberapa anak muda yang direkrut dan dilantik sebagai pengurus Inovasi sekaligus merayakan hari lahir organisasi. Mereka melakukan beberapa terobosan dengan menyadari potensi dan kekurangan yang ada. Posisi subjektif-kritis yang menjadi tradisi tetap dipertahankan. Namun, karena menyadari posisi tersebut tidak menguntungkan untuk memperoleh dana operasional, mereka memaksimalkan sumber daya dengan menerbitkan buletin dalam bentuk full-colour print. Langkah baik yang dijejaki adalah membuat edisi on-line yang menempel di  situs wordpress.com, alamatnya bisa dikunjungi pada http://inovasionline.wordpress.com/. Edisi “murahan” memang, gratis dan terlihat cocok dengan tradisi miskin para anggotanya yang juga dilegitimasi sebagai penerus KOPASTALA (Komando Pasukan Tahan Lapar). Namun, ini cukup untuk memperlihatkan kecenderungan mereka dalam berjuang membangun model-model civil society sebagaimana menjadi ide dasar dalam bentuk-bentuk dan ideologi new-media. Apalagi opini dan berita dalam situs ini terlihat subjektif-kritis.
                Walaupun terlambat memang, karena kehadiran edisi on-line majalah ini, telah didahului oleh edisi yang lebih mapan dari Pers Mahasiswa UI misalnya yang alamat situsnya mendapat tempat pada alamat situs resmi universitas, yaitu http://suma.ui.ac.id/. Atau jika dibandingkan dengan kepunyaan majalah Balairung UGM yang memiliki alamat situs mandiri di www.balairungpress.com. Tetapi setidaknya sebuah usaha untuk mempertahankan ideologi, identitas dan pergerakan mahasiswa telah mereka lakukan. Dalam bentuk-bentuk khas mereka tentunya, ketika didukung lembaga induk ataupun ketika dibiarkan terlantar-lepas. Waktu nyaman ataupun ketika bersiasat menghadapi sekarat.



Penutup
Kesemua hal yang dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya memang menjadi tumpang tindih. Dimana Inovasi menjadi media –sebagai majalah dan organisasi-, yang tidak hanya merepresentasi ide anggotanya tetapi juga identitas yang melekat pada mereka. Disamping itu menjadi salah satu alat gerakan kemahasiswaan, termasuk menjadi gerakan itu sendiri. Sehingga sulit rasanya memisahkan realitas-realitas ini secara terpisah dan berelasi secara sendiri-sendiri. Ditambah lagi, secara ideologis dan fisis, anggota Inovasi dari bentuk dan semangat old-media mereka mulai beranjak menekankan semangat new media yaitu dengan memperkuat subjektifitas yang fleksibel pada standard, dengan mulai tidak sekedar memberitakan kejadian tetapi mengajak pembaca ikut serta dalam perjuangan mereka. Apalagi, mulai dimanfaatkannya media internet dalam hal ini email dan web-blog sebagai media komunikasi, siasat perjuangan dan sumber serta corong berita.
Kita melihat, dalam banyak sisi, subjek komunal atau model civil society anggota media diperkuat disini. Sangat nampak terutama dari model-model perjuangan yang tanpa modal dari lembaga induk dan hanya mengandalkan swadaya anggotanya.
                Namun begitu, dinamika sebagaimana yang telah dijelaskan di atas masihlah terbuka kemungkinan untuk berkembang lebih lanjut. Karena, sebagaimana waktu masih berputar, begitu pula geliat dalam organisasi ini. Sehingga, maksud implisit dari tulisan ini, yaitu sekedar menjadi pembuka jalan untuk studi-studi sejenis lanjutan dalam topik spesifik, bisa terlaksana atau setidaknya terstimulus. Dengan tekanan konsentrasi adalah representasi pada proses dan bukan hasil. Sehingga, wacana-wacana semacam ini menjadi lebih berkembang luas dan sebagaimana dalil new-media, tidak perlu dan tidak harus ter-standarisasi.

Kepustakaan
Bailey, Olga G., Bart Cammaerts dan Nico Carpatiers, Understanding Alternative Media (Berkshire: Open University Press, 2007)

Brown, Rupert, “Social Identity (Identitas Sosial)”, di dalam Adam Kuper dan Jessica Kuper (Eds.), Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial [Terj.] (Jakarta: Rajawali Press, 2000) hlm. 986-987

Creeber, Glen, “Digital Theory: Theorizing New Media”, di dalam Glen Creeber (Ed.), Digital Culture (Berkshire: Open University Press, 2011) hlm. 11-22

Goode, Luke, “Social News, Citizen Journalism and Democracy”, di dalam New Media Society, Vol. 29, No. 8 (Sage Publications, 2009) hlm. 1287-1305

Koentjaraningrat, et.al., Kamus Istilah Antropologi (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984)

Sarup, Madan, Posstrukturalisme dan Posmodernisme Sebuah Pengantar Kritis [Terj.] (Yogyakarta: Jendela, 2004 [1993])

Schreiner, Klaus H., “Penciptaan Pahlawan-pahlawan Nasional, Dari Demokrasi Terpimpin Sampai Erde Baru 1959-1993”, di dalam Henk Schulte Nordholt (Ed.), Outward Appearances, Trend Identitas Kepentingan [Terj.] (Yogyakarta: LKiS, 2005 [1997]) hlm. 381-426

Sen, Krishna dan David Hill, Internet and Democracy in Indonesia (London dan New York: Routledge, 2005)

Suyono, Ariyono dan Amirudin Siregar, Kamus Antropologi (Jakarta: Akademika Pressindo, 1985)

Sumber Lain:


0 komentar:

Posting Komentar