Rabu, 04 Juni 2014

Jurnal tidak sah bab pertama : baru tiba.



Jurnal tidak sah bab pertama : baru tiba.
Tujuh belas Agustus. Tanggal di proklamirkannya kemerdekaan bangsa kita, Negara tercinta Indonesia. Tanggal direngkuhnya kemerdekaan, titik cerah menuju sebuah kebebasan. Hari ini tanggal yang sama tapi tahun berbeda. Tujuh belas Agustus, tahun dua ribu tiga belas. Upacara Negara dan perayaan kemerdekaan ke enam puluh delapan bisa jadi telah dihelakan di penjuru-penjuru negeri. Setidaknya orang orang bangsa ini tahu mereka telah merdeka, meskipun kata merdeka itu sendiri terkadang menjadi absurd bagi mereka. Berbeda dengan orang orang merdeka itu, rasa penasaran sedang menyelimutiku. “apa saat ini aku juga tengah berusaha menjemput kemerdekaanku? Ataukah justru sedang kugadaikan kebebasan itu?”.
Merantau. Aku tidak sepenuhnya pergi merantau. Belum bisa dikatakan begitu. Lagipula Aku bukan pergi untuk mencari nafkah. Aku hendak menuntut ilmu, mungkin juga sedikit belajar tentang kehidupan. Setidaknya itu yang kuniatkan dan kurencanakan dari awal. Tapi sekarang susunan kehidupanku terlihat sedikit buram dan kabur. Aku hanya sedang mengalami jet lag. Ah.., bodoh. Itu alasan yang bisa kau gunakan setelah berpergian dengan pesawat terbang. Bukankah kau sedang menaiki sebongkah besi besar dilautan bernama kapal?. “jangan sok keren. Yang ada kau itu sedang mabuk laut” otakku menimpali setiap kalimat yang kupikirkan. Lagi pula tempat aku merantau tidak begitu jauh dari kota tempat sebagian besar umurku dihabiskan selama ini. Merantau dari kotaku dengan pesawat nantinya akan terasa seperti mimpi, karena hanya menghabiskan waktu sejam. Tapi dengan kapal laut akan memakan waktu 24 jam, sehari semalam. Setelah kemarin melihat wajah ayahku yang mengantar sampai diatas kapal dan memberikanku sebuah pelukan yang tidak biasa-biasanya beliau berikan, baru saat itulah aku merasa sedikit tercubit. Mungkin dengan itu aku akan sedikit sadar, bahwa perantauan ini nyata. Meskipun sampai saat ini semua masih seperti mimpi untukku.
Lagipula aku tidak akan hidup seorang diri disana. Seperti perjalanan di kapal ini, ada dua orang kakak yang akan menjagaku. Mereka kakak beradik laki-laki dan perempuan. Sebenarnya diantara aku dan kedua kakak tersebut tidak ada hubungan saudara, tapi karena kedua orang tua kami sudah berteman sejak lama maka seperti kutipan dari sebuah film india terkenal ‘kabhi khushi kabhi gham’ yang berbunyi “terkadang orang asing terasa seperti keluarga” hal itulah yang terjadi pada kami. Kakak yang pria, dua tahun lebih tua dariku dan kakak yang perempuan setahun lebih tua dariku. Kelak setibanya disana kami akan tinggal di kos yang sama dan berkuliah di kampus yang sama. Sebenarnya aku masih belum percaya kalau kehidupan yang akan kujalani adalah kehidupan seorang anak kuliahan. Gadis manja berumur 18 tahun ini terlihat sangat kecil di dunia yang besar. Satu satunya ruang yang dia kuasai adalah sebuah tempat dengan plafon putih dan dinding bercat biru, kamar milik kakaknya. Tempat waktunya habis untuk berguling, menghayal, tertawa, menulis, dan diam-diam menjadi gila bersama umur yang bertambah tua. Tapi sekarang gadis itu ada di sini, iya aku sedang menunggu menit menit yang akan mengantarkanku semakin dekat dengan negeri perantauan.
Aku dan kak tiya baru sampai di dek atas tempat mushola berada. Setelah membuka pintu kapal, seketika angin kencang dan gerimis menghadiahkan kami suasana dingin malam. Aku memasukkan tangan ke dalam saku jaket yang kupakai. Jaket ini pemberian kakak sepupuku ketika dia berkunjung kerumah beberapa hari sebelum aku berangkat. Dia sedang memakai jaket itu saat datang. Dari percakapan kami sekeluarga, aku tahu bahwa ternyata dia baru membeli jaket itu sehari sebelumnya. Tapi setelah tahu aku akan berangkat, tanpa pikir panjang lagi jaket itu langsung dilepasnya dan segera dia berikan padaku. Sebenarnya aku menjadi sedikit terharu saat itu, bahkan hanya dengan mengingatnya aku jadi terharu lagi sekarang.
Padahal secara teknis aku sudah memakai dua lapis jaket, karena baju yang kupakai di dalam jaket sebenarnya ya juga jaket. Tapi “Hfft, rupanya udara dingin masih saja berusaha menyentuh kulitku” pikirku dengan kege-eran yang berlebihan. Jangan-jangan kege-eran ini gara-gara jetlag? “bukaaaaan….,” otakku histeris sendiri.  Akhirnya aku memilih untuk mendekatkan kedua lenganku ke depan dada, mencoba untuk meraup lebih banyak rasa hangat. Adzan isya sudah berkumandang sebelum kami menuju kemari, mungkin sholat isya berjamaah juga sudah selesai. Jadi kami berjalan santai sambil berbincang, sementara mata kami sibuk melihat ke kiri dan kekanan.
Keadaan diluar dek ini cukup ramai, tidak berbeda dengan bagian dalamnya yang penuh. Beberapa pria sedang merokok sambil menopang tangan mereka di pagar-pagar batas kapal, beberapa orang sedang tidur, makan dan minum, dan beberapa orang lainnya sedang.. entahlah, melamunkan hidup mereka mungkin.  Tidak jauh dari pagar tempat masuk ke wilayah mushola, ada seorang ‘bule’. Bule itu sedang bercakap dengan salah seorang dari kumpulan pria-pria berpeci dan berpakaian khas jamaah tabligh yang tengah berkumpul di dek ini. Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka terlalu jelas, karena suara mesin dan deburan ombak yang dipecah laju kapal.
Karena melihat ada bule, aku jadi berubah excited sendiri. Meskipun tubuhku terlalu lelah untuk menunjukkan itu, tapi gara gara ada si bule aku dan kak tiya sempat berjalan cukup jauh melewati mushola untuk mencari tempat wudhu wanita yang kami kira ada di depan. Padahal tempat wudhunya ada di bagian dalam wilayah mushola yang sudah kami lewati sebelumnya, terpaksa kami berputar arah lagi. Saat akan masuk, samar samar kudengar si bule yang berbadan jangkung dan berambut sedikit panjang ala boyband korea itu sedang bertanya mengenai mushola, tempat mana untuk pria dan yang mana untuk wanita mengambil wudhu. Juga tentang toilet, serta apakah dia bisa masuk ke mushola atau tidak. Pertanyaan yang menarik. Lalu setelahnya lagi aku sudah berjalan masuk ke tempat wudhu, sehingga suara mereka sudah tidak terdengar. Berganti dengan suara-suara berjatuhan air kran yang membuatku tergiur untuk tetap berada disana. “air…, air, saat seperti ini shalat lebih dari sekedar penyelamat”, Meski udara dingin, tubuhku terasa gerah karena tidak bisa dengan leluasa pergi ke kamar mandi. Kamar mandi di kapal yang tidak kuingat apa namanya ini bisa dibilang sudah memprihatinkan sekali. Aku tidak mengingat nama kapal ini bukan karena kapal ini tidak penting atau supaya terkesan keren, tapi karena daya hafalku untuk nama dan daerah memang sudah buruk dari dulu. Pelajaran geografi dan sejarah mungkin bisa membunuhku, syukurlah jurusan IPA di SMA tidak membuatku harus mempelajari mereka lagi. Aku akan mempelajari kedua pelajaran itu nanti, untuk bersenang-senang karena sebenarnya mereka menarik. Tapi tidak sebagai subjek di kelas, masalahnya sel sel otakku tidak bisa menyerap mereka dengan cepat.
Setelah berwudhu kami hendak masuk ke dalam mushola, di depan pintu masuk ternyata ada beberapa orang pria yang tengah bercakap cakap. Kami jadi merasa sedikit malu untuk berjalan masuk. Tapi setelah mengucapkan permisi akhirnya kami lewat juga. Pria-pria setengah baya itu bisa jadi tadi baru ikut melaksanakan sholat isya berjamaah dan masih tinggal untuk berdiskusi masalah ilmu disana, walaupun pasti ada juga yang tinggal disana bukan dengan alasan itu. Melainkan karena tidak mendapatkan tempat yang cukup baik di kapal, atau karena suasana bagian luar mushola yang bagaimanapun pasti lebih baik dari suasana dek, atau bisa juga karena airconditioner mushola yang udaranya luar biasa segar. Tidak seperti udara dari airconditioner dalam kapal yang sudah terkontaminasi oleh asap rokok orang–orang bandel yang tetap saja merokok di dalam, padahal sudah jelas jelas hal itu dilarang. Sebenarnya tidak diperbolehkan bagi penumpang apalagi penumpang bertiket ekonomi yang tidak mendapatkan tempat tidur untuk tinggal dimushola. Mushola juga sebenarnya milik penumpang islam lain kalau beberapa orang boleh tetap di sana sampai mereka tiba di tujuan. Tapi terkesan yang alim saja yang boleh tetap berada dimushola. Kalau menurutku sih boleh boleh saja orang-orang itu tetap dimushola, asalkan mereka selalu menjaga kebersihan.
Kami sedang melipat mukenah usai melaksanakan sholat, sambil berbincang dengan volume suara yang pelan sementara AC mushola terus memanjakan kami. “ya..h, sudah mau balik.” Kataku. Kak tiya menyahuti “maunya tinggal disini saja. hehe”, “iyo, su pemalas turun jadinya e.. gara-gara AC…, haha” balasku dengan nada sedikit datar karena harus mempertahankan volume suara yang pelan. Dari kalimat yang terakhir kuucapkan itu, mungkin kalian juga sudah bisa tahu kalau aku berasal dari bagian timur Indonesia. Kotaku.., ah kotaku. “Jangan bicarakan topik yang itu sekarang, ayo balik”, yang itu kata otakku. Dasar berisik.
Diam-diam aku berharap bule yang tadi masih ada. Soalnya akan jadi menyenangkan kalau aku juga bisa punya percakapan dalam bahasa inggris dengannya, menambah salah satu pengalaman menarik dalam hidupku. “sejak kapan hidupmu menarik?” apa itu suara dari otakku sendiri lagi?. Tidak apa-apalah, aku akan terkejut kalau itu ternyata suara kak tiya. Setelah melewati pria pria di pintu masuk mushola lagi, aku menengok mencoba mencari si bule lagi. Tapi ternyata hilanglah satu kesempatan berhargaku, si bule sudah tidak ada. Dia telah menghilang, dibawa terbang oleh angin malam yang bertiup semakin kencang. “woy, nggak usah alay deh. Palingan juga dia balik ke tempatnya.” Iya iya, dasar otak berisik. Ketika berjalan pulang, langkah kakiku berubah pelan sementara mataku tidak bisa melepaskan satu pemandangan yang akupun ingin berhenti memandangnya, sedikit lagi aku akan terkesan tidak sopan karena memandang terlalu lama. Sementara otakku berputar keras mencoba membungkam pertanyaan yang membuat otakku jadi terasa panas. Seorang wanita berkerudung hitam panjang sedang duduk di atas tikar harga sepuluh ribuan yang biasa dijual di kapal. Kerudungnya tidak bisa diam, angin membuatnya terus bergerak kesana kemari. Di kapal ini banyak wanita yang juga memakai kerudung. Tapi selain kerudung panjangnya, cadar itu bisa membuatnya tidak harus diterpa angin seperti ini. Dia bisa masuk dan duduk di dalam mushola seperti wanita bercadar lainnya yang kutemui di mushola tadi.
Tapi kenapa tidak tinggal di bagian dalam dek kapal?, ada dimana mahram prianya yang kulihat ikut berangkat bersamanya dari pelabuhan kotaku kemarin? Jangan bilang si pria lebih memilih tetap berada di mushola dan membiarkannya sendiri? apa wanita itu tidak merasa dingin?. Jangan bilang wanita itu tinggal di sini terus dari kemarin?. Kenapa tidak pergi ke dalam mushola saja? padahal anginnya kencang begini. Rasanya aku ingin mengajak wanita muda itu ikut ketempatku dan kakak-kakak saja, bagaimanapun disana akan lebih baik daripada disini. Tapi siapa tahu dia punya alasannya sendiri. Karena takut akan menyinggungnya, aku hanya  diam dan berjalan mengikuti langkah kaki kak Tiya. Sambil memikirkan pertanyaan terakhir sebelum leherku berhasil kuputar menghadap kedepan, “apa dia akan turun di pelabuhan yang sama denganku?, atau jangan bilang perjalanan ini masih akan berlanjut untuknya, seperti ini?”.
Meskipun ada orang-orang yang entah apa sebabnya dengan senang hati memilih tidur di bagian luar dek, tapi kebanyakan orang melakukannya dengan terpaksa karena memang tidak ada lagi tempat di bagian dalam dek kapal yang tersisa seperti kali ini. Aku dan kedua kakakku juga tidak tidur di tempat tidur yang telah disediakan kapal, tapi untunglahlah kami masih bisa mendapatkan tempat untuk tidur setelah menggelar tikar di bagian belakang deretan tempat-tempat tidur besi yang ada. Selama perjalanan menuju mushola, kami kadang sampai merasa segan karena harus melewati orang-orang yang sedang duduk atau bahkan tidur di geladak dan depan tangga. Untuk ke mushola kami harus bolak balik lewat di depan mereka dan kadang tanpa sengaja suara langkah kaki kami jadi terdengar berisik. Aku sendiri tidak dapat membayangkan bagaimana kalau aku dan kakak-kakak yang harus tidur di sana seperti orang-orang itu. Pasti kurang nyaman, setiap orang yang lewat memberikan tatapan yang kadang membuat risih, lantai yang kurang bersih, belum lagi suara anak-anak kecil yang tetap bersikeras berlarian kesana kemari meskipun jalanan sudah hampir penuh dengan orang orang yang duduk atau tidur, gelaran tikar dan tumpukan barang-barang.  
Syukurlah…, untunglah kami tidak mengalaminya, untunglah perjalanan kami hanya 24 jam, untunglah kami tidak begini.. untunglah kami tidak begitu, penjabaran panjangku yang menegaskan kebaikan Tuhan.  Aku hanya merasa sangat beruntung.
Jam di handphoneku menunjukkan pukul dua pagi dini hari. Ada pesan masuk lagi, bukan dari mama atau bapak. Dari sahabatku yang satu ‘itu’. Aku melihat keluar jendela mobil, sepertinya gerimis mulai turun lagi di luar sana. Sementara lagu lagu lawas yang menyentuh mulai terdengar dari radio mobil, entah kenapa perasaanku jadi sedikit gugup. Beberapa menit lalu aku dan kedua kakak yang telah ‘dititipi’ ‘aku’ oleh kedua orang tuaku baru berdesakkan turun dari kapal,mulanya aku dan kakak pria yang turun duluan. Kemudian  kak tiya dijemput lagi sambil membawa barang-barang yang masih tersisa di atas kapal. Tugasku menjaga barang-barang yang sudah dibawa ke bawah dan menunggu kakak-kakak tiba. Begitulah strategi kami supaya semua barang-barang tetap aman walaupun tidak bisa dibawa turun dalam sekali angkut. Kami tidak menggunakan kuli, aku sendiri sedang berusaha membawa bekal dari mama dan bapak sebanyak yang kumampu. Meskipun badanku hampir bisa dibilang kurus, tapi aku segan kalau harus membuat kakak-kakak lebih repot lagi dengan barang-barangku, sekarang saja sudah sangat merepotkan.
Aku melihat si bule yang semalam didepan mushola juga ikut turun bersama kami. Dia tidak membawa terlalu banyak barang, hanya sebuah tas punggung. Gayanya sangat santai dibandingkan dengan orang-orang lain yang membawa sangat banyak barang. Ya… contohnya kami ini.  Bule itu sudah tidak terlihat lagi sekarang. Apa kami akan berpisah seperti ini saja?. Beneran hanya begini?. Tanpa terlibat sebuah percakapan sekalipun?. “please deh …, nggak usah lebay dong.”
Iya, ku akui yang barusan tadi memang kedengaran sedikit lebay. “sedikit?”. Baiklah, tolong anggap saja saya tidak pernah mengatakan itu…, maafkan saya maafkan saya. “Sekarang juga masih alay tau.”. Oh, masa’? beneran? Yakin? Ciyus nih..? Miapa?. Ya sudahlah, berarti bener alayku memang sudah akut. Nggak papa lagi, kata bang Raditya Dika alay itu proses menuju dewasa. “Perasaan dari dulu alay mulu’ deh, kapan dewasanya?”. Kan ini lagi prosseesss …., entar juga dewasa. “kapan kira-kira?” ya nanti. Ngomong-ngomong apa di provinsi sini emang banyak bulenya?, jadi penasaran. “masih aja ngarep bisa ngobrol ama bule.”. Diam, berisik tahu. Itu namanya harapan.
Setelah melewati kerumunan orang yang bergerak kedaratan, akhirnya kami tiba di sebuah tempat ramai tapi tidak terlalu riuh. Tepatnya di suatu tempat yang untuk pertama kalinya kutapaki, “Pelabuhan Bitung”. Disana banyak orang-orang dengan barang bawaan berkardus-kardus, juga banyak anak anak kecil di gendongan yang berpegangan erat pada orang tua mereka. Lalu ada suara berisik pria di pojokan pagar yang terus berkata “hallo, hallo, hallo,” kemudian memarahi handphonenya sendiri karena tidak memberi jawaban apapun. Ada juga suara tergoyang goyangnya pagar pemberi batas antara penumpang dan penjemput yang tetap dijaga oleh aparat negara dengan ketat, selain itu ada suara panggilan-panggilan nama dan suara mesin kapal atau entahlah apa itu yang membuat keadaan jadi terasa lebih asing, serta suara udara malam menjelang subuh yang seolah membisiki telingaku “kau sudah tiba ternyata”.
Udara masih sedingin ini. Selama menunggu, aku bertanya-tanya apa wanita berkerudung di luar dek itu sekarang sudah mendapatkan tempat untuk tidur di bagian dalam dek? berhubung penumpang yang turun tadi cukup banyak. Dalam hati aku mengucap doa untuknya, semoga dia juga selamat, sehat sampai tujuan. Gerimis sepanjang malam tiba-tiba saja berhenti sejak kapal mulai bersandar. Aku mendongak ke atas langit, mencuri pandang pada hamparan hitam tanpa bintang. Polaris juga tidak ada?. Bintang utara yang akan menemani para pelancong dan mengawalnya pulang meskipun mereka tersesat. ‘Polaris’, sebuah kata yang ditulis oleh pria berkacamata di kotaku sana. “memangnya di kotamu ada berapa pria berkacamata?” siapa itu yang gangguin lagi? Diam dulu napa sih?.
Pada mulanya aku tidak tahu, tidak mengenal Polaris sama sekali. Tapi dia menulis di cerpennya : “Shu, mama pernah bercerita tentang Polaris. Bintang yang tidak pernah berpindah, bintang yang akan selalu menunggu, oleh karena itu Ai akan menjadi Polaris, jadi temukan jawaban mu, shu”. Untuk pertama kalinya aku mendengar kata itu, polaris. Karena itu bagiku dialah Polaris, dan akulah Polaris untuknya. Mungkin itu imajinasiku saja, biasa…, alay. Shu dan Ai adalah nama dua karakter di dalam cerpen yang dia tulis. Eh bukannya aku baru saja mengutip kalimat dari cerpennya?. Biarlah, aku justru penasaran bagaimana reaksinya ketika tahu aku melakukan itu. “sekarang ini… dia sedang apa?” ah sial…, sempat-sempatnya aku memikirkan itu.
Tiba-tiba aku teringat kata mama “kalau sudah sampai di pelabuhan, barang barang itu dilihat. Jangan sampai ada yang hilang. Katanya di sana banyak copet” dan setelahnya disambung dengan cerita yang akhir-akhir ini sering mampir ketelingaku sebagai pelengkap wejangan. Cerita tentang salah satu sepupu tetangga dekat rumah yang pernah kehilangan hampir semua barangnya saat baru turun di pelabuhan ini, padahal hanya sebentar saja dia tidak mengawasi barang-barangnya saat sibuk memanggil ojek. Langsung deh, kepalaku jadi terarah ke barang-barang yang sedang kutunggui bersama paman kakak-kakak dan keluarganya yang sudah menunggu kami dari tadi.
Ada banyak yang menawarkan jasa antar dengan mobil. Syukurlah kami tidak membutuhkannya, paman kakak-kakak menjemput kami dengan mobilnya. Setelah memasukkan berbagai macam barang bawaan kami ke dalam bagasi mobil, akhirnya berangkatlah kami. Menuju kota yang untuk sampai di sanapun belum-belum sudah membuatku sakit kepala dan berurai air mata. Menuju… kota itu, kota Manado. Entah akan menjadi seperti apa perjalanan ini. Perjalanan demi perjalanan untuk sebuah perjalanan lainnya. Kebebasanku, bagaimana kabarmu?. Hidupku.., akan menjadi semenarik apa. Aku merasa bersemangat hanya dengan memikirkannya.(Bustamin-Kru baru Ino)

0 komentar:

Posting Komentar