Jurnal
tidak sah bab pertama : baru tiba.
Tujuh
belas Agustus. Tanggal di proklamirkannya kemerdekaan bangsa kita, Negara
tercinta Indonesia. Tanggal direngkuhnya kemerdekaan, titik cerah menuju sebuah
kebebasan. Hari ini tanggal yang sama tapi tahun berbeda. Tujuh belas Agustus,
tahun dua ribu tiga belas. Upacara Negara dan perayaan kemerdekaan ke enam
puluh delapan bisa jadi telah dihelakan di penjuru-penjuru negeri. Setidaknya
orang orang bangsa ini tahu mereka telah merdeka, meskipun kata merdeka itu
sendiri terkadang menjadi absurd bagi mereka. Berbeda dengan orang orang
merdeka itu, rasa penasaran sedang menyelimutiku. “apa saat ini aku juga tengah
berusaha menjemput kemerdekaanku? Ataukah justru sedang kugadaikan kebebasan
itu?”.
Merantau.
Aku tidak sepenuhnya pergi merantau. Belum bisa dikatakan begitu. Lagipula Aku
bukan pergi untuk mencari nafkah. Aku hendak menuntut ilmu, mungkin juga sedikit
belajar tentang kehidupan. Setidaknya itu yang kuniatkan dan kurencanakan dari
awal. Tapi sekarang susunan kehidupanku terlihat sedikit buram dan kabur. Aku
hanya sedang mengalami jet lag. Ah..,
bodoh. Itu alasan yang bisa kau gunakan setelah berpergian dengan pesawat
terbang. Bukankah kau sedang menaiki sebongkah besi besar dilautan bernama
kapal?. “jangan sok keren. Yang ada kau itu sedang mabuk laut” otakku menimpali
setiap kalimat yang kupikirkan. Lagi pula tempat aku merantau tidak begitu jauh
dari kota tempat sebagian besar umurku dihabiskan selama ini. Merantau dari
kotaku dengan pesawat nantinya akan terasa seperti mimpi, karena hanya
menghabiskan waktu sejam. Tapi dengan kapal laut akan memakan waktu 24 jam,
sehari semalam. Setelah kemarin melihat wajah ayahku yang mengantar sampai
diatas kapal dan memberikanku sebuah pelukan yang tidak biasa-biasanya beliau
berikan, baru saat itulah aku merasa sedikit tercubit. Mungkin dengan itu aku
akan sedikit sadar, bahwa perantauan ini nyata. Meskipun sampai saat ini semua
masih seperti mimpi untukku.
Lagipula
aku tidak akan hidup seorang diri disana. Seperti perjalanan di kapal ini, ada
dua orang kakak yang akan menjagaku. Mereka kakak beradik laki-laki dan
perempuan. Sebenarnya diantara aku dan kedua kakak tersebut tidak ada hubungan
saudara, tapi karena kedua orang tua kami sudah berteman sejak lama maka
seperti kutipan dari sebuah film india terkenal ‘kabhi khushi kabhi gham’ yang berbunyi “terkadang orang asing
terasa seperti keluarga” hal itulah yang terjadi pada kami. Kakak yang pria,
dua tahun lebih tua dariku dan kakak yang perempuan setahun lebih tua dariku.
Kelak setibanya disana kami akan tinggal di kos yang sama dan berkuliah di
kampus yang sama. Sebenarnya aku masih belum percaya kalau kehidupan yang akan kujalani
adalah kehidupan seorang anak kuliahan. Gadis manja berumur 18 tahun ini
terlihat sangat kecil di dunia yang besar. Satu satunya ruang yang dia kuasai
adalah sebuah tempat dengan plafon putih dan dinding bercat biru, kamar milik
kakaknya. Tempat waktunya habis untuk berguling, menghayal, tertawa, menulis, dan
diam-diam menjadi gila bersama umur yang bertambah tua. Tapi sekarang gadis itu
ada di sini, iya aku sedang menunggu menit menit yang akan mengantarkanku
semakin dekat dengan negeri perantauan.
Aku
dan kak tiya baru sampai di dek atas tempat mushola berada. Setelah membuka
pintu kapal, seketika angin kencang dan gerimis menghadiahkan kami suasana
dingin malam. Aku memasukkan tangan ke dalam saku jaket yang kupakai. Jaket ini
pemberian kakak sepupuku ketika dia berkunjung kerumah beberapa hari sebelum aku
berangkat. Dia sedang memakai jaket itu saat datang. Dari percakapan kami
sekeluarga, aku tahu bahwa ternyata dia baru membeli jaket itu sehari
sebelumnya. Tapi setelah tahu aku akan berangkat, tanpa pikir panjang lagi jaket
itu langsung dilepasnya dan segera dia berikan padaku. Sebenarnya aku menjadi sedikit
terharu saat itu, bahkan hanya dengan mengingatnya aku jadi terharu lagi sekarang.
Padahal
secara teknis aku sudah memakai dua lapis jaket, karena baju yang kupakai di
dalam jaket sebenarnya ya juga jaket. Tapi “Hfft, rupanya udara dingin masih saja
berusaha menyentuh kulitku” pikirku dengan kege-eran yang berlebihan.
Jangan-jangan kege-eran ini gara-gara jetlag? “bukaaaaan….,” otakku histeris
sendiri. Akhirnya aku memilih untuk mendekatkan
kedua lenganku ke depan dada, mencoba untuk meraup lebih banyak rasa hangat. Adzan
isya sudah berkumandang sebelum kami menuju kemari, mungkin sholat isya
berjamaah juga sudah selesai. Jadi kami berjalan santai sambil berbincang,
sementara mata kami sibuk melihat ke kiri dan kekanan.
Keadaan
diluar dek ini cukup ramai, tidak berbeda dengan bagian dalamnya yang penuh. Beberapa
pria sedang merokok sambil menopang tangan mereka di pagar-pagar batas kapal,
beberapa orang sedang tidur, makan dan minum, dan beberapa orang lainnya sedang..
entahlah, melamunkan hidup mereka mungkin.
Tidak jauh dari pagar tempat masuk ke wilayah mushola, ada seorang
‘bule’. Bule itu sedang bercakap dengan salah seorang dari kumpulan pria-pria
berpeci dan berpakaian khas jamaah tabligh yang tengah berkumpul di dek ini.
Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka terlalu jelas, karena suara mesin
dan deburan ombak yang dipecah laju kapal.
Karena
melihat ada bule, aku jadi berubah excited
sendiri. Meskipun tubuhku terlalu lelah untuk menunjukkan itu, tapi gara gara ada
si bule aku dan kak tiya sempat berjalan cukup jauh melewati mushola untuk
mencari tempat wudhu wanita yang kami kira ada di depan. Padahal tempat
wudhunya ada di bagian dalam wilayah mushola yang sudah kami lewati sebelumnya,
terpaksa kami berputar arah lagi. Saat akan masuk, samar samar kudengar si bule
yang berbadan jangkung dan berambut sedikit panjang ala boyband korea itu
sedang bertanya mengenai mushola, tempat mana untuk pria dan yang mana untuk wanita
mengambil wudhu. Juga tentang toilet, serta apakah dia bisa masuk ke mushola
atau tidak. Pertanyaan yang menarik. Lalu setelahnya lagi aku sudah berjalan
masuk ke tempat wudhu, sehingga suara mereka sudah tidak terdengar. Berganti
dengan suara-suara berjatuhan air kran yang membuatku tergiur untuk tetap berada
disana. “air…, air, saat seperti ini shalat lebih dari sekedar penyelamat”,
Meski udara dingin, tubuhku terasa gerah karena tidak bisa dengan leluasa pergi
ke kamar mandi. Kamar mandi di kapal yang tidak kuingat apa namanya ini bisa
dibilang sudah memprihatinkan sekali. Aku tidak mengingat nama kapal ini bukan
karena kapal ini tidak penting atau supaya terkesan keren, tapi karena daya
hafalku untuk nama dan daerah memang sudah buruk dari dulu. Pelajaran geografi
dan sejarah mungkin bisa membunuhku, syukurlah jurusan IPA di SMA tidak membuatku
harus mempelajari mereka lagi. Aku akan mempelajari kedua pelajaran itu nanti,
untuk bersenang-senang karena sebenarnya mereka menarik. Tapi tidak sebagai
subjek di kelas, masalahnya sel sel otakku tidak bisa menyerap mereka dengan
cepat.
Setelah
berwudhu kami hendak masuk ke dalam mushola, di depan pintu masuk ternyata ada
beberapa orang pria yang tengah bercakap cakap. Kami jadi merasa sedikit malu
untuk berjalan masuk. Tapi setelah mengucapkan permisi akhirnya kami lewat
juga. Pria-pria setengah baya itu bisa jadi tadi baru ikut melaksanakan sholat
isya berjamaah dan masih tinggal untuk berdiskusi masalah ilmu disana, walaupun
pasti ada juga yang tinggal disana bukan dengan alasan itu. Melainkan karena
tidak mendapatkan tempat yang cukup baik di kapal, atau karena suasana bagian
luar mushola yang bagaimanapun pasti lebih baik dari suasana dek, atau bisa
juga karena airconditioner mushola
yang udaranya luar biasa segar. Tidak seperti udara dari airconditioner dalam kapal yang sudah terkontaminasi oleh asap
rokok orang–orang bandel yang tetap saja merokok di dalam, padahal sudah jelas
jelas hal itu dilarang. Sebenarnya tidak diperbolehkan bagi penumpang apalagi
penumpang bertiket ekonomi yang tidak mendapatkan tempat tidur untuk tinggal
dimushola. Mushola juga sebenarnya milik penumpang islam lain kalau beberapa
orang boleh tetap di sana sampai mereka tiba di tujuan. Tapi terkesan yang alim
saja yang boleh tetap berada dimushola. Kalau menurutku sih boleh boleh saja
orang-orang itu tetap dimushola, asalkan mereka selalu menjaga kebersihan.
Kami
sedang melipat mukenah usai melaksanakan sholat, sambil berbincang dengan
volume suara yang pelan sementara AC
mushola terus memanjakan kami. “ya..h, sudah mau balik.” Kataku. Kak tiya
menyahuti “maunya tinggal disini saja. hehe”, “iyo, su pemalas turun jadinya e..
gara-gara AC…, haha” balasku dengan nada sedikit datar karena harus
mempertahankan volume suara yang pelan. Dari kalimat yang terakhir kuucapkan
itu, mungkin kalian juga sudah bisa tahu kalau aku berasal dari bagian timur
Indonesia. Kotaku.., ah kotaku. “Jangan bicarakan topik yang itu sekarang, ayo
balik”, yang itu kata otakku. Dasar berisik.
Diam-diam
aku berharap bule yang tadi masih ada. Soalnya akan jadi menyenangkan kalau aku
juga bisa punya percakapan dalam bahasa inggris dengannya, menambah salah satu
pengalaman menarik dalam hidupku. “sejak kapan hidupmu menarik?” apa itu suara
dari otakku sendiri lagi?. Tidak apa-apalah, aku akan terkejut kalau itu ternyata
suara kak tiya. Setelah melewati pria pria di pintu masuk mushola lagi, aku
menengok mencoba mencari si bule lagi. Tapi ternyata hilanglah satu kesempatan
berhargaku, si bule sudah tidak ada. Dia telah menghilang, dibawa terbang oleh angin
malam yang bertiup semakin kencang. “woy, nggak usah alay deh. Palingan juga
dia balik ke tempatnya.” Iya iya, dasar otak berisik. Ketika berjalan pulang, langkah
kakiku berubah pelan sementara mataku tidak bisa melepaskan satu pemandangan
yang akupun ingin berhenti memandangnya, sedikit lagi aku akan terkesan tidak
sopan karena memandang terlalu lama. Sementara otakku berputar keras mencoba
membungkam pertanyaan yang membuat otakku jadi terasa panas. Seorang wanita berkerudung
hitam panjang sedang duduk di atas tikar harga sepuluh ribuan yang biasa dijual
di kapal. Kerudungnya tidak bisa diam, angin membuatnya terus bergerak kesana
kemari. Di kapal ini banyak wanita yang juga memakai kerudung. Tapi selain kerudung
panjangnya, cadar itu bisa membuatnya tidak harus diterpa angin seperti ini.
Dia bisa masuk dan duduk di dalam mushola seperti wanita bercadar lainnya yang
kutemui di mushola tadi.
Tapi
kenapa tidak tinggal di bagian dalam dek kapal?, ada dimana mahram prianya yang
kulihat ikut berangkat bersamanya dari pelabuhan kotaku kemarin? Jangan bilang
si pria lebih memilih tetap berada di mushola dan membiarkannya sendiri? apa
wanita itu tidak merasa dingin?. Jangan bilang wanita itu tinggal di sini terus
dari kemarin?. Kenapa tidak pergi ke dalam mushola saja? padahal anginnya
kencang begini. Rasanya aku ingin mengajak wanita muda itu ikut ketempatku dan
kakak-kakak saja, bagaimanapun disana akan lebih baik daripada disini. Tapi
siapa tahu dia punya alasannya sendiri. Karena takut akan menyinggungnya, aku
hanya diam dan berjalan mengikuti
langkah kaki kak Tiya. Sambil memikirkan pertanyaan terakhir sebelum leherku
berhasil kuputar menghadap kedepan, “apa dia akan turun di pelabuhan yang sama
denganku?, atau jangan bilang perjalanan ini masih akan berlanjut untuknya,
seperti ini?”.
Meskipun
ada orang-orang yang entah apa sebabnya dengan senang hati memilih tidur di
bagian luar dek, tapi kebanyakan orang melakukannya dengan terpaksa karena
memang tidak ada lagi tempat di bagian dalam dek kapal yang tersisa seperti
kali ini. Aku dan kedua kakakku juga tidak tidur di tempat tidur yang telah
disediakan kapal, tapi untunglahlah kami masih bisa mendapatkan tempat untuk
tidur setelah menggelar tikar di bagian belakang deretan tempat-tempat tidur
besi yang ada. Selama perjalanan menuju mushola, kami kadang sampai merasa
segan karena harus melewati orang-orang yang sedang duduk atau bahkan tidur di
geladak dan depan tangga. Untuk ke mushola kami harus bolak balik lewat di
depan mereka dan kadang tanpa sengaja suara langkah kaki kami jadi terdengar
berisik. Aku sendiri tidak dapat membayangkan bagaimana kalau aku dan
kakak-kakak yang harus tidur di sana seperti orang-orang itu. Pasti kurang nyaman,
setiap orang yang lewat memberikan tatapan yang kadang membuat risih, lantai
yang kurang bersih, belum lagi suara anak-anak kecil yang tetap bersikeras
berlarian kesana kemari meskipun jalanan sudah hampir penuh dengan orang orang
yang duduk atau tidur, gelaran tikar dan tumpukan barang-barang.
Syukurlah…,
untunglah kami tidak mengalaminya, untunglah perjalanan kami hanya 24 jam,
untunglah kami tidak begini.. untunglah kami tidak begitu, penjabaran panjangku
yang menegaskan kebaikan Tuhan. Aku hanya
merasa sangat beruntung.
Jam
di handphoneku menunjukkan pukul dua
pagi dini hari. Ada pesan masuk lagi, bukan dari mama atau bapak. Dari
sahabatku yang satu ‘itu’. Aku melihat keluar jendela mobil, sepertinya gerimis
mulai turun lagi di luar sana. Sementara lagu lagu lawas yang menyentuh mulai
terdengar dari radio mobil, entah kenapa perasaanku jadi sedikit gugup. Beberapa
menit lalu aku dan kedua kakak yang telah ‘dititipi’ ‘aku’ oleh kedua orang
tuaku baru berdesakkan turun dari kapal,mulanya aku dan kakak pria yang turun
duluan. Kemudian kak tiya dijemput lagi
sambil membawa barang-barang yang masih tersisa di atas kapal. Tugasku menjaga
barang-barang yang sudah dibawa ke bawah dan menunggu kakak-kakak tiba.
Begitulah strategi kami supaya semua barang-barang tetap aman walaupun tidak
bisa dibawa turun dalam sekali angkut. Kami tidak menggunakan kuli, aku sendiri
sedang berusaha membawa bekal dari mama dan bapak sebanyak yang kumampu.
Meskipun badanku hampir bisa dibilang kurus, tapi aku segan kalau harus membuat
kakak-kakak lebih repot lagi dengan barang-barangku, sekarang saja sudah sangat
merepotkan.
Aku
melihat si bule yang semalam didepan mushola juga ikut turun bersama kami. Dia
tidak membawa terlalu banyak barang, hanya sebuah tas punggung. Gayanya sangat
santai dibandingkan dengan orang-orang lain yang membawa sangat banyak barang. Ya…
contohnya kami ini. Bule itu sudah tidak
terlihat lagi sekarang. Apa kami akan berpisah seperti ini saja?. Beneran hanya
begini?. Tanpa terlibat sebuah percakapan sekalipun?. “please deh …, nggak usah
lebay dong.”
Iya,
ku akui yang barusan tadi memang kedengaran sedikit lebay. “sedikit?”. Baiklah,
tolong anggap saja saya tidak pernah mengatakan itu…, maafkan saya maafkan
saya. “Sekarang juga masih alay tau.”. Oh, masa’? beneran? Yakin? Ciyus nih..?
Miapa?. Ya sudahlah, berarti bener alayku memang sudah akut. Nggak papa lagi,
kata bang Raditya Dika alay itu proses menuju dewasa. “Perasaan dari dulu alay
mulu’ deh, kapan dewasanya?”. Kan ini lagi prosseesss …., entar juga dewasa.
“kapan kira-kira?” ya nanti. Ngomong-ngomong apa di provinsi sini emang banyak
bulenya?, jadi penasaran. “masih aja ngarep bisa ngobrol ama bule.”. Diam,
berisik tahu. Itu namanya harapan.
Setelah
melewati kerumunan orang yang bergerak kedaratan, akhirnya kami tiba di sebuah
tempat ramai tapi tidak terlalu riuh. Tepatnya di suatu tempat yang untuk
pertama kalinya kutapaki, “Pelabuhan Bitung”. Disana banyak orang-orang dengan
barang bawaan berkardus-kardus, juga banyak anak anak kecil di gendongan yang
berpegangan erat pada orang tua mereka. Lalu ada suara berisik pria di pojokan
pagar yang terus berkata “hallo, hallo, hallo,” kemudian memarahi handphonenya
sendiri karena tidak memberi jawaban apapun. Ada juga suara tergoyang goyangnya
pagar pemberi batas antara penumpang dan penjemput yang tetap dijaga oleh
aparat negara dengan ketat, selain itu ada suara panggilan-panggilan nama dan
suara mesin kapal atau entahlah apa itu yang membuat keadaan jadi terasa lebih
asing, serta suara udara malam menjelang subuh yang seolah membisiki telingaku
“kau sudah tiba ternyata”.
Udara
masih sedingin ini. Selama menunggu, aku bertanya-tanya apa wanita berkerudung di
luar dek itu sekarang sudah mendapatkan tempat untuk tidur di bagian dalam dek?
berhubung penumpang yang turun tadi cukup banyak. Dalam hati aku mengucap doa
untuknya, semoga dia juga selamat, sehat sampai tujuan. Gerimis sepanjang malam
tiba-tiba saja berhenti sejak kapal mulai bersandar. Aku mendongak ke atas langit,
mencuri pandang pada hamparan hitam tanpa bintang. Polaris juga tidak ada?.
Bintang utara yang akan menemani para pelancong dan mengawalnya pulang meskipun
mereka tersesat. ‘Polaris’, sebuah kata yang ditulis oleh pria berkacamata di
kotaku sana. “memangnya di kotamu ada berapa pria berkacamata?” siapa itu yang
gangguin lagi? Diam dulu napa sih?.
Pada
mulanya aku tidak tahu, tidak mengenal Polaris sama sekali. Tapi dia menulis di
cerpennya : “Shu, mama pernah bercerita
tentang Polaris. Bintang yang tidak pernah berpindah, bintang yang
akan selalu menunggu, oleh karena itu Ai akan menjadi Polaris, jadi temukan
jawaban mu,
shu”. Untuk pertama kalinya aku mendengar kata itu,
polaris. Karena itu bagiku dialah Polaris, dan akulah Polaris untuknya. Mungkin
itu imajinasiku saja, biasa…, alay. Shu dan Ai adalah nama dua karakter di dalam
cerpen yang dia tulis. Eh bukannya aku baru saja mengutip kalimat dari
cerpennya?. Biarlah, aku justru penasaran bagaimana reaksinya ketika tahu aku
melakukan itu. “sekarang ini… dia sedang apa?” ah sial…, sempat-sempatnya aku
memikirkan itu.
Tiba-tiba
aku teringat kata mama “kalau sudah sampai di pelabuhan, barang barang itu
dilihat. Jangan sampai ada yang hilang. Katanya di sana banyak copet” dan
setelahnya disambung dengan cerita yang akhir-akhir ini sering mampir ketelingaku
sebagai pelengkap wejangan. Cerita
tentang salah satu sepupu tetangga dekat rumah yang pernah kehilangan hampir
semua barangnya saat baru turun di pelabuhan ini, padahal hanya sebentar saja
dia tidak mengawasi barang-barangnya saat sibuk memanggil ojek. Langsung deh,
kepalaku jadi terarah ke barang-barang yang sedang kutunggui bersama paman
kakak-kakak dan keluarganya yang sudah menunggu kami dari tadi.
Ada
banyak yang menawarkan jasa antar dengan mobil. Syukurlah kami tidak
membutuhkannya, paman kakak-kakak menjemput kami dengan mobilnya. Setelah
memasukkan berbagai macam barang bawaan kami ke dalam bagasi mobil, akhirnya berangkatlah
kami. Menuju kota yang untuk sampai di sanapun belum-belum sudah membuatku
sakit kepala dan berurai air mata. Menuju… kota itu, kota Manado. Entah akan
menjadi seperti apa perjalanan ini. Perjalanan demi perjalanan untuk sebuah
perjalanan lainnya. Kebebasanku, bagaimana kabarmu?. Hidupku.., akan menjadi
semenarik apa. Aku merasa bersemangat hanya dengan memikirkannya.(Bustamin-Kru baru Ino)

0 komentar:
Posting Komentar