MESIN
PENENUN HUJAN
Seseorang
tidak pernah tau jadi apa dia nanti didalam kisah hidup orang lain. Mungkin
masa depan, sekeping kenangan, sebungkus cerita, atau mungkin juga rintik
hujan.
![]() |
| tiantium.blogspot.com |
Waktu itu aku sedang duduk menikmati
senja yang tenggelam dalam jingga di tepi pantai. aku tidak sendiri, ada pena di genggaman
tangan kananku, juga sebuah buku yang tepat ku tumpukkan diatas telapak tangan
kiriku. Kamu tiba – tiba datang dan menyapa.
“Suka
nulis ya? “.
Aku menoleh pada asal
suara, mencari suara milik siapa yang berani membuyarkan imagi-ku. Disebelah
kanan ada kamu yang sedang berdiri dan tersenyum kearahku dari jarak yang tidak
cukup jauh, matamu menyiratkan agar aku harus menjawab pertanyaan basa – basi
yang kau lontarkan tadi, senyummu pun begitu. Aku menjadi sedikit canggung,
tapi tidak marah.
“ tidak juga.. “
Ku jawab pertanyaan basa – basimu
tadi dengan memberi sedikit senyum, dan sedikit pandangan aneh, tapi Kamu tidak
merasa bahwa aku tidak merasa terganggu dengan kehadiranmu. langkahmu mendekat,
kemudian mengambil posisi tepat disebelah kananku lalu duduk menghadap matahari
yang hampir hilang diseberang sana. Tidak tau bagaimana mulanya, tiba – tiba
saja mendadak kita menjadi seperti dua orang yang sudah lama saling kenal
kemudian dipertemukan kembali di suatu tempat asing. Aku benar – benar tidak
merasa terganggu dengan kehadiranmu karena biasanya teman ngobrolku hanya pena dan buku, dua benda mati yang bahkan tidak
bisa merespon “oh!” sekalipun saat aku bercerita panjang lebar.
Kamu bercerita banyak sekali.
Bercerita tentang kisahmu yang mengidolakan SLASH –nya GUNS N ROSES dan kamu
ingin sehebat dia. kadang kamu menertawakan sendiri ceritamu, aku hanya
tersenyum tipis untuk sekedar menghargai lalu kamu akan mengira aku benar –
benar merasa lucu mendengarnya. Kadang juga saat kamu kehabisan topik
pembicaraan, semuanya tiba – tiba menjadi hening, kamu diam, aku lebih diam.
Sampai – sampai desah nafas kita berdua dapat terdengar sangat jelas di
telinga. Aku kembali menulis. Bukan tidak nyaman berbagi cerita denganmu, hanya
sedikit kaku. Canggung. Kamu juga tidak sampai memaksaku untuk bercerita
sepertimu. Tidak tau kenapa, ada rasa nyaman didalam hadirmu.
Matamu kau pejamkan kedua tanganmu kau
hentangkan seperti sedang mempersilahkan sepoi angin untuk memeluk erat tubuhmu,
rambut semi gondrongmu menari – nari lentik mengkuti desau angin. Lama kau
lakukan gaya seperti itu sampai tidak menyadari pandanganku yang sedari tadi
tidak lepas darimu. Aku sedikit merasa aneh, kamu melakukan sesuatu yang tidak
banyak dilakukan orang – orang di sepanjang pantai ini. bahkan aku yang hampir
setiap hari menduduki tempat ini belum pernah sekalipun mencobanya.
“ ayo lakukan ini! rentangkan kedua
tanganmu. Bebaskan pikiranmu. Biar angin mendekap erat tubuhmu, menyelusup
masuk dalam jiwamu, menyirati semua anganmu lalu dia akan menerbangkannya sampai jauh.
Sampai tinggi.. “
Suara ini lagi, suara yang tadi
mengacaukan alam sadarku mengoceh lagi, kali ini suaranya seperti memerintahkanku
melakukan sesuatu yang memang seharusnya ku lakukan sejak dulu. Biar lepas
semua penat. Soalnya aku kadang serasa Rangganya Cinta, yang mau si pekat
enyah. Kedua matamu masih terpejam, cukup lama. Aku pandangi dalam – dalam
wajahmu, aku hayati baik – baik sosokmu, sosok yang tidak sengaja memutuskan
untuk menjadi kawanku sore ini. perawakanmu tidak terlihat seperti seorang
jahat, baju warna hitam dengan celana rombeng panjang dipadu dengan kets butut
yang sudah tidak terlihat jelas apa warnanya.
Matamu tiba – tiba terbuka saat aku
baru ingin memulai memejamkan mataku. Cepat aku urungkan niat untuk melakukan
hal yang sedari tadi kau lakukan. Kamu
menoleh ke arahku saat ini, tidak terlihat seperti sedang ingin balik
menghayatiku. tapi pipimu tertarik kesebelah kiri, gigi – gigimu yang tersusun
rapi kali ini terlihat jelas. Kamu tersenyum kepadaku. rasanya seperti ada kupu
– kupu yang menggelitik perutku, lucu, malu tapi aku menikmati senyumanmu lalu
ku palingkan saja wajahku ke arah senja yang lebih mudah tuk dipandangi.
Oh hai! Apakabar senja hari ini?
sudah hampir tenggelam sempurna diperbatasan sana. hampir kelabu, tetapi tidak sedikit warna orange yang bertahan di
atap bumi. Kamu pamit pulang ingin kembali melanjutkan aktivitasmu, aku
mengiyakan meski ada rasa tidak rela membiarkanmu berlalu.
Perlahan langkahmu
menjauh, tapi sebentar menoleh ke arahku. Pipimu tertarik ke sebelah kiri lagi,
gigi – gigimu yang rapi terlihat lagi. kamu tersenyum. Lagi.
Kedua mataku belum terlepas dari
sosokmu diujung sana yang kini hanya berupa sebentuk siluet. aku berharap senja
esok hari masih bisa ku nikmati. Bersama penaku, bersama buku, juga bersama kamu
yang hadirnya tidak terduga, di tepi pantai. Jika saat itu masih akan datang,
mari kembali mendekap mesra angin bersama. Sekali lagi.
Mungkin kehadiranmu
yang sudah menjadi takdir akan menjadikanku sekeping kenangan atau sebungkus
cerita kecil dalam kehidupanmu, cerita tentang seorang anak gadis yang
menikmati senja dan bertemankan dua benda mati di tepi pantai. Begitupun
denganku. Entah esok nanti akan jadi apa kamu dalam kehidupanku, sekeping
kenangan, sebungkus cerita masa lalu, atau mungkin juga masa depan.
Aku biarkan ini
mengalir saja.
Tapi yang jelas, untuk saat ini aku sudah harus siap
merakit mesin untuk menenun hujan.
Agar jika disuatu
hari nanti kamu bertemu lagi dengan satu gadis yang bermain senja ditepi pantai
dalam wujud berbeda namun jauh lebih baik,
Aku bisa tetap ada
dalam hidupmu, menjadi rintik hujan
Tapi tidak lama,
Aku bisa dengan cepat
berubah menjadi awan…
-frns
Inspired song By FRAU –
Mesin penenun hujan

0 komentar:
Posting Komentar