Rabu, 04 Juni 2014

MESIN PENENUN HUJAN



MESIN PENENUN HUJAN

Seseorang tidak pernah tau jadi apa dia nanti didalam kisah hidup orang lain. Mungkin masa depan, sekeping kenangan, sebungkus cerita, atau mungkin juga rintik hujan.

tiantium.blogspot.com
            Waktu itu aku sedang duduk menikmati senja yang tenggelam dalam jingga di tepi pantai.  aku tidak sendiri, ada pena di genggaman tangan kananku, juga sebuah buku yang tepat ku tumpukkan diatas telapak tangan kiriku. Kamu tiba – tiba datang dan menyapa.

            “Suka nulis ya? “.

Aku menoleh pada asal suara, mencari suara milik siapa yang berani membuyarkan imagi-ku. Disebelah kanan ada kamu yang sedang berdiri dan tersenyum kearahku dari jarak yang tidak cukup jauh, matamu menyiratkan agar aku harus menjawab pertanyaan basa – basi yang kau lontarkan tadi, senyummu pun begitu. Aku menjadi sedikit canggung, tapi tidak marah.

            “ tidak juga.. “

            Ku jawab pertanyaan basa – basimu tadi dengan memberi sedikit senyum, dan sedikit pandangan aneh, tapi Kamu tidak merasa bahwa aku tidak merasa terganggu dengan kehadiranmu. langkahmu mendekat, kemudian mengambil posisi tepat disebelah kananku lalu duduk menghadap matahari yang hampir hilang diseberang sana. Tidak tau bagaimana mulanya, tiba – tiba saja mendadak kita menjadi seperti dua orang yang sudah lama saling kenal kemudian dipertemukan kembali di suatu tempat asing. Aku benar – benar tidak merasa terganggu dengan kehadiranmu karena biasanya teman ngobrolku hanya pena dan buku, dua benda mati yang bahkan tidak bisa merespon “oh!” sekalipun saat aku bercerita panjang lebar.

            Kamu bercerita banyak sekali. Bercerita tentang kisahmu yang mengidolakan SLASH –nya GUNS N ROSES dan kamu ingin sehebat dia. kadang kamu menertawakan sendiri ceritamu, aku hanya tersenyum tipis untuk sekedar menghargai lalu kamu akan mengira aku benar – benar merasa lucu mendengarnya. Kadang juga saat kamu kehabisan topik pembicaraan, semuanya tiba – tiba menjadi hening, kamu diam, aku lebih diam. Sampai – sampai desah nafas kita berdua dapat terdengar sangat jelas di telinga. Aku kembali menulis. Bukan tidak nyaman berbagi cerita denganmu, hanya sedikit kaku. Canggung. Kamu juga tidak sampai memaksaku untuk bercerita sepertimu. Tidak tau kenapa, ada rasa nyaman didalam hadirmu.

             Matamu kau pejamkan kedua tanganmu kau hentangkan seperti sedang mempersilahkan sepoi angin untuk memeluk erat tubuhmu, rambut semi gondrongmu menari – nari lentik mengkuti desau angin. Lama kau lakukan gaya seperti itu sampai tidak menyadari pandanganku yang sedari tadi tidak lepas darimu. Aku sedikit merasa aneh, kamu melakukan sesuatu yang tidak banyak dilakukan orang – orang di sepanjang pantai ini. bahkan aku yang hampir setiap hari menduduki tempat ini belum pernah sekalipun mencobanya.

            “ ayo lakukan ini! rentangkan kedua tanganmu. Bebaskan pikiranmu. Biar angin mendekap erat tubuhmu, menyelusup masuk dalam jiwamu, menyirati semua anganmu  lalu dia akan menerbangkannya sampai jauh. Sampai tinggi.. “

            Suara ini lagi, suara yang tadi mengacaukan alam sadarku mengoceh lagi, kali ini suaranya seperti memerintahkanku melakukan sesuatu yang memang seharusnya ku lakukan sejak dulu. Biar lepas semua penat. Soalnya aku kadang serasa Rangganya Cinta, yang mau si pekat enyah. Kedua matamu masih terpejam, cukup lama. Aku pandangi dalam – dalam wajahmu, aku hayati baik – baik sosokmu, sosok yang tidak sengaja memutuskan untuk menjadi kawanku sore ini. perawakanmu tidak terlihat seperti seorang jahat, baju warna hitam dengan celana rombeng panjang dipadu dengan kets butut yang sudah tidak terlihat jelas apa warnanya.

            Matamu tiba – tiba terbuka saat aku baru ingin memulai memejamkan mataku. Cepat aku urungkan niat untuk melakukan hal yang sedari tadi kau lakukan. Kamu  menoleh ke arahku saat ini, tidak terlihat seperti sedang ingin balik menghayatiku. tapi pipimu tertarik kesebelah kiri, gigi – gigimu yang tersusun rapi kali ini terlihat jelas. Kamu tersenyum kepadaku. rasanya seperti ada kupu – kupu yang menggelitik perutku, lucu, malu tapi aku menikmati senyumanmu lalu ku palingkan saja wajahku ke arah senja yang lebih mudah tuk dipandangi.

            Oh hai! Apakabar senja hari ini? sudah hampir tenggelam sempurna diperbatasan sana. hampir kelabu, tetapi  tidak sedikit warna orange yang bertahan di atap bumi. Kamu pamit pulang ingin kembali melanjutkan aktivitasmu, aku mengiyakan meski ada rasa tidak rela membiarkanmu berlalu.
Perlahan langkahmu menjauh, tapi sebentar menoleh ke arahku. Pipimu tertarik ke sebelah kiri lagi, gigi – gigimu yang rapi terlihat lagi. kamu tersenyum. Lagi.

            Kedua mataku belum terlepas dari sosokmu diujung sana yang kini hanya berupa sebentuk siluet. aku berharap senja esok hari masih bisa ku nikmati. Bersama penaku, bersama buku, juga bersama kamu yang hadirnya tidak terduga, di tepi pantai. Jika saat itu masih akan datang, mari kembali mendekap mesra angin bersama. Sekali lagi.

Mungkin kehadiranmu yang sudah menjadi takdir akan menjadikanku sekeping kenangan atau sebungkus cerita kecil dalam kehidupanmu, cerita tentang seorang anak gadis yang menikmati senja dan bertemankan dua benda mati di tepi pantai. Begitupun denganku. Entah esok nanti akan jadi apa kamu dalam kehidupanku, sekeping kenangan, sebungkus cerita masa lalu, atau mungkin juga masa depan.

Aku biarkan ini mengalir saja.

Tapi  yang jelas, untuk saat ini aku sudah harus siap merakit mesin untuk menenun hujan.

Agar jika disuatu hari nanti kamu bertemu lagi dengan satu gadis yang bermain senja ditepi pantai dalam wujud berbeda namun jauh lebih baik,

Aku bisa tetap ada dalam hidupmu, menjadi rintik hujan

Tapi tidak lama,

Aku bisa dengan cepat berubah menjadi awan…

-frns
Inspired song By FRAU – Mesin penenun hujan

0 komentar:

Posting Komentar