Senin, 30 November 2015

Sinergitas Ekosistem Pesisir bagi Kebaikan Manusia



Oleh:
Mustika Muchtar
 
Di tengah hangatnya isu-isu lingkungan hidup dalam beberapa dekade terakhir, masih banyak dari kita yang belum betul-betul memahami arti penting alam dalam menunjang kehidupan kita sehari-hari. Salah satu komponen alam yang nampak kurang diperhatikan masyarakat (umumnya di perkotaan) saat ini adalah ekosistem pesisir. Beberapa dari kita mungkin kurang menyadari bahwa ikan-ikan lezat, dan air bersih yang kita nikmati setiap hari juga berkat kebaikan ekosistem di pesisir. Tempat yang mungkin bagi sebagian dari kita tidak lebih dari sekedar tempat rekreasi ketika jenuh dengan kepenatan kota.

Di dalam ekosistem pesisir terdapat ekosistem mangrove, ekosistem lamun, dan terumbu karang. Ketiganya memiliki karakteristik dan sifat-sifat yang berbeda, namun sinergitas di antara ketiganya selalu terjalin dengan kuat dalam menunjang kehidupan kita di darat. Sayangnya, tangan nakal dan keserakahan manusia tak jarang mengganggu jalinan kerja sama antara ketiga ekosistem tersebut. Pada akhirnya manusia lah menanggung ulahnya sendiri. Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keterkaitan ekosistem pesisir dengan kehidupannya, dan pula banyak generasi muda yang kurang tertarik mempelajarinya. Tidak perlu mendalami pengetahuan tentang ekosistem pesisir terlalu jauh. Paling tidak kita mengerti bahwa kehidupan kita sangat bergantung terhadap kesehatan ekosistem pesisir, dan jika salah satunya terganggu, maka kita lah yang akan menerima dampaknya.

Jadi seperti apakah keterkaitan ekosistem pesisir di atas bagi kehidupan manusia di darat ? Agar tidak terkesan ngawur, ada baiknya jika dijelaskan melalui sudut pandang ilmiah.

Secara ekologis, mangrove, lamun, dan karang memiliki keterkaitan satu sama lain. Baik dalam nutrisi terlarut, sifat fisik air, partikel organik, migrasi satwa, hingga kegiatan manusia. Ekosistem mangrove sebagai daerah peralihan antara air daratan dan lautan, menerima air dari darat melalui sungai-sungai. Air tersebut akan disaring oleh sistem perakaran mangrove, kemudian menuju ekosistem padang lamun yang dibantu oleh arus dan gelombang. 

Daun-daun pada tumbuhan lamun dapat memperlambat aliran air dan menyaring endapan yang diangkutnya sehingga ekosistem air di daerah lamun cenderung lebih tenang dan bersih. Pada akhirnya ekosistem terumbu karang menerima air yang lebih jernih di banding kedua ekosistem sebelumnya. Ekosistem terumbu karang berperan sebagai pelindung bagi ekosistem padang lamun dan ekosistem mangrove dari hempasan gelombang dan arus yang datang dari laut lepas (Bustami,2005).

Bagaimana pula jika hutan mangrove ditebang untuk pemukiman, pembukaan lahan pertanian dan pertambakan. Hal-hal tersebut akan mengakibatkan erosi sehingga mengeruhkan perairan. Proses fotosintesis juga akan terhambat. Selain pemanfaatan mangrove yang merusak lingkungan, pemanfaatan lamun dengan cara yang sama akan menyebabkan sedimentasi, mengingat bahwa lamun mempunyai rhizoma yang saling mentilang yang berfungsi untuk mengikat sedimen di dasar. Ditambah lagi apabila di daerah terumbu karang ada organisme yang memakan suatu spesies ikan di sekitar daerah lamun. Lama kelamaan populasinya akan habis jika terus menerus dieksploitasi secara besar-besaran oleh manusia.

Satu lagi peran penting ekosistem pesisir yang belum banyak diketahui masyarakat, yaitu karbon biru. Karbon biru merupakan karbon yang diserap oleh ekosistem pesisir (mangrove, lamun, terumbu karang) yang diperkirakan menyumbang kurang lebih 50 % oksigen yang kita hirup sehari-hari. Peningkatan kandungan karbondioksida di udara adalah salah satu penyebab pemanasan global. Jika terjadi pemanasan global oleh penebangan hutan mangrove secara besar-besaran maka ini akan berpengaruh terhadap ekosistem terumbu karang dan lamun. Misalnya zooxanthela pada terumbu karang akan keluar dari karang akibat meningkatnya suhu perairan. Karang yang membutuhkan zooxanthela dalam memproduksi zat-zat penting bagi pertumbuhannya akan mati sehingga terjadi pemutihan karang (coral bleaching) karena terumbu karang hanya bisa hidup pada suhu antara 25-29oC.

Dari penjelasan yang sengaja saya ambil garis-garis besarnya saja, saya kira itu bukanlah teori yang sulit untuk dipahami. Agar terasa mudah, mungkin kita bisa sesekali merenungi alam ciptaan-Nya, Belajar memahami sistem alam maha kreatif yang telah ditata sedemikian rupa. Banyak hikmah yang bisa kita petik dari sinergitas ekosistem pesisir yang bekerja saling menunjang satu sama lain. Mangrove, lamun, dan terumbu karang yang bekerja sama saling menyediakan air bersih, menyediakan area transisi bagi ikan-ikan yang habitatnya sedang terganggu, serta saling melindungi satu sama lain dari terjangan badai lautan lepas. Dan sebagian manusia kita sudah sepatutnya bersinergi dengan alam bukan malah mengeksploitasi dan menghancurkannya karena kehancuran disatu ekosistem saja dapat menimbulkan ketimpangan bagi ekosistem lainnya.

Lautan dan isinya sejatinya memiliki banyak kisah dapat menginpirasi manusia dalam menjalani kehidupan, itupun jika manusia tertarik untuk merenunginya. Jadi, tidak akan ada ruginya jika kita turut bekerja sama dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir, sebagaimana mereka selalu menjaga kita.

 Tanaman Mangrove di Pesisir



0 komentar:

Posting Komentar