Jumat, 20 November 2015

Kita (Mahasiswa)

Oleh :

Andy Zulqifly Musdar




Sebagai mahasiswa, kita selalu lengkap dengan atribut intelektual yang disematkan dan dielu-elukan. Berbarengan dengan itu mahasiswa juga dituntut untuk dapat menjadi agent of changes. Sepeti yang selalu dicita-citakan bangsa ini, agar proses regenerasi pemimpin di bangsa ini sesuai dengan harapan para rakyat (kelas bawah).

Mahasiswa hari ini adalah korban modernitas. Di banyak tempat yang bisa ditemui, para intelektual harus disibukkan dengan berbagai macam varian life style masa kini. Dari ujung rambut sampai kaki dihiasi oleh kerlap-kerlip aksesoris budaya populer. Dimanjakan dengan fasilitas (penyedia jasa) modern, bukan tak sama dengan olahan tradisional, tapi gengsi di abad 21 menganjurkan mereka (mahasiswa) harus  mengikuti jejak rekam bintang favorit mereka di layar kaca.
Ditambah lagi dengan kecanggihan teknologi saat ini. Bentuk kecanggihan harusnya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh kaum intelektual sebagai suatu referensi yang menjanjikan, bukan malah dijadikan ajang promosi diri dan curhat (medsos) atau hanya sebagai wadah bermain game online favorit. Bisa dibayangkan alangkah majunya pemuda/pemudi negeri ini kalau mereka bisa mengakses, menganalisa informasi yang positif dari kecanggihan teknologi hari ini. 
Merupakan hal yang lumrah jikalau hari ini dikatakan mahasiswa adalah kelas menengah (penyambung lidah antara masyarakat dan pemerintah). Ada saat mahasiswa secara gamblang membelenggu diri dari kehidupan sosial masyarakat. Disitu kemudian pembagian kelas membuat sekat-sekat  yang memiliki kesenjangannya masing-masing. Teralienasilah mahasiswa dari kehidupan masyarakat.

Kebijakan akademik mensugesti mahasiswa untuk jauh dari masyarakat. Tanpa canggung kemudian, proses akademika dianggap yang terpenting sebagai syarat untuk mendapatkan akses yang jelas demi penghidupan yang layak setiap individu. Ini menjadi suatu yang meresahkan karena takut masa depan tak berpihak pada mereka kelak. Tapi buktinya, ribuan pengangguran terus-menerus dicetak oleh berbagai perguruan tinggi di bangsa ini.

Belum lagi, relasi mahasiswa dengan dosen. Hubungan emosional yang terbentuk berharap seproduktif yang diinginkan, karena akan menambah pengetahuan dan wawasan kita sebagai mahasiswa. Tapi untuk wijengan-wijengan konyol yang diberikan seperti melarang mahasiswa untuk demo dan sebagainya (tindakan mengkritik) adalah suatu hal yang jangan langsung ditelan dulu. Karena mahasiswa yang kritis harus mewujudkan kekritisannya dalam bentuk real. Setidaknya, bukti bahwa kita masih kritis dan tidak akan tunduk pada otoritas yang menindas masyarakat.

Sehebat apa kita (mahasiswa) dimasa lalu. Hanya boleh dijadikan spirit dalam proses berpengetahuan. Kesadaran berpengetahuan itu yang akhir-akhir ini hilang. Dengan sedikit retorika, sudah merasa mampu menyelesaikan banyak hal yang dianggap masalah di bangsa ini, padahal belum apa-apa. Ajakan berpengetahuan (membaca, diskusi, dan menulis) dianggap hal yang membosankan mungkin bagi sebagian teman-teman mahasiswa.

Konteks hari ini dapat dilihat secara seksama, dihimpit pengaruh modernitas mahasiswa justru berleha-leha dengan banyak hal yang membuang-buang waktu. Ini krisis yang perlu secepatnya dieprbaiki di kalangan mahasiswa. Faktor-faktornya harus cepat ditemukan guna menyusun tahap perbaikannya  sedini mungkin.

Anthony Giddens mengatakan “modernisasi adalah mesin perusak dari nilai dan tradisi lokal, namun juga bisa menjadi peluang untuk menyusun tatanan masyarakat madani”.

Dalam pandangan Anthony Giddens menyuarakan kepada kita sebagai lakon hidup era global ini benar-benar harus mengalir dalam dua perspektif  yang di sampaikan di atas. Berupaya agar tetap menjaga identitas bangsa (tradisi) dan merespon secara positif modernitas yang terpampang dekat di hadapan kita. Layaknya juga yang pernah dikatakan K.H. Hasyim Muzadi di salah satu dialognya dengan pengurus pw NU SULUT yang baru saja dilantik yaitu : “menjaga nilai-nilai budaya yang lama dengan teologi yang benar, yang salah bagi yang mau, serta menerima nilai-nilai baru yang baik (yang berkesesuaian)”. 

Tak mungkin mempertahankan budaya  (tradisi) jikalau kita fokus (terlalu sangat ingin) menjejali semua yang disajikan kapitalisme hari ini. Bagi sebagian orang, pergulatan dengan zaman yang semakin hari semakin menuju pada taraf yang amat tinggi dari kalangan bawah (rakyat). Rakyat pun harus kerja keras untuk menunjang taraf hidup yang melesat ke atas dengan kesimpang siuran gaji. Bukan bermaksud pesimis, tapi coba lihatlah! Berapa orang yang serius memikirkan hal ini. Berharap pada mahasiswa yang telah tenggelam dalam dunia modernitasnya, mustahil rasanya. 

Sisi lain juga, bahwa kapitalisme yang sedang berkuasa. Mampu tidak membuat semua rakyat menjadi “kaya”? agar barang atau jasa yang mereka tawarkan mampu dibeli rakyat?.

Dampak yang muncul adalah kegiatan yang senantiasa memerlukan bantuan mahasiswa untuk memahamkan konsep pemilik modal kepada rakyat dengan tindakan advokasi, kini akan jarang ditemui. Rakyat bahkan sudah tidak percaya lagi dengan mahasiswa. Ada beberapa faktor yang membuat rakyat tidak percaya lagi kepada mahasiswa.

Pertama, minimnya interaksi mahasiswa dengan rakyat. Agar mampu menganalisa lebih lanjut masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat, mahasiswa harus melakukan interaksi yang intens dengan masyarakat. Mahasiswa terkesan menunggu tugas kampus baru bisa melakukan hal itu.

Kedua, banyaknya kasus advokasi yang kalah. Di mana pada saat aktivis mahasiswa mengadvokasi sebuah kasus atau katakanlah sengketa tanah, yang pada akhirnya kalah. Mahasiswa tidak mempunyai plan B untuk kemudian menjaga kepercayaan masyarakat. Kalaupun kalah, sebagai kaum intelektual harus mempersiapkan solusi konkret kepada masyarakat. Karena pasca kekalahan itu, di situlah penderitaan baru akan dimulai. Bukan malah pergi meinggalkan rakyat pada saat sudah kalah.

Kertiga, advokasi mahasiswa yang politis. Dari sudut pandang yang berbeda terkadang masyarakat yang pernah terlibat dalam politik praktis akan mencurigai mahasiswa yang masuk sebagai suatu tindakan politis untuk mengumpulkan massa. Dengan ekspetasi politik di masa depan. Rakyat sangat menyadari adanya politik balas budi, maka dari itu mereka akan curiga duluan.

Harus ada kesadaran penuh oleh mahasiswa tentang peran mereka di masyarakat. Pure  sebagai kelas yang berbaur di masyarakat, tanpa busungan dada khas intelektual karbitan yang diperkaya oleh retorika semata. Mari bung, sahabat/i, kanda-dinda, imawan-imawati, dan semuanya yang menganggap dirinya mahasiwa, meski pun ideologi kita berbeda tapi pikiran kita harus terbuka selebar-lebarnya. Dan kira-kira seperti itu..!!



0 komentar:

Posting Komentar