Oleh :
Andy Zulqifly Musdar
Sebagai mahasiswa,
kita selalu lengkap dengan atribut intelektual yang disematkan dan dielu-elukan.
Berbarengan dengan itu mahasiswa juga dituntut untuk dapat menjadi agent of changes. Sepeti yang selalu
dicita-citakan bangsa ini, agar proses regenerasi pemimpin di bangsa ini sesuai
dengan harapan para rakyat (kelas bawah).
Mahasiswa hari ini
adalah korban modernitas. Di banyak tempat yang bisa ditemui, para intelektual
harus disibukkan dengan berbagai macam varian life style masa kini. Dari ujung rambut sampai kaki dihiasi oleh
kerlap-kerlip aksesoris budaya populer. Dimanjakan dengan fasilitas (penyedia
jasa) modern, bukan tak sama dengan olahan tradisional, tapi gengsi di abad 21
menganjurkan mereka (mahasiswa) harus mengikuti jejak rekam bintang favorit mereka
di layar kaca.
Ditambah lagi dengan
kecanggihan teknologi saat ini. Bentuk kecanggihan harusnya bisa dimanfaatkan
dengan baik oleh kaum intelektual sebagai suatu referensi yang menjanjikan,
bukan malah dijadikan ajang promosi diri dan curhat (medsos) atau hanya sebagai
wadah bermain game online favorit. Bisa dibayangkan alangkah majunya
pemuda/pemudi negeri ini kalau mereka bisa mengakses, menganalisa informasi
yang positif dari kecanggihan teknologi hari ini.
Merupakan hal yang
lumrah jikalau hari ini dikatakan mahasiswa adalah kelas menengah (penyambung
lidah antara masyarakat dan pemerintah). Ada saat mahasiswa secara gamblang
membelenggu diri dari kehidupan sosial masyarakat. Disitu kemudian pembagian
kelas membuat sekat-sekat yang memiliki
kesenjangannya masing-masing. Teralienasilah mahasiswa dari kehidupan
masyarakat.
Kebijakan akademik
mensugesti mahasiswa untuk jauh dari masyarakat. Tanpa canggung kemudian,
proses akademika dianggap yang terpenting sebagai syarat untuk mendapatkan
akses yang jelas demi penghidupan yang layak setiap individu. Ini menjadi suatu
yang meresahkan karena takut masa depan tak berpihak pada mereka kelak. Tapi
buktinya, ribuan pengangguran terus-menerus dicetak oleh berbagai perguruan
tinggi di bangsa ini.
Belum lagi, relasi
mahasiswa dengan dosen. Hubungan emosional yang terbentuk berharap seproduktif
yang diinginkan, karena akan menambah pengetahuan dan wawasan kita sebagai
mahasiswa. Tapi untuk wijengan-wijengan konyol yang diberikan seperti melarang
mahasiswa untuk demo dan sebagainya (tindakan mengkritik) adalah suatu hal yang
jangan langsung ditelan dulu. Karena mahasiswa yang kritis harus mewujudkan
kekritisannya dalam bentuk real.
Setidaknya, bukti bahwa kita masih kritis dan tidak akan tunduk pada otoritas
yang menindas masyarakat.
Sehebat apa kita
(mahasiswa) dimasa lalu. Hanya boleh dijadikan spirit dalam proses
berpengetahuan. Kesadaran berpengetahuan itu yang akhir-akhir ini hilang. Dengan
sedikit retorika, sudah merasa mampu menyelesaikan banyak hal yang dianggap
masalah di bangsa ini, padahal belum apa-apa. Ajakan berpengetahuan (membaca,
diskusi, dan menulis) dianggap hal yang membosankan mungkin bagi sebagian
teman-teman mahasiswa.
Konteks hari ini
dapat dilihat secara seksama, dihimpit pengaruh modernitas mahasiswa justru
berleha-leha dengan banyak hal yang membuang-buang waktu. Ini krisis yang perlu
secepatnya dieprbaiki di kalangan mahasiswa. Faktor-faktornya harus cepat
ditemukan guna menyusun tahap perbaikannya
sedini mungkin.
Anthony Giddens
mengatakan “modernisasi adalah mesin perusak dari nilai dan tradisi lokal,
namun juga bisa menjadi peluang untuk menyusun tatanan masyarakat madani”.
Dalam pandangan
Anthony Giddens menyuarakan kepada kita sebagai lakon hidup era global ini
benar-benar harus mengalir dalam dua perspektif
yang di sampaikan di atas. Berupaya agar tetap menjaga identitas bangsa
(tradisi) dan merespon secara positif modernitas yang terpampang dekat di
hadapan kita. Layaknya juga yang pernah dikatakan K.H. Hasyim Muzadi di salah
satu dialognya dengan pengurus pw NU SULUT yang baru saja dilantik yaitu :
“menjaga nilai-nilai budaya yang lama dengan teologi yang benar, yang salah
bagi yang mau, serta menerima nilai-nilai baru yang baik (yang berkesesuaian)”.
Tak mungkin
mempertahankan budaya (tradisi) jikalau
kita fokus (terlalu sangat ingin) menjejali semua yang disajikan kapitalisme
hari ini. Bagi sebagian orang, pergulatan dengan zaman yang semakin hari
semakin menuju pada taraf yang amat tinggi dari kalangan bawah (rakyat). Rakyat
pun harus kerja keras untuk menunjang taraf hidup yang melesat ke atas dengan
kesimpang siuran gaji. Bukan bermaksud pesimis, tapi coba lihatlah! Berapa
orang yang serius memikirkan hal ini. Berharap pada mahasiswa yang telah
tenggelam dalam dunia modernitasnya, mustahil rasanya.
Sisi lain juga, bahwa
kapitalisme yang sedang berkuasa. Mampu tidak membuat semua rakyat menjadi
“kaya”? agar barang atau jasa yang mereka tawarkan mampu dibeli rakyat?.
Dampak yang muncul
adalah kegiatan yang senantiasa memerlukan bantuan mahasiswa untuk memahamkan
konsep pemilik modal kepada rakyat dengan tindakan advokasi, kini akan jarang
ditemui. Rakyat bahkan sudah tidak percaya lagi dengan mahasiswa. Ada beberapa
faktor yang membuat rakyat tidak percaya lagi kepada mahasiswa.
Pertama,
minimnya
interaksi mahasiswa dengan rakyat. Agar mampu menganalisa lebih lanjut
masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat, mahasiswa harus melakukan
interaksi yang intens dengan masyarakat. Mahasiswa terkesan menunggu tugas
kampus baru bisa melakukan hal itu.
Kedua,
banyaknya
kasus advokasi yang kalah. Di mana pada saat aktivis mahasiswa mengadvokasi
sebuah kasus atau katakanlah sengketa tanah, yang pada akhirnya kalah.
Mahasiswa tidak mempunyai plan B
untuk kemudian menjaga kepercayaan masyarakat. Kalaupun kalah, sebagai kaum
intelektual harus mempersiapkan solusi konkret kepada masyarakat. Karena pasca
kekalahan itu, di situlah penderitaan baru akan dimulai. Bukan malah pergi
meinggalkan rakyat pada saat sudah kalah.
Kertiga,
advokasi
mahasiswa yang politis. Dari sudut pandang yang berbeda terkadang masyarakat
yang pernah terlibat dalam politik praktis akan mencurigai mahasiswa yang masuk
sebagai suatu tindakan politis untuk mengumpulkan massa. Dengan ekspetasi
politik di masa depan. Rakyat sangat menyadari adanya politik balas budi, maka
dari itu mereka akan curiga duluan.
Harus ada kesadaran
penuh oleh mahasiswa tentang peran mereka di masyarakat. Pure sebagai kelas yang
berbaur di masyarakat, tanpa busungan dada khas intelektual karbitan yang diperkaya
oleh retorika semata. Mari bung, sahabat/i, kanda-dinda, imawan-imawati, dan
semuanya yang menganggap dirinya mahasiwa, meski pun ideologi kita berbeda tapi
pikiran kita harus terbuka selebar-lebarnya. Dan kira-kira seperti itu..!!
0 komentar:
Posting Komentar