Oleh
Themmy Doaly *
Apakah solidaritas
untuk kemanusiaan harus bergantung reaksi Facebook?
Facebook menyediakan fitur khusus bernama Safety Check untuk menyikapi pembantaian
di Paris, Prancis. Namun, respon itu melahirkan perdebatan di jejaring sosial. Solidaritas
yang begitu masif, setidaknya dibanding tragedi di lain tempat, melahirkan
berbagai tuduhan prematur dan terkesan bersifat apriori.
Aktifasi fitur Safety
Check dalam tragedi Paris, oleh Facebook, misalnya, mendapat respon
‘miring’ dari sejumlah netizen. Dengan kata lain, respon atas aksi pembantaian
tidak selalu mendatangkan prihatin. Beberapa di antaranya justru menjurus pada
konstruksi berpikir yang tidak adil. Soalnya, belum lama ini juga terjadi
serangan teroris di Beirut, Lebanon, yang tidak kalah mengerikan.
Di sana, setidaknya 43 orang meninggal, dan 239 luka
karena serangan yang diduga didalangi ISIS. Tapi, saat kejadian tragis di
Beirut itu, Facebook dinilai tidak melakukan apa-apa. Itu belum ditambah dengan
kasus-kasus jatuhnya korban perang di Palestina dan Irak. Facebook nyaris tidak
membuka ruang serupa. Akibatnya, solidaritas bagi Paris dituding sebagai
solidaritas yang bias barat.
Bersamaan dengan aktifasi Safety Check, dalam kurun waktu relatif singkat, pengguna Facebook
turut memanfaatkan avatar bendera Prancis untuk menunjukkan keprihatinannya.
Aksi solidaritas bentuk ini, kemudian kembali mendatangkan kesan tak simpatik. Berbelasungkawa
pada kematian ratusan manusia di Paris dituduh tidak nasionalis. Bersolidaritas
bagi korban-korban di Paris dituding mendukung atau melawan agama tertentu.
Tidak bisa begitu, saya pikir. Hanya karena Facebook
berbelasungkawa pada tragedi Paris, dan tak memberi tempat pada tragedi
kemanusiaan lainnya, bukan berarti jadi alasan bagi kita layak melupakan atau
malah membenarkan tragedi kemanusiaan di sana. Rasa prihatin semestinya timbul
karena ada manusia-manusia yang jadi korban perang, bukan karena bergantung
sikap Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Sebab, seperti kebanyakan kita, Mark
Zuckerberg bukanlah pihak yang terkena dampak langsung dari jahatnya perang.
Solidaritas untuk Prancis juga dihubung-hubungkan dengan
tragedi kemanusiaan di tanah air. Begitu banyak kejadian menimpa rakyat
Indonesia dalam kurun setahun, namun solidaritas yang hadir tidak semasif
tragedi di Paris. Lihat saja kebakaran hutan di banyak tempat baru-baru ini, penembakan
di Papua atau bagaimana publik merespon 50 tahun pelanggaran HAM di Indonesia
serta International People’s Tribunal
(pengadilan rakyat terkait peristiwa 1965) yang digelar di Belanda. Ada kesan,
Indonesia di pelupuk mata tak tampak, Prancis di seberang lautan tampak.
Harus diakui, solidaritas terhadap permasalahan
kemanusiaan di beberapa tempat di Indonesia tidak mendapat respon masif jika
dibandingkan dengan tragedi kemanusiaan di Paris. Padahal yang jadi korban juga
sama-sama manusianya. Paris jauh, Indonesia dekat, tapi kenapa mereka lebih
banyak berduka pada sesuatu yang sulit dijangkau?
Tentu saja, kita tidak bisa menuduh semua yang
menggunakan avatar bendera Prancis sama sekali tidak berduka dengan
kejadian-kejadian di tanah air. Pastinya, ada alasan kuat yang mendorong
pengguna Facebook, dalam skala relatif besar, untuk menunjukkan simpati pada
rakyat Prancis. Perkara keberpihakan itu atas dasar kesadaran atau sekedar
ikut-ikutan, kita tidak bisa cepat-cepat memberi vonis.
Saya pikir, jika Anda – para haters – merasa lebih banyak bersolidaritas pada kemanusiaan
ketimbang reaksi pengguna Facebook yang tergolong meragukan, maka sudah
sepantasnya Anda-Anda sekalian mempersilahkan mereka untuk bersolidaritas,
karena tentu Anda sudah terlebih dahulu prihatin pada nyawa-nyawa yang jadi
korban di Paris. Toh, hanya karena
respon publik begitu besar pada korban-korban tersebut dibanding korban-korban
di tempat lain, tak lantas membuat Anda membenarkan pembunuhan, bukan? Bukankah
Anda sekalian menolak penembakan dan pengeboman yang membunuh masyarakat sipil
di manapun ia berbeda?
Tentu saja, saya sama sekali tidak berniat membela
Facebook. Namun, meremehkan solidaritas untuk sesama manusia bukanlah tindakan
yang bisa dibenarkan. Kealpaan Facebook dalam memberi ruang solidaritas bagi
tragedi serupa, bukan jadi alasan untuk melupakan pembunuhan di Paris. Ekspresi
kemanusiaan seharusnya tidak boleh bergantung pada reaksi Facebook menyikapi
suatu persoalan.
Lebih menjengkelkan lagi, perdebatan di dunia maya
membawa segala sesuatu yang justru ingin mendiskreditkan agama tertentu. Mereka
seperti ingin bilang bahwa ISIS merupakan sebuah representasi dari ajaran suci,
sehingga layak membantai seluruh lawannya – yang kemudian diberi gelar kafir. Dari
situ muncul tuduhan, semisal, invasi Amerika Serikat ke Irak sebagai perang
antara Kristen melawan Islam. Begitu juga serangan Israel ke Palestina yang
dinilai perang antara Yahudi dengan Islam. Kita tidak seharusnya berpikir
serendah itu. Amerika Serikat, Irak, Israel maupun Palestina adalah negara,
bukan agama.
Soal korban-korban yang berjatuhan – seperti halnya di
Paris, Irak, Afghanistan, Lebanon serta Palestina – kita perlu melihatnya
sebagai manusia-manusia yang menjadi korban kejahatan perang. Tak bisa
dibenarkan. Kebanyakan korban itu tidak bersenjata dan tidak mempersiapkan
dirinya untuk berperang. Membunuh mereka dengan senjata dan bom adalah tindakan
pengecut, yang harus dikutuk. Apapun negaranya.
Saya menolak stigma negatif terhadap Islam, karena ISIS
bukanlah representasi pemeluk agama ini. Saya punya banyak sahabat yang
menunjukkan sikap jauh berbeda dengan yang ditampilkan ISIS selama ini. Mereka,
sahabat-sahabat itu, menempatkan perbedaan keyakinan dalam toleransi dan rasa
saling pengertian. Mereka memandang manusia sebagai manusia.
Dengan begitu, saya juga menolak tindakan Israel yang
menyerang warga sipil di Palestina. Seperti dilakukan ISIS, membombardir
penduduk-penduduk yang tidak mempersiapkan diri dengan senjata, dan tak ada
niat berperang, adalah tindakan terkutuk. Karena itu, penggunaan ayat “Israel
adalah bangsa kepunyaan Allah” untuk melegitimasi pembunuhan di Palestina, bagi
saya, adalah sebuah cara mengesampingkan kasih bagi sesama manusia dan
menggantikannya dengan kebencian.
Saya memang bukan pakar agama, namun sepengetahuan saya,
ada nilai-nilai perdamaian dalam agama yang sengaja dikesampingkan pada banyak
peperangan. Agama bisa jadi alat mendamaikan tiap manusia. Dengan ayat-ayatnya,
manusia bisa mendapat penyegaran rohani. Tapi, ajaran agama juga ditafsir untuk
melakukan hal sebaliknya. Manusia bisa saling bunuh karena tafsir teks kitab
suci. Mereka bisa menghabisi nyawa seorang ‘kafir’ dengan keyakinan akan
memperoleh tempat yang layak di surga. Hal yang disebut terakhir, dilakukan
ISIS untuk menghabisi musuh-musuhnya. Hal yang disebut terakhir pula, yang
digunakan para haters untuk
melegitimasi pembunuhan itu.
Kita memang tidak tahu motif pengguna Facebook, yang
jutaan jumlahnya, memilih bersolidaritas dengan memasang bendera Prancis. Kita
juga belum bisa mendapat jawaban pasti kenapa publik merespon lebih tragedi
Paris dibanding tragedi-tragedi lainnya. Bisa jadi karena keberpihakan Facebook
atau mungkin karena Mark Zuckerberg sudah lebih dahulu menggunakan avatar bendera
Prancis. Bisa jadi karena pembunuhan di Paris mendapat porsi lebih di
media-media di seluruh dunia. Kita tidak tahu pasti.
Maksud saya begini, solidaritas untuk (ke)manusia(an)
harusnya menempatkan manusia sebagai korban. Tak memandang agama, warna kulit,
aliran politik, bangsa dan negara. Artinya, kita harus mengutuk pembantaian di
Paris, seperti mengutuk kekerasan di Papua ataupun Palestina. Kita harus
mengutuk pembunuhan para jendral serta orang-orang yand diduga PKI. Kita juga tak
boleh melupakan kekerasan pada kelompok ataupun individu yang berusaha
mempertahankan hak hidup dan ruang produksinya. Hal itu, tentu saja, bisa
terwujud kalau pikiran kita benar-benar adil menyikapi tragedi kemanusiaan.
Dengan begitu, sentimen pada solidaritas kemanusiaan
tidak perlu ada. Kita seharusnya bisa bersama-sama menyuarakan penolakan pada
perang, apapun alasannya. Sebab, adalah suatu keinginan bodoh mengharapkan
datangnya perdamaian lewat perang. Saya yakin, hanya orang-orang bejat yang bisa
tersenyum ketika menyaksikan bom jatuh di pemukiman penduduk dan merasakan
kemenangan saat melihat tewasnya anak-anak sekolah, ibu-ibu rumah tangga, serta
bapak-bapak yang sedang menjalankan pekerjaannya.
Lalu, apakah solidaritas Facebook dan pengikutnya yang
terkesan bias barat itu layak menghadirkan penilaian semisal “Saya Tidak Berdoa
untuk Paris karena bla, bla, bla”?
Jika hal tadi mendapat pembenaran, saya kira, nilai-nilai kemanusiaan kita
sudah sampai pada tahap paling memprihatinkan. Sebab, sekedar berbelasungkawa
pun kita sudah lupa caranya. Atau, bisa jadi, karena terlampau banyak
dipertontonkan kebencian, kita tak ingat lagi rasanya prihatin.
Jadi, jika enggan bersolidaritas pada kemanusiaan, maka
jangan halangi orang lain untuk melakukan itu.
*Penulis
adalah mantan pengurus Lembaga Pers Mahasiswa INOVASI
Universitas Sam Ratulangi
foto diunduh dari sini
foto diunduh dari sini

0 komentar:
Posting Komentar