Rabu, 18 November 2015

'Anarkis' di Mata Media





Apa yang tersirat dibenak anda ketika mendengar kata anarkis? Beberapa orang yang saya temui menjawab ‘tindakan pengrusakan’, ‘penghancuran’, ‘demo massa yang merusak’, ‘penyerangan’, dan banyak kata dan kalimat berkonotasi negatif lainnya.


Suatu hari seorang mahasiswa jurusan ilmu komunikasi berdiskusi dengan dosennya tentang rencana penelitian. Salah satu topik pembicaraan adalah konstruksi media terhadap pemaknaan kata ‘anarkis’.

“apa masalahnya?, toh kata itu yang saya tahu telah digunakan selama bertahun-tahun, tidak ada yang protes”. Ujar dosen tersebut.

“tapi pak, media kan seharusnya menyajikan berita yang benar dan lagipula dikalangan akademisi khususnya di universitas kita belum pernah ada yang mengakui adanya pemahaman yang salah tentang ‘anarkis’". Jawab si mahasiswa.

“begini yah, kamu mau ngotot gimanapun anarkis itu tetap artinya merusak, coba saja kamu tanyakan ke orang-orang pasti jawabannya sama seperti saya. Anarkis tndakan merusak, kasar karena memang itu artinya". Jawab sang dosen tak kalah sengit.

Perdebatan tetap tak menemui pangkal. Si mahasiswa mulai gondok. Pak dosen lebih gondok. Ini mahasiwa bodoh atau apa pikirnya. Sudah tau salah masih ngotot. Anarkis itu ya artinya ‘merusak’, titik.

Si mahasiswa pun mundur. Tak ada gunanya berdebat. Karena bagi mereka sama saja. Anarkis itu tindakan sesat, sesat itu jahat, dan jahat itu laknat. Titik.

Anarki sendiri merupakan kata serapan. Sama halnya dengan kata serapan bahasa Indonesia lainnya, kata ini populer dikalangan kaum intelektual sebagai pengganti kata konvensional agar terdengar lebih intelek. Anarki merupakan kata serapan dari anarchy (bahasa inggris) yang diambil dari bahasa Yunani, Anarchos/anarchia. Secara etimologis Anarchia berasal dari kata ‘a’ (tidak/tanpa) dan ‘archia’ (kekuasaan) yang berarti ‘tanpa kekuasaan’. Sementara itu Anarkisme dalam KBBI berarti ‘ajaran/paham yang menentang setiap kekuatan Negara, atau teori politik yang tidak menyukai pemerintahan dan undang-undang’. Dapat pula di definisikan sebagai Sebuah keadaan tidak seimbang karena tidak adanya pengakuan otoritas, sistem, dan bentuk pengendalian lainnya1.

Mereka yang menganut paham anarkis menentang eksistensi Negara dan segala bentuk otoritarianisme. Anarkis menolak segala bentuk dominasi dan hirarki yang mengikat. Kaum anarkis tidak menyukai adanya sistem.

Walau demikian anarkis bukan hanya soal ‘menentang hirarki dan penguasa’, lebih dari pada itu anarkis menentang ketimpangan kekuasaan yang menciptakan hak-hak istimewa diantara individu. Anarkis berpendapat setiap orang memiliki hak dan derajat yang sama di muka bumi ini. Oleh karena itulah mereka yang menganut paham ini lebih memilih kekuatan kolektifitas daripada otoritas satu individu. Semua diputuskan bersama dengan rasa sukarela.

Fokus bahasan disini bukanlah soal gerakan-gerakan anarkisme, tapi lebih kepada makna yang terkonstruksi di media tentang anarkis itu sendiri. Saat membuka portal berita di media online saya tertarik untuk membaca tulisan media lokal tentang anarkis. Sayapun membuka pencarian dengan menggunakan kata kunci “berita anarkis Tribun Manado” hasilnya judul berita yang keluar adalah berita tentang penghancuran, kericuhan dan banyak hal lain yang merujuk kepada tindak pengrusakan fisik. Saat mencoba search di portal media lokal lainnya hasilnya juga demikian.

Media berperan penting dalam pembentukan opini masyarakat. Seperti halnya si dosen diatas, baginya anarkis hanyalah bentuk chaos tanpa perduli makna sebenarnya, karena media yang ia konsumsi sehari-hari mengkonstruksikan demikian.

Mungkin bagi anda yang menkonsumsi berita sehari-hari familiar dengan istilah ini di media lokal maupun nasional. Istilah ini memang telah populer sejak lama. Namun masih belum diketahui pasti siapa tepatnya yang mengenalkan istilah ini hingga kemudian booming di media-media Indonesia. Setiap tindakan, terorganisir ataupun tidak, gerakan massa maupun individual, selama itu berbentuk ‘pengrusakan fisik’ media lantas mengkaitkannya dengan tindakan ‘anarkis’.

Hal menarik terkait bahasan ini juga saya temukan pada portal Tribun Manado. Ada sebuah ulasan yang membahas tentang anarkis dan hubungannya dengan media. Tulisan bertajuk ‘klinik bahasa’ yang ditulis oleh Marike Ivon Onsu tersebut membahas tentang penggunaan kata ‘anarkis’ bagi media. Namun tampaknya pembahasan hanya melibatkan perdebatan pemahaman media tentang mana yang paling benar antara ‘anarkis’ dan anarkistis’. Bagi penulis, kata ‘anarkis’ kurang tepat digunakan sesuai dengan tatanan gramatikal bahasa yang baik dan benar. Yang benar seharusnya ‘anarkistis’

Dalam tulisan tersebut saya menilai penulis paham akan makna kata ‘anarkis’. Dalam tulisannya ia mencaplok pengertian anarchy dari oxford dictionary yaitu keadaan tanpa otoritas pemerintah dan sistem yang mengendalikan. 
Manadopost online juga pernah memuat berita tentang kampanye (yang katanya) anarkis pada tanggal 16 november 2015. Didalam berita tertulis “simpatisan dan pendukung calon bupati mulai anarkis sehingga korban terus berjatuhan”2. Mari menganalisa. Sesuai etimologisnya anarki adalah anti pemerintah dan sistem, bagaimana mungkin yang melakukan aksinya adalah pendukung calon pemerintah bahkan partai yang terikat sistem?.

Dalam hal ini kata anarki di Indonesia mengalami peyorasi. Suatu perubahan makna menjadi lebih buruk dari makna sebenarnya. Semakin kata ini sering muncul di media semakin masyarakat dikonstruksi berfikiran buruk tentang ‘anarki’. Lalu bagaimana dengan kaum anarkis?. Ada beberapa orang yang saya kenal mengaku dirinya an anarchist, an anti-authoritariannism. Apa berarti itu buruk?. Bagaimana pendapat anda jika saya bilang saya anarkis? Apakah berarti saya kasar? Tukang rusuh? dan pengacau?. (Ino)

0 komentar:

Posting Komentar