Apa
yang tersirat dibenak anda ketika mendengar kata anarkis? Beberapa orang yang
saya temui menjawab ‘tindakan pengrusakan’, ‘penghancuran’, ‘demo massa yang
merusak’, ‘penyerangan’, dan banyak kata dan kalimat berkonotasi negatif
lainnya.
Suatu
hari seorang mahasiswa jurusan ilmu komunikasi berdiskusi dengan dosennya
tentang rencana penelitian. Salah satu topik pembicaraan adalah konstruksi
media terhadap pemaknaan kata ‘anarkis’.
“apa masalahnya?, toh kata itu yang saya tahu telah digunakan selama bertahun-tahun, tidak ada yang protes”. Ujar dosen tersebut.
“tapi
pak, media kan seharusnya menyajikan berita yang benar dan lagipula dikalangan
akademisi khususnya di universitas kita belum pernah ada yang mengakui adanya
pemahaman yang salah tentang ‘anarkis’". Jawab si mahasiswa.
“begini
yah, kamu mau ngotot gimanapun anarkis itu tetap artinya merusak, coba saja
kamu tanyakan ke orang-orang pasti jawabannya sama seperti saya. Anarkis tndakan
merusak, kasar karena memang itu artinya". Jawab sang dosen tak kalah sengit.
Perdebatan
tetap tak menemui pangkal. Si mahasiswa mulai gondok. Pak dosen lebih gondok. Ini mahasiwa bodoh atau apa pikirnya. Sudah tau salah masih ngotot. Anarkis itu ya
artinya ‘merusak’, titik.
Si mahasiswa pun mundur. Tak ada gunanya berdebat. Karena bagi mereka sama saja. Anarkis itu tindakan sesat, sesat itu jahat, dan jahat itu laknat. Titik.
Anarki
sendiri merupakan kata serapan. Sama halnya dengan kata serapan bahasa
Indonesia lainnya, kata ini populer dikalangan kaum intelektual sebagai
pengganti kata konvensional agar terdengar lebih intelek. Anarki merupakan kata
serapan dari anarchy (bahasa inggris) yang diambil dari bahasa Yunani,
Anarchos/anarchia. Secara etimologis Anarchia berasal dari kata ‘a’
(tidak/tanpa) dan ‘archia’ (kekuasaan) yang berarti ‘tanpa kekuasaan’. Sementara
itu Anarkisme dalam KBBI berarti ‘ajaran/paham yang menentang setiap kekuatan
Negara, atau teori politik yang tidak menyukai pemerintahan dan undang-undang’.
Dapat pula di definisikan sebagai Sebuah keadaan tidak seimbang karena tidak adanya pengakuan
otoritas, sistem, dan bentuk pengendalian lainnya1.
Mereka
yang menganut paham anarkis menentang eksistensi Negara dan segala bentuk otoritarianisme.
Anarkis menolak segala bentuk dominasi dan hirarki yang mengikat. Kaum anarkis
tidak menyukai adanya sistem.
Walau
demikian anarkis bukan hanya soal ‘menentang hirarki dan penguasa’, lebih dari
pada itu anarkis menentang ketimpangan kekuasaan yang menciptakan hak-hak
istimewa diantara individu. Anarkis berpendapat setiap orang memiliki hak dan
derajat yang sama di muka bumi ini. Oleh karena itulah mereka yang menganut
paham ini lebih memilih kekuatan kolektifitas daripada otoritas satu individu.
Semua diputuskan bersama dengan rasa sukarela.
Fokus bahasan disini bukanlah soal gerakan-gerakan anarkisme, tapi lebih kepada
makna yang terkonstruksi di media tentang anarkis itu sendiri. Saat membuka
portal berita di media online saya tertarik untuk membaca tulisan media lokal
tentang anarkis. Sayapun membuka pencarian dengan menggunakan kata kunci
“berita anarkis Tribun Manado” hasilnya judul berita yang keluar adalah berita
tentang penghancuran, kericuhan dan banyak hal lain yang merujuk kepada tindak
pengrusakan fisik. Saat mencoba search
di portal media lokal lainnya hasilnya juga demikian.
Media
berperan penting dalam pembentukan opini masyarakat. Seperti halnya si dosen
diatas, baginya anarkis hanyalah bentuk chaos
tanpa perduli makna sebenarnya, karena media yang ia konsumsi sehari-hari
mengkonstruksikan demikian.
Mungkin
bagi anda yang menkonsumsi berita sehari-hari familiar dengan istilah ini di
media lokal maupun nasional. Istilah ini memang telah populer sejak lama. Namun
masih belum diketahui pasti siapa tepatnya yang mengenalkan istilah ini hingga
kemudian booming di media-media
Indonesia. Setiap tindakan, terorganisir ataupun tidak, gerakan massa maupun individual,
selama itu berbentuk ‘pengrusakan fisik’ media lantas mengkaitkannya dengan
tindakan ‘anarkis’.
Hal
menarik terkait bahasan ini juga saya temukan pada portal Tribun Manado. Ada
sebuah ulasan yang membahas tentang anarkis dan hubungannya dengan media. Tulisan
bertajuk ‘klinik bahasa’ yang ditulis oleh Marike Ivon Onsu tersebut membahas
tentang penggunaan kata ‘anarkis’ bagi media. Namun tampaknya pembahasan hanya
melibatkan perdebatan pemahaman media tentang mana yang paling benar antara ‘anarkis’
dan anarkistis’. Bagi penulis, kata ‘anarkis’ kurang tepat digunakan sesuai
dengan tatanan gramatikal bahasa yang baik dan benar. Yang benar seharusnya ‘anarkistis’
Dalam
tulisan tersebut saya menilai penulis paham akan makna kata ‘anarkis’. Dalam tulisannya
ia mencaplok pengertian anarchy dari oxford dictionary yaitu keadaan tanpa
otoritas pemerintah dan sistem yang mengendalikan.
Manadopost
online juga pernah memuat berita tentang kampanye (yang katanya) anarkis pada tanggal
16 november 2015. Didalam berita tertulis “simpatisan dan pendukung calon bupati mulai anarkis sehingga
korban terus berjatuhan”2. Mari menganalisa. Sesuai etimologisnya
anarki adalah anti pemerintah dan sistem, bagaimana mungkin yang melakukan
aksinya adalah pendukung calon pemerintah bahkan partai yang terikat sistem?.
Dalam
hal ini kata anarki di Indonesia mengalami peyorasi. Suatu perubahan makna menjadi
lebih buruk dari makna sebenarnya. Semakin kata ini sering muncul di media
semakin masyarakat dikonstruksi berfikiran buruk tentang ‘anarki’. Lalu bagaimana
dengan kaum anarkis?. Ada beberapa orang yang saya kenal mengaku dirinya an anarchist, an anti-authoritariannism.
Apa berarti itu buruk?. Bagaimana pendapat anda jika saya bilang saya anarkis? Apakah
berarti saya kasar? Tukang rusuh? dan pengacau?. (Ino)
2http://manadopostonline.com/read/2015/11/16/PANASUsai-Hadiri-Kampanye-Mobil-Dicegat-Pakai-Parang-6-Warga-Dilempari/11158
foto diunduh dari sini
foto diunduh dari sini

0 komentar:
Posting Komentar