Oleh:
Andy Zulkifly Musdar
“Pengilukadal”.
Melihat kadal rasa ngilu. Ngilu karena kadalnya berpikiran dangkal.
Yeah..namanya juga kadal. Suka ngadalin. Tunggu yang rasa ngilu kadalnya atau
yang dikadalin.
Bisa
dua-duanya. Si kadal bisa rasa ngilu kalau tidak dapat makan siangnya, perutnya
kembang kempis, mulutnya panik. Yang dikadalin pun bisa ngilu, lebih ngilu
malah. Karena sadar sudah dikadalin. Geram, memaki, mencaci, bahkan orasi. Tapi
tak ada gunanya, jadi malu rasanya.
Si kadal
selalu disalahkan karena suka ngadalin. Seperti seduhan kopi yang pahit, pasti
gula yang disalahkan. Bukan yang dikadalin. Karena si kadal juga punya pasukan
khusus untuk ngadalin.
Pasukan khusus
pertama, pasukan yang punya basis
besar. Yang punya sejarah menang, yang sekarang juga sudah bermetamorfosa jadi
kadal.
Pasukan khusus
kedua, keluarga si kadal. Yang dapat
subsidi langsung, yang urus-urus logistik, akomodasi dan lain-lain. Eh, hampir
lupa, pasukan khusus pertama juga dapat subsidi ya. Bedanya pasukan khusus
kedua lebih kepada hal-hal teknis, sedangkan yang pertama untuk bikin basisnya
ngangguk saja dan siap dikadalin.
Lacertilia
(nama lain si kadal) terdiri atas kelompok cecak, tokek, bunglon, cecak
terbang, biawak, iguana dan lain-lain. Kelompok kadal lain juga biasa disebut
predator (pemangsa).
Jadi, mereka
siap bikin janji untuk sekedar ngadalin. Dari pada terlalu sering dikadalin
mending dengar lagu saja. MOSI TIDAK PERCAYA dari Efek Rumah Kaca kayaknya pas
buat kecemasan kalian terhadap “pengilukadal”.
0 komentar:
Posting Komentar