Selasa, 08 Desember 2015

Pengilukadal



Oleh:
Andy Zulkifly Musdar


“Pengilukadal”. Melihat kadal rasa ngilu. Ngilu karena kadalnya berpikiran dangkal. Yeah..namanya juga kadal. Suka ngadalin. Tunggu yang rasa ngilu kadalnya atau yang dikadalin.

Bisa dua-duanya. Si kadal bisa rasa ngilu kalau tidak dapat makan siangnya, perutnya kembang kempis, mulutnya panik. Yang dikadalin pun bisa ngilu, lebih ngilu malah. Karena sadar sudah dikadalin. Geram, memaki, mencaci, bahkan orasi. Tapi tak ada gunanya, jadi malu rasanya.

Si kadal selalu disalahkan karena suka ngadalin. Seperti seduhan kopi yang pahit, pasti gula yang disalahkan. Bukan yang dikadalin. Karena si kadal juga punya pasukan khusus untuk ngadalin.

Pasukan khusus pertama, pasukan yang punya basis besar. Yang punya sejarah menang, yang sekarang juga sudah bermetamorfosa jadi kadal.

Pasukan khusus kedua, keluarga si kadal. Yang dapat subsidi langsung, yang urus-urus logistik, akomodasi dan lain-lain. Eh, hampir lupa, pasukan khusus pertama juga dapat subsidi ya. Bedanya pasukan khusus kedua lebih kepada hal-hal teknis, sedangkan yang pertama untuk bikin basisnya ngangguk saja dan siap dikadalin.

Lacertilia (nama lain si kadal) terdiri atas kelompok cecak, tokek, bunglon, cecak terbang, biawak, iguana dan lain-lain. Kelompok kadal lain juga biasa disebut predator (pemangsa).

Jadi, mereka siap bikin janji untuk sekedar ngadalin. Dari pada terlalu sering dikadalin mending dengar lagu saja. MOSI TIDAK PERCAYA dari Efek Rumah Kaca kayaknya pas buat kecemasan kalian terhadap “pengilukadal”.

0 komentar:

Posting Komentar