Oleh :
Inovasi. Sebuah istilah yang seringkali merujuk pada suatu hal yang baru,
ide-ide brilian, gagasan-gagasan baru, hingga upaya-upaya perbaikan demi sebuah
kemajuan. Inovasi bukanlah istilah yang asing didengar di tengah
peradaban dunia. Ah, apalagi aku hidup di tengah-tengah generasi yang dituntut
untuk selalu menjadi manusia yang kreatif dan inovatif. Katanya agar kita mampu
bersaing di tengah arus perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang
perlahan menyihir berbagai macam kesulitan dalam hidup menjadi hal-hal yang
dapat diselesaikan hanya dengan sekali sentuh. Menurut K. Ahmen dan Charles
Shepherd, 2010 Inovasi seringkali dijadikan acuan untuk berkembang dan
mendorong terjadinya perubahan di segala aspek kehidupan demi perbaikan mutu
setiap individu dan hal-hal yang berkaitan disekitarnya. Aku tidak
sedang mencoba mendefinisikan Inovasi, namun paling tidak otakku yang sederhana
ini kini mampu memahami maksud dari kata I-no-va-si.
Inovasi. Belum banyak yang kutahu tentang organisasi ini. Walaupun telah
berdiri hampir 31 tahun lamanya, aku jarang mendengar nama organisasi ini
menjadi perbincangan orang-orang di kampus, hampir tidak pernah sama sekali.
Mungkin pamornya kalah dengan keberadaan ormawa-ormawa lain yang ada di kampus
Unsrat, mungkin juga Aku yang memang minim informasi tentang kampusku ini. Aku
sendiri mengenal Inovasi karena kebiasaanku menjalajahi dunia maya, membaca
dari satu blog ke blog lain atau istilah kerennya blog-walking. Aku
membaca beberapa tulisan di website Inovasi yang cukup memberiku sedikit
informasi tentang Inovasi yang merupakan sebuah Lembaga Pers Mahasiswa. Sebuah
organisasi ekstra-kampus yang katanya paling kritis menyoroti isu-isu
kebirokrasian dan kebijakan-kebijakan di kampus, isu-isu sosial, politik,
hukum, budaya, hingga musik, sampai hiruk-pikuk kehidupan mahasiswa di dalamnya
menjadi hal-hal yang menarik untuk dijadikan bahan menulis.
Namaku Mustika. Mahasiswa semester empat
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi. Aku suka
menulis dan sedikit ‘kepo’. Namun akhir-akhir ini aku galau dengan
tulisan-tulisanku yang ke-baper-baper-an, kupikir. Ritme menulis yang
kujadwalkan rutin mulai kacau ketika kuliah, dan isinya semakin tidak karuan.
Atau mungkin kehidupan kampusku yang kurang memberi kesan telah mempengaruhi
tulisan-tulisanku menjadi kurang bermutu. Aku bahkan menyesali beberapa tulisan
yang pernah ku-post di blog pribadiku. Pada akhirnya belum lama ini aku
memutuskan untuk bergabung di Inovasi. Awalnya, belum pernah terbesit di
pikiranku untuk bergabung dengan organisasi lain di kampus selain yang ada di
lingkungan fakultasku sendiri.
Aku menyadari akan pola pikirku dulu yang masih seperti
mahasiswa semester awal kebanyakan yang berpikiran bahwa kegiatan berorganisasi
itu adalah hal yang melelahkan dan tidak menyenangkan. Seiring dengan
berjalannya waktu, ternyata lebih melelahkan menjadi mahasiswa dengan ritme
harian yang monotone. Kuliah-pulang-ngerjain
tugas-makan-tidur-belajar-rapat sesekali-nulis ngikutin mood dan hal-hal
itu kulakukan berulang-ulang. Aku jadi berpikir bagaimana caranya memaksimalkan
ongkos transportasi yang asalnya dari beasiswa yang disubsidi dari uang rakyat
agar sebanding dengan produktivitas ku di kampus.
Telah banyak waktu yang aku
sia-siakan yang padahal bisa diisi dengan kegiatan bermanfaat. Lingkungan di
tempatku belajar pula menjadi salah satu pemicu agar segera keluar dari tempat
yang kurang membuatku berkembang. Aku bosan dengan topik-topik pembicaraan
kawan-kawanku di kampus yang melulu membicarakan kehidupan orang lain, dan
sekelumit obrolan tentang gadget, gebetan terbaru, hingga tempat hangout
terkini. Aku pun dibuat bingung dengan konsep “Mahasiswa” yang dimaksud
orang-orang di luar sana, apa yang didefinisikan di dalam buku-buku, dan
apa yang telah aku lihat sendiri saat ini.
Selain hasrat untuk mencicipi kehidupan
mahasiswa yang aktif berorganisasi, keinginan untuk menghasilkan
tulisan-tulisan yang bermanfaat juga menjadi salah satu motivasiku. Kupikir
dengan bergabung di Inovasi akan membantuku melatih kemampuan menulisku.
Mencoba masuk ke lingkungan yang baru juga kupikir akan membuatku lebih peka
terhadap lingkungan di sekitar.
Salah satu pertimbangan yang paling kusuka
adalah, deadline. Aku suka berjumpa dengan si deadline, alias ‘batas
waktu’. Berada di antaranya mampu membuat kreativitas menulisku meningkat.
‘Batas waktu’ mungkin memang mampu memberi kesan tersendiri terhadap
tulisan-tulisanku. Mungkin juga karena ‘batas waktu’ seringkali memaksa
seseorang untuk berbuat sesuatu dengan sebaik-baiknya, selagi masih ada sisa
waktu. ‘Batas waktu’ sebenarnya bisa saja dilanggar, namun inilah yang
menurutku menjadi salah satu tantangan paling berat dalam menulis selain writers-block.
Karena dengan adanya deadline akan menuntutku untuk menulis dengan
disiplin. Itu saja.
Bagiku Inovasi adalah sebuah pilihan untuk
membebaskan diri dari julukan Mahasiswa Kupu-Kupu alias
(Kuliah-pulang-kuliah-pulang). Ini mungkin juga menjadi caraku untuk
ber-inovasi dengan kehidupan perkuliahanku. Barangkali bukanlah sebuah
kebetulan bagiku untuk menjadi bagian dari organisasi mahasiswa tertua yang ada
di kampus ini. Sebuah pesan elektronik yang kurimkan kepada redaksi Inovasi
yang baru dijawab sebulan setelahnya mempertemukanku dengan si Pemimpin Umum
dan Pemimpin Perusahaan, Kak Ilona dan Kak Lulu. Di awal pertemuan kami, mereka
berdua bercerita banyak tentang sejarah dan perjalanan Inovasi. Sesekali
bernostalgia tentang kenangan dan pengalaman mereka di LPM ini. Aku
bahkan diajak nongkrong bersama di Kantin FISIP yang cukup ramai. Dan saat itu
aku menyadari bahwa ternyata di Unsrat ini ada banyak manusia-manusia unik
dengan kepribadian dan pola tingkah yang tidak biasa, dan belum pernah
kutemui selama kuliah. Dengan bergabung bersama Inovasi, kurasa aku akan
bertemu lebih banyak teman-teman baru dengan beragam latar belakang dan beragam
cara pandang dalam menyikapi kehidupan.
Belum lama ini aku bersama Fathur dan
Shibab dilantik menjadi anggota baru LPM-Inovasi Unsrat. Kedua temanku itu
adalah mahasiswa jurusan Antropologi dari FISIP. Iya, kami hanya dilantik
bertiga, dan aku menjadi satu-satunya calon anggota perempuan saat itu. Dua
orang teman perempuan calon anggota Inovasi waktu itu memilih untuk mundur dan
tidak ikut pelantikan karena harus menginap di tengah hutan serta masalah
perizinan dari orang tua.
Pelantikan calon anggota Inovasi yang dilakukan
di sebuah lokasi air terjun di Tanawangko seminggu yang lalu itu
sebenarnya juga sekaligus menjadi pengalamam camping pertamaku.
Terdengar payah memang. Lepas dari semua cerita di atas, aku ingin berterima
kepada semua teman-teman dan senior-senior di LPM-Inovasi atas sambutan kalian
yang hangat. Tak peduli dengan ritual pelantikan dan keisengan-keisengan kalian
ketika merendam kami di tengah sungai yang dingin di pagi buta, disuruh luluran
dengan air comberan, hingga dipaksa menelan makanan aneh yang katanya makanan
para dewa. Kebersamaan ketika kita semua makan di satu pelepah daun pisang yang
sama juga memberi kesan tersendiri. Apalagi ketika persediaan air minum kita
habis, kita terpaksa merebus air sungai yang belakangan baru diketahui sebagai
tempat pup para sapi-sapi di sekitar lokasi air terjun. Hahaha, aku jadi geli
membayangkannya.
Selepas resmi menjadi bagian dari
LPM-Inovasi, kini aku menantikan cerita-cerita seru lainnya bersama keluarga
baruku ini. Aku menantikan deadline-deadline, juga pengalaman-pengalaman
baru sebagai seorang jurnalis kampus. Semoga tempat baru ini mampu menjawab
pertanyan-pertanyaanku tentang eksistensi “Mahasiswa” sekaligus memahami
berbagai persoalan-persoalan di dalamnya. Aku ingin belajar ber-inovasi, dan
menyumbangkan ide-ide dan gagasan demi kemajuan bangsa melalui pena. Selebihnya
kuserahkan kepada waktu. Intinya, aku ingin belajar banyak di sini !

0 komentar:
Posting Komentar