Senin, 15 Februari 2016

Mencari Inovasi, Mencari Deadline

Oleh :
Mustika Muchtar

Inovasi. Sebuah istilah yang seringkali merujuk pada suatu hal yang baru, ide-ide brilian, gagasan-gagasan baru, hingga upaya-upaya perbaikan demi sebuah kemajuan. Inovasi bukanlah istilah yang asing didengar  di tengah peradaban dunia. Ah, apalagi aku hidup di tengah-tengah generasi yang dituntut untuk selalu menjadi manusia yang kreatif dan inovatif. Katanya agar kita mampu bersaing di tengah arus perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang perlahan menyihir berbagai macam kesulitan dalam hidup menjadi hal-hal yang dapat diselesaikan hanya dengan sekali sentuh. Menurut K. Ahmen dan Charles Shepherd, 2010 Inovasi seringkali dijadikan acuan untuk berkembang dan mendorong terjadinya perubahan di segala aspek kehidupan demi perbaikan mutu setiap individu dan hal-hal yang berkaitan disekitarnya. Aku tidak sedang mencoba mendefinisikan Inovasi, namun paling tidak otakku yang sederhana ini kini mampu memahami maksud dari kata I-no-va-si.

Inovasi. Belum banyak yang kutahu tentang organisasi ini. Walaupun telah berdiri hampir 31 tahun lamanya, aku jarang mendengar nama organisasi ini menjadi perbincangan orang-orang di kampus, hampir tidak pernah sama sekali. Mungkin pamornya kalah dengan keberadaan ormawa-ormawa lain yang ada di kampus Unsrat, mungkin juga Aku yang memang minim informasi tentang kampusku ini. Aku sendiri mengenal Inovasi karena kebiasaanku menjalajahi dunia maya, membaca dari satu blog ke blog lain atau istilah kerennya blog-walking. Aku membaca beberapa tulisan di website Inovasi yang cukup memberiku sedikit informasi tentang Inovasi yang merupakan sebuah Lembaga Pers Mahasiswa. Sebuah organisasi ekstra-kampus yang katanya paling kritis menyoroti isu-isu kebirokrasian dan kebijakan-kebijakan di kampus, isu-isu sosial, politik, hukum, budaya, hingga musik, sampai hiruk-pikuk kehidupan mahasiswa di dalamnya menjadi hal-hal yang menarik untuk dijadikan bahan menulis.

Namaku Mustika. Mahasiswa semester empat Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi. Aku suka menulis dan sedikit ‘kepo’. Namun akhir-akhir ini aku galau dengan tulisan-tulisanku yang ke-baper-baper-an, kupikir. Ritme menulis yang kujadwalkan rutin mulai kacau ketika kuliah, dan isinya semakin tidak karuan. Atau mungkin kehidupan kampusku yang kurang memberi kesan telah mempengaruhi tulisan-tulisanku menjadi kurang bermutu. Aku bahkan menyesali beberapa tulisan yang pernah ku-post di blog pribadiku. Pada akhirnya belum lama ini aku memutuskan untuk bergabung di Inovasi. Awalnya, belum pernah terbesit di pikiranku untuk bergabung dengan organisasi lain di kampus selain yang ada di lingkungan fakultasku sendiri.

Aku menyadari akan pola pikirku dulu yang masih seperti mahasiswa semester awal kebanyakan yang berpikiran bahwa kegiatan berorganisasi itu adalah hal yang melelahkan dan tidak menyenangkan. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata lebih melelahkan menjadi mahasiswa dengan ritme harian yang monotone. Kuliah-pulang-ngerjain tugas-makan-tidur-belajar-rapat sesekali-nulis ngikutin mood dan hal-hal itu kulakukan berulang-ulang. Aku jadi berpikir bagaimana caranya memaksimalkan ongkos transportasi yang asalnya dari beasiswa yang disubsidi dari uang rakyat agar sebanding dengan produktivitas ku di kampus.

Telah banyak waktu yang aku sia-siakan yang padahal bisa diisi dengan kegiatan bermanfaat. Lingkungan di tempatku belajar pula menjadi salah satu pemicu agar segera keluar dari tempat yang kurang membuatku berkembang. Aku bosan dengan topik-topik pembicaraan kawan-kawanku di kampus yang melulu membicarakan kehidupan orang lain, dan sekelumit obrolan tentang gadget, gebetan terbaru, hingga tempat hangout terkini. Aku pun dibuat bingung dengan konsep “Mahasiswa” yang dimaksud orang-orang di luar sana, apa yang didefinisikan di dalam buku-buku, dan  apa yang telah aku lihat sendiri saat ini. 
 
Selain hasrat untuk mencicipi kehidupan mahasiswa yang aktif berorganisasi, keinginan untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang bermanfaat juga menjadi salah satu motivasiku. Kupikir dengan bergabung di Inovasi akan membantuku melatih kemampuan menulisku. Mencoba masuk ke lingkungan yang baru juga kupikir akan membuatku lebih peka terhadap lingkungan di sekitar. 

Salah satu pertimbangan yang paling kusuka adalah, deadline. Aku suka berjumpa dengan si deadline, alias ‘batas waktu’. Berada di antaranya mampu membuat kreativitas menulisku meningkat. ‘Batas waktu’  mungkin memang mampu memberi kesan tersendiri terhadap tulisan-tulisanku. Mungkin juga karena ‘batas waktu’ seringkali memaksa seseorang untuk berbuat sesuatu dengan sebaik-baiknya, selagi masih ada sisa waktu. ‘Batas waktu’ sebenarnya bisa saja dilanggar, namun inilah  yang menurutku menjadi salah satu tantangan paling berat dalam menulis selain writers-block. Karena dengan adanya deadline akan menuntutku untuk menulis dengan disiplin. Itu saja.

Bagiku Inovasi adalah sebuah pilihan untuk membebaskan diri dari julukan Mahasiswa Kupu-Kupu alias (Kuliah-pulang-kuliah-pulang). Ini mungkin juga menjadi caraku untuk ber-inovasi dengan kehidupan perkuliahanku. Barangkali bukanlah sebuah kebetulan bagiku untuk menjadi bagian dari organisasi mahasiswa tertua yang ada di kampus ini. Sebuah pesan elektronik yang kurimkan kepada redaksi Inovasi yang baru dijawab sebulan setelahnya mempertemukanku dengan si Pemimpin Umum dan Pemimpin Perusahaan, Kak Ilona dan Kak Lulu. Di awal pertemuan kami, mereka berdua bercerita banyak tentang sejarah dan perjalanan Inovasi. Sesekali bernostalgia tentang kenangan dan pengalaman  mereka di LPM ini. Aku bahkan diajak nongkrong bersama di Kantin FISIP yang cukup ramai. Dan saat itu aku menyadari bahwa ternyata di Unsrat ini ada banyak manusia-manusia unik dengan kepribadian dan pola tingkah yang tidak biasa, dan  belum pernah kutemui selama kuliah. Dengan bergabung bersama Inovasi, kurasa aku akan bertemu lebih banyak teman-teman baru dengan beragam latar belakang dan beragam cara pandang dalam menyikapi kehidupan.

Belum lama ini aku bersama Fathur dan Shibab dilantik menjadi anggota baru LPM-Inovasi Unsrat. Kedua temanku itu adalah mahasiswa jurusan Antropologi dari FISIP. Iya, kami hanya dilantik bertiga, dan aku menjadi satu-satunya calon anggota perempuan saat itu. Dua orang teman perempuan calon anggota Inovasi waktu itu memilih untuk mundur dan tidak ikut pelantikan karena harus menginap di tengah hutan serta masalah perizinan  dari orang tua.

Pelantikan calon anggota Inovasi yang dilakukan di sebuah lokasi air terjun di Tanawangko seminggu yang lalu  itu sebenarnya juga sekaligus menjadi pengalamam camping pertamaku. Terdengar payah memang. Lepas dari semua cerita di atas, aku ingin berterima kepada semua teman-teman dan senior-senior di LPM-Inovasi atas sambutan kalian yang hangat. Tak peduli dengan ritual pelantikan dan keisengan-keisengan kalian ketika merendam kami di tengah sungai yang dingin di pagi buta, disuruh luluran dengan air comberan, hingga dipaksa menelan makanan aneh yang katanya makanan para dewa. Kebersamaan ketika kita semua makan di satu pelepah daun pisang yang sama juga memberi kesan tersendiri. Apalagi ketika persediaan air minum kita habis, kita terpaksa merebus air sungai yang belakangan baru diketahui sebagai tempat pup para sapi-sapi di sekitar lokasi air terjun. Hahaha, aku jadi geli membayangkannya.

Selepas resmi menjadi bagian dari LPM-Inovasi, kini aku menantikan cerita-cerita seru lainnya bersama keluarga baruku ini. Aku menantikan deadline-deadline, juga pengalaman-pengalaman baru sebagai seorang jurnalis kampus. Semoga tempat baru ini mampu menjawab pertanyan-pertanyaanku tentang  eksistensi “Mahasiswa” sekaligus memahami berbagai persoalan-persoalan di dalamnya. Aku ingin belajar ber-inovasi, dan menyumbangkan ide-ide dan gagasan demi kemajuan bangsa melalui pena. Selebihnya kuserahkan kepada waktu.  Intinya, aku ingin belajar banyak di sini !  

0 komentar:

Posting Komentar