Foto : Wien Tatiek (Facebook & Grid.id)
12
November diperingati sebagai Hari Ayah dan Hari Kesehatan Nasional. Jadi, special for today Penulis mewakili
seluruh Tim Redaksi LPM INOVASI UNSRAT ingin mengucapkan:
“Selamat
Hari Ayah untuk semua Ayah yang ada di Muka Bumi”
Narasumber
kali ini, yang tidak mau disebut identitasnya adalah seorang anak yang harus
terus berjuang di dalam doa, berseteru dengan rasa takut dan melangkah dengan
keyakinan di setiap harinya karena harus mengikhlaskan sang ayah berjuang di
garda terdepan untuk kepentingan semua orang. Begitu besarnya peran seorang ayah
di dalam keluarga menjadi salah satu latar belakang dari peringatan Hari Ayah.
Mungkin
ada banyak anak di luar sana yang tidak merasakan sosok ayah di dalam hidupnya
dan peran ayah digantikan oleh ibu mereka, begitu pun sebaliknya. Narasumber
kali ini mempunyai ayah yang sekaligus berperan sebagai Ibu dalam keluarganya.
Mungkin
ditinggal bekerja adalah hal yang biasa bagi seorang anak. Tapi, bagaimana bila
sang ayah yang awalnya sangat dekat, dengan terpaksa harus menjaga jarak demi
kepentingan bersama?
Inilah
sedikit kisah dari Narasumber kali ini.
“Awalnya kami tinggal di atap yang
sama. Tapi, ketika ayah saya ditugaskan di garda depan membuat ia secara tak sengaja
harus kontak langsung dengan mereka yang sudah terkontamisasi Virus COVID-19. Hal
itu membuat kami mau tak mau harus menjaga jarak dari-nya (katanya; Ia bisa
saja sewaktu-waktu dinyatakan positif). Setelah terjadi perdebatan dan
negosiasi yang panjang, semua berakhir dengan kita harus tinggal di atap yang
berbeda. Kadang ingin sekali bercengkerama walau hanya lewat smartphone, tapi sangat
sulit. Mau menghubungi duluan, tapi takut mengganggu waktu istirahatnya selepas
jaga selama kurang lebih 7-8 jam dengan pakaian yang sangat panas. Pernah sekali
saya bertanya: Bagaimana perasaannya menggunakan pakaian seperti pakaian
astronot, menahan lapar dan haus selama 7-8 jam dan bahkan menggunakan popok
untuk buang air? Jawabannya adalah, “merasa dirinya keren.” Ketika itu saya
hanya tertawa, rasanya seperti kita sedang mengobrol secara tatap muka saling
melihat ekspresi satu sama lain. Tapi nyatanya, tidak!
Setiap kali saya membuka pemberitahuan
dari ayah saya, saya selalu berdoa kalau itu bukan kabar yang buruk. Rasa takut
memang selalu ada, egois juga sudah pasti. Sering kali saya berpikir kenapa
harus ayah saya yang berjuang untuk orang lain sedangkan mereka tidak pernah
memikirkan diri mereka sendiri. Sempat beberapa kali saya protes, tapi ayah
saya hanya berkata “kerjakan apa yang menjadi tanggung jawab-mu, jangan
memikirkan hal lain dan Papa akan menyelesaikan tugas dan tanggung jawab Papa
disini sebaik mungkin.”
Ketika sudah diakhiri dengan kalimat itu, saya hanya bisa berdoa dan diam serta
berpikir, kapan semua ini akan berakhir dengan adil?.”
*****
Mungkin
sebagian orang sangat menikmati kebersamaan bersama keluarga dengan adanya Virus
COVID-19 yang mengharuskan segala kegiatan dilakukan dari rumah. Tapi, akhirnya
keadaan ini disalahgunakan dengan liburan keluarga, kumpul bersama teman
tongkrongan dan hal lainnya yang memicu keramaian, tentu saja kegiatan-kegiatan
tersebut secara tidak langsung meningkatkan angka pasien COVID-19 di Indonesia.
Di
sisi lain kalian mengeluh karena tidak kunjung selesai pandemi ini, sementara kalian
melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan karna melanggar protokol
kesehatan yang mana kita semua tahu, hal-hal tidak penting itu sudah
diperingatkan oleh pemerintah. Saya yakin masih banyak orang yang berpikiran
bahwa Virus ini tidak nyata, Virus ini hanya konspirasi dan hal biasa. Bahkan
ada orang-orang yang berpikiran bahwa tenaga kesehatan sangat diuntungkan
dengan adanya Pandemi ini.
Nyatanya,
tidak ada yang diuntungkan dari pandemi ini dan tidak ada yang ingin pandemi
ini terjadi dan terus berlangsung. Pikirlah, mungkin 75 tahun yang lalu musuh
kita adalah tentara yang masih bisa dilihat, diserang dan tau kapan mereka akan
menyerang. Tapi saat ini, musuh kita adalah sesuatu yang tidak terlihat, yang
bisa menyerang sistem kekebalan tubuh kita kapan saja dan di mana saja, serta
dengan keadaan apa saja.
Kemarin
kita baru saja memperingati Hari Pahlawan, saat ini mari kita hargai mereka yang
berjuang di garda terdepan, harus meninggalkan keluarganya dan merelakan
dirinya sewaktu-waktu bisa diserang Virus COVID-19 kapan saja. Penulis harap setelah
membaca tulisan ini kalian bisa lebih membuka wawasan kalian tentang seberapa
penting arti keluarga, seberapa penting juga kesehatan kita dan bagaimana cara
kita menghargai para pahlawan kita saat ini.
Selamat Hari Ayah, Selamat Hari
Kesehatan Nasional
Jangan
lupa untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dan Salam Sehat!
Penulis
: Tessalonika Watung

0 komentar:
Posting Komentar