Rabu, 11 November 2020

Sosok Pahlawan di Hari Kesehatan Nasional

 

Foto : Wien Tatiek (Facebook & Grid.id)

12 November diperingati sebagai Hari Ayah dan Hari Kesehatan Nasional. Jadi, special for today Penulis mewakili seluruh Tim Redaksi LPM INOVASI UNSRAT ingin mengucapkan:

“Selamat Hari Ayah untuk semua Ayah yang ada di Muka Bumi”

Narasumber kali ini, yang tidak mau disebut identitasnya adalah seorang anak yang harus terus berjuang di dalam doa, berseteru dengan rasa takut dan melangkah dengan keyakinan di setiap harinya karena harus mengikhlaskan sang ayah berjuang di garda terdepan untuk kepentingan semua orang. Begitu besarnya peran seorang ayah di dalam keluarga menjadi salah satu latar belakang dari peringatan Hari Ayah.

Mungkin ada banyak anak di luar sana yang tidak merasakan sosok ayah di dalam hidupnya dan peran ayah digantikan oleh ibu mereka, begitu pun sebaliknya. Narasumber kali ini mempunyai ayah yang sekaligus berperan sebagai Ibu dalam keluarganya.

Mungkin ditinggal bekerja adalah hal yang biasa bagi seorang anak. Tapi, bagaimana bila sang ayah yang awalnya sangat dekat, dengan terpaksa harus menjaga jarak demi kepentingan bersama?

Inilah sedikit kisah dari Narasumber kali ini.

“Awalnya kami tinggal di atap yang sama. Tapi, ketika ayah saya ditugaskan di garda depan membuat ia secara tak sengaja harus kontak langsung dengan mereka yang sudah terkontamisasi Virus COVID-19. Hal itu membuat kami mau tak mau harus menjaga jarak dari-nya (katanya; Ia bisa saja sewaktu-waktu dinyatakan positif). Setelah terjadi perdebatan dan negosiasi yang panjang, semua berakhir dengan kita harus tinggal di atap yang berbeda. Kadang ingin sekali bercengkerama walau hanya lewat smartphone, tapi sangat sulit. Mau menghubungi duluan, tapi takut mengganggu waktu istirahatnya selepas jaga selama kurang lebih 7-8 jam dengan pakaian yang sangat panas. Pernah sekali saya bertanya: Bagaimana perasaannya menggunakan pakaian seperti pakaian astronot, menahan lapar dan haus selama 7-8 jam dan bahkan menggunakan popok untuk buang air? Jawabannya adalah, “merasa dirinya keren.” Ketika itu saya hanya tertawa, rasanya seperti kita sedang mengobrol secara tatap muka saling melihat ekspresi satu sama lain. Tapi nyatanya, tidak!

Setiap kali saya membuka pemberitahuan dari ayah saya, saya selalu berdoa kalau itu bukan kabar yang buruk. Rasa takut memang selalu ada, egois juga sudah pasti. Sering kali saya berpikir kenapa harus ayah saya yang berjuang untuk orang lain sedangkan mereka tidak pernah memikirkan diri mereka sendiri. Sempat beberapa kali saya protes, tapi ayah saya hanya berkata “kerjakan apa yang menjadi tanggung jawab-mu, jangan memikirkan hal lain dan Papa akan menyelesaikan tugas dan tanggung jawab Papa disini sebaik mungkin.”
Ketika sudah diakhiri dengan kalimat itu, saya hanya bisa berdoa dan diam serta berpikir, kapan semua ini akan berakhir dengan adil?.”

*****

Mungkin sebagian orang sangat menikmati kebersamaan bersama keluarga dengan adanya Virus COVID-19 yang mengharuskan segala kegiatan dilakukan dari rumah. Tapi, akhirnya keadaan ini disalahgunakan dengan liburan keluarga, kumpul bersama teman tongkrongan dan hal lainnya yang memicu keramaian, tentu saja kegiatan-kegiatan tersebut secara tidak langsung meningkatkan angka pasien COVID-19 di Indonesia.

Di sisi lain kalian mengeluh karena tidak kunjung selesai pandemi ini, sementara kalian melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan karna melanggar protokol kesehatan yang mana kita semua tahu, hal-hal tidak penting itu sudah diperingatkan oleh pemerintah. Saya yakin masih banyak orang yang berpikiran bahwa Virus ini tidak nyata, Virus ini hanya konspirasi dan hal biasa. Bahkan ada orang-orang yang berpikiran bahwa tenaga kesehatan sangat diuntungkan dengan adanya Pandemi ini.

Nyatanya, tidak ada yang diuntungkan dari pandemi ini dan tidak ada yang ingin pandemi ini terjadi dan terus berlangsung. Pikirlah, mungkin 75 tahun yang lalu musuh kita adalah tentara yang masih bisa dilihat, diserang dan tau kapan mereka akan menyerang. Tapi saat ini, musuh kita adalah sesuatu yang tidak terlihat, yang bisa menyerang sistem kekebalan tubuh kita kapan saja dan di mana saja, serta dengan keadaan apa saja.

Kemarin kita baru saja memperingati Hari Pahlawan, saat ini mari kita hargai mereka yang berjuang di garda terdepan, harus meninggalkan keluarganya dan merelakan dirinya sewaktu-waktu bisa diserang Virus COVID-19 kapan saja. Penulis harap setelah membaca tulisan ini kalian bisa lebih membuka wawasan kalian tentang seberapa penting arti keluarga, seberapa penting juga kesehatan kita dan bagaimana cara kita menghargai para pahlawan kita saat ini.

 

Selamat Hari Ayah, Selamat Hari Kesehatan Nasional

Jangan lupa untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dan Salam Sehat!


Penulis : Tessalonika Watung


0 komentar:

Posting Komentar