Inovasi Dulu, Kini, dan Nanti
Catatan
tentang “Rumah Kita”
Lahirnya Inovasi
Status Pers Kampus
Berawal
dari niat lima orang mahasiswa yang tergabung dalam “Kelompok Study Mesikola”
untuk memiliki media kampus yang menjadi wadah pengembangan nalar. Setelah
melewati berbagai proses yang tak terbilang mudah, lahirlah Inovasi. Nama ini
dicetuskan oleh Peter Tappi, bersama dengan empat orang temannya Harry
Marentek, Ronny Inkiriwang, Kardin Tiah, dan Selvy Sambuaga dibantu oleh Drs.
Ishak Pulukadang, kala itu menjabat sebagai PR III.
27
Februari 1985, menjadi hari bersejarah bagi kaum pers mahasiswa di Universitas
Sitou Timou-Timou Tou. Kelahiran Inovasi membawa harapan baru, meski Inovasi
bukanlah Pers pertama yang lahir di Unsrat, sebelumnya pernah lahir Dedikasi, Buletin Unsrat, hingga Palakat.
Namun umur ketiganya tak berlangsung
lama, hanya sekejap lalu mati suri
(belakangan, Palakat mulai diterbitkan lagi oleh pihak rektorat) Status Inovasi
kala itu masihlah Pers Kampus, yakni pers yang dikelola mahasiswa dan dipimpin
oleh dosen atau petinggi di Universitas Sam Ratulangi. Dilihat dari content
tulisannya, Inovasi masihlah terlihat sebagai humas kampus, banyak menulis
tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan intern
kampus.
Seiring
dalam perkembangannya, sekitar tahun 90’an inovasi berubah status menjadi Pers
Mahasiswa, yaitu Pers yang dikelola langsung oleh mahasiswa. Perubahan ini
berimbas pada struktur kepengurusan dari pimpinan umum hingga staff redaksi yang
dijabat langsung oleh mahasiswa. Konten tulisan pun mengalami perubahan,
Inovasi tidak hanya terbatas pada berita seputaran kampus, namun mulai
mengangkat isu-isu krusial yang terjadi di luar kampus.
Dilihat
dari kualitas penulisan, Inovasi mengalami peningkatan hingga masa puncaknya
tahun 1998. Liputan mendalam tentang reklamasi pantai pada majalah Inovasi
no.82 thn XII/1997-1998, merupakan salah satu bukti nyata. Beberapa angle yang
diambil untuk memperdalam laporan, serta gaya penulisan yang memikat,
informatif dan sistematis menjadi ciri majalah Inovasi era reformasi.
Peningkatan kualitas tulisan
menciptakan iklim baru dalam kerangka berpikir awak Inovasi, Idealisme. Situasi
politik Indonesia masa itu, yakni masa peralihan orde baru ke reformasi dapat
dikatakan sebagai faktor utama terciptanya budaya berani dan kritis di kalangan
mahasiswa. Kondisi demikian membuat Inovasi turut merasakan pembredelan, kata yang tak lagi asing
ditelinga pers era itu. Pembredelan yang dilakukan pihak kampus, dilakukan
dengan cara menyetop aliran dana untuk penerbitan. Pemberedelan ini, tak
menghentikan idealisme yang sedang
membumbung dikalangan pejuang pena,
begitulah mereka menyebutnya. Hambatan yang dialami dari segi pendanaan,
menciptakan inovasi baru dalam melakukan usaha-usaha mendapatkan dana untuk
terbit. Meski bukan lembaga yang beorientasi pada profit, namun Inovasi turut
mengadopsi sistem kerja yang diberlakukan pada media mainstream misalnya kerja
sama dengan pihak pengiklan di luar kampus, untuk membiayai penerbitan.
Inovasi kini
Perjuangan yang belum usai
Gelak tawa dan suara perbincangan
yang melibatkan beberapa orang terdengar dari salah satu ruangan yang ada di
lantai tiga, gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa. Ditengah ruangan tampak kue
Blackforest terlihat manis dimeja, diatasnya tertulis angka 28 disertai lilin.
Merekalah penghuni rumah Inovasi.
Hari
itu, 27 Februari 2013 Inovasi merayakan
ulang tahunnya yang ke dua puluh delapan. Tak ada yang spesial di perayaan itu,
kecuali saat make a wish, terucap
kata Jayalah Inovasi keluar dari bibir mereka. Usia yang tak lagi
terbilang muda, lebih dari tiga windu
telah dijalani. Berbagai peristiwa heroik, senang, menyedihkan telah dialami
para penghuninya dari setiap masa. Kejayaan dan kenangan yang terjadi di masa
silam telah melah melebur menjadi seonggok sejarah yang tertuang dalam tulisan
dan memori penghuni Inovasi masa itu.
Setelah
mengalami mati suri selama beberapa tahun, 2010 Inovasi mulai dibangkitkan
kembali oleh mahasiswa FISIP, Themmy Doaly bersama rekan-rekannya. Mereka
melakukan pengkaderan, pelatihan jurnalis, hingga menerbitkan karya
jurnalistik. Berbagai tantangan yang dihadapi, tak menyurutkan langkah mereka.
Tiga
tahun setelah kembali mulai bergeliat, Inovasi pelan-pelan mulai melangkah.
Dengan bermodalkan tekad dan keberanian, sepuluh orang yang menjadi pengurus
organisasi saat ini mencoba maju. “Setiap orang memiliki masanya, dan setiap
masa memiliki orangnya” ungkapan ini mewakili apa yang terjadi di Inovasi. Hal
ini menanggapi berbagai komentar miring yang mempertanyakan eksistensi dan kualitas
organisasi, yang terdengar dari para mantan penghuni Inovasi. Jika jaman pasca
orde baru yang dihadapi ialah pemberedelan,
berbeda dengan saat ini. Tak ada lagi pemberedelan, namun hilangnya
minat mahasiswa dalam berorganisasi, hampir punahnya budaya menulis dan membaca
di kalangan mahasiswa, hingga sulitnya mendapatkan pendanaan menjadi faktor
utama kompleksitas masalah jaman ini.
Dua
masalah diatas menjadi masalah utama ketika melakuan perekrutan pengkaderan.
Ini tidak hanya menjadi masalah Inovasi, berbagai organisasi yang masih
bertahan hingga sekarang pun mengalami kendala yang sama. Mahasiswa disibukkan
dengan arus modernisasi yang menggempur dunia kampus, iklim di kampus yang
menargetkan mahasiswanya segera meraih gelar cumlaude hingga kurang menariknya organisasi berbau ilmiah di mata
insan intelektual dewasa ini. Sulitnya pendanaan turut menyempurnakan problematika yang dihadapi.
Namun
berbagai hambatan diatas tak mampu menyurutkan ide dan kreatifitas orang-orang
didalamnya. Seiring berjalannya waktu, orang-orang didalamnya yang direkatkan
rasa kekeluargaan akan mampu membuktikan Inovasi juga mampu mengepakkan sayap
untuk nantinya terbang lagi.
Inovasi
adalah organisasi yang menjadi wadah belajar penghuni didalamnya. Namun Inovasi
yang juga disebut rumah, menciptakan
rasa kebersamaan, rasa berbagi dan dibagi, saling melengkapi dalam kekurangan,
memberi makna sebuah keluarga, mengikatkan tali kekeluargaan yang tak mudah
dilepas. Sehingga pantaslah disebut sebagai “Rumah Kita”.
Inovasi ke depan
Harapan yang belum terwujud
Apa yang dilakukan saat ini, tentu
ke depan akan melebur bersama sejarah yang lain dan direkam dalam tulisan yang
nantinya hidup bersama memori. Banyak harapan yang tersemat dari
pembicaraan-pembicaraan kecil dalam diskusi keluarga. Tentu tak semuanya dapat
tercapai. Dalam hidup ini ada yang namanya Das
sein dan Das Solen, harapan dan kenyataan. Kita hanya mampu berusaha hingga
titik maksimal, selebihnya teruslah berharap dan berbuat hingga mampu membawa
dunia ide ke dalam dunia realitas.
Harapan yang ditanggungkan pada
pundak kita adalah mampu menjaga ikatan tali yang telah terjalin. Tak ada yang
namanya kehilangan, orang dari setiap masanya hanya harus pergi melangkah
kedalam perjuangan kehidupan yang lain. Interaksi yang terekat takkan mampu
dihapus waktu. (Deysi)
0 komentar:
Posting Komentar