Rabu, 04 Juni 2014

Inovasi Dulu, Kini, dan Nanti Catatan tentang “Rumah Kita”



Inovasi Dulu, Kini, dan Nanti
Catatan tentang “Rumah Kita”

Lahirnya Inovasi
Status Pers Kampus
Berawal dari niat lima orang mahasiswa yang tergabung dalam “Kelompok Study Mesikola” untuk memiliki media kampus yang menjadi wadah pengembangan nalar. Setelah melewati berbagai proses yang tak terbilang mudah, lahirlah Inovasi. Nama ini dicetuskan oleh Peter Tappi, bersama dengan empat orang temannya Harry Marentek, Ronny Inkiriwang, Kardin Tiah, dan Selvy Sambuaga dibantu oleh Drs. Ishak Pulukadang, kala itu menjabat sebagai PR III.
27 Februari 1985, menjadi hari bersejarah bagi kaum pers mahasiswa di Universitas Sitou Timou-Timou Tou. Kelahiran Inovasi membawa harapan baru, meski Inovasi bukanlah Pers pertama yang lahir di Unsrat, sebelumnya pernah lahir Dedikasi, Buletin Unsrat, hingga Palakat.  Namun umur ketiganya tak berlangsung lama, hanya sekejap lalu mati suri (belakangan, Palakat mulai diterbitkan lagi oleh pihak rektorat) Status Inovasi kala itu masihlah Pers Kampus, yakni pers yang dikelola mahasiswa dan dipimpin oleh dosen atau petinggi di Universitas Sam Ratulangi. Dilihat dari content tulisannya, Inovasi masihlah terlihat sebagai humas kampus, banyak menulis tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan intern kampus.
Seiring dalam perkembangannya, sekitar tahun 90’an inovasi berubah status menjadi Pers Mahasiswa, yaitu Pers yang dikelola langsung oleh mahasiswa. Perubahan ini berimbas pada struktur kepengurusan dari pimpinan umum hingga staff redaksi yang dijabat langsung oleh mahasiswa. Konten tulisan pun mengalami perubahan, Inovasi tidak hanya terbatas pada berita seputaran kampus, namun mulai mengangkat isu-isu krusial yang terjadi di luar kampus.
Dilihat dari kualitas penulisan, Inovasi mengalami peningkatan hingga masa puncaknya tahun 1998. Liputan mendalam tentang reklamasi pantai pada majalah Inovasi no.82 thn XII/1997-1998, merupakan salah satu bukti nyata. Beberapa angle yang diambil untuk memperdalam laporan, serta gaya penulisan yang memikat, informatif dan sistematis menjadi ciri majalah Inovasi era reformasi.            
            Peningkatan kualitas tulisan menciptakan iklim baru dalam kerangka berpikir awak Inovasi, Idealisme. Situasi politik Indonesia masa itu, yakni masa peralihan orde baru ke reformasi dapat dikatakan sebagai faktor utama terciptanya budaya berani dan kritis di kalangan mahasiswa. Kondisi demikian membuat Inovasi turut merasakan pembredelan, kata yang tak lagi asing ditelinga pers era itu. Pembredelan yang dilakukan pihak kampus, dilakukan dengan cara menyetop aliran dana untuk penerbitan. Pemberedelan ini, tak menghentikan  idealisme yang sedang membumbung dikalangan pejuang pena, begitulah mereka menyebutnya. Hambatan yang dialami dari segi pendanaan, menciptakan inovasi baru dalam melakukan usaha-usaha mendapatkan dana untuk terbit. Meski bukan lembaga yang beorientasi pada profit, namun Inovasi turut mengadopsi sistem kerja yang diberlakukan pada media mainstream misalnya kerja sama dengan pihak pengiklan di luar kampus, untuk membiayai penerbitan.
Inovasi kini
Perjuangan yang belum usai
            Gelak tawa dan suara perbincangan yang melibatkan beberapa orang terdengar dari salah satu ruangan yang ada di lantai tiga, gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa. Ditengah ruangan tampak kue Blackforest terlihat manis dimeja, diatasnya tertulis angka 28 disertai lilin. Merekalah penghuni rumah Inovasi.
Hari itu,  27 Februari 2013 Inovasi merayakan ulang tahunnya yang ke dua puluh delapan. Tak ada yang spesial di perayaan itu, kecuali saat make a wish, terucap kata Jayalah Inovasi keluar dari bibir mereka. Usia yang tak lagi terbilang  muda, lebih dari tiga windu telah dijalani. Berbagai peristiwa heroik, senang, menyedihkan telah dialami para penghuninya dari setiap masa. Kejayaan dan kenangan yang terjadi di masa silam telah melah melebur menjadi seonggok sejarah yang tertuang dalam tulisan dan memori penghuni Inovasi masa itu.
Setelah mengalami mati suri selama beberapa tahun, 2010 Inovasi mulai dibangkitkan kembali oleh mahasiswa FISIP, Themmy Doaly bersama rekan-rekannya. Mereka melakukan pengkaderan, pelatihan jurnalis, hingga menerbitkan karya jurnalistik. Berbagai tantangan yang dihadapi, tak menyurutkan langkah mereka.
Tiga tahun setelah kembali mulai bergeliat, Inovasi pelan-pelan mulai melangkah. Dengan bermodalkan tekad dan keberanian, sepuluh orang yang menjadi pengurus organisasi saat ini mencoba maju. “Setiap orang memiliki masanya, dan setiap masa memiliki orangnya” ungkapan ini mewakili apa yang terjadi di Inovasi. Hal ini menanggapi berbagai komentar miring yang mempertanyakan eksistensi dan kualitas organisasi, yang terdengar dari para mantan penghuni Inovasi. Jika jaman pasca orde baru yang dihadapi ialah pemberedelan,  berbeda dengan saat ini. Tak ada lagi pemberedelan, namun hilangnya minat mahasiswa dalam berorganisasi, hampir punahnya budaya menulis dan membaca di kalangan mahasiswa, hingga sulitnya mendapatkan pendanaan menjadi faktor utama kompleksitas masalah jaman ini.
Dua masalah diatas menjadi masalah utama ketika melakuan perekrutan pengkaderan. Ini tidak hanya menjadi masalah Inovasi, berbagai organisasi yang masih bertahan hingga sekarang pun mengalami kendala yang sama. Mahasiswa disibukkan dengan arus modernisasi yang menggempur dunia kampus, iklim di kampus yang menargetkan mahasiswanya segera meraih gelar cumlaude hingga kurang menariknya organisasi berbau ilmiah di mata insan intelektual dewasa ini. Sulitnya pendanaan turut  menyempurnakan problematika yang dihadapi.
Namun berbagai hambatan diatas tak mampu menyurutkan ide dan kreatifitas orang-orang didalamnya. Seiring berjalannya waktu, orang-orang didalamnya yang direkatkan rasa kekeluargaan akan mampu membuktikan Inovasi juga mampu mengepakkan sayap untuk nantinya terbang lagi.
Inovasi adalah organisasi yang menjadi wadah belajar penghuni didalamnya. Namun Inovasi yang juga disebut rumah, menciptakan rasa kebersamaan, rasa berbagi dan dibagi, saling melengkapi dalam kekurangan, memberi makna sebuah keluarga, mengikatkan tali kekeluargaan yang tak mudah dilepas. Sehingga pantaslah disebut sebagai “Rumah Kita”.
Inovasi ke depan
Harapan yang belum terwujud
            Apa yang dilakukan saat ini, tentu ke depan akan melebur bersama sejarah yang lain dan direkam dalam tulisan yang nantinya hidup bersama memori. Banyak harapan yang tersemat dari pembicaraan-pembicaraan kecil dalam diskusi keluarga. Tentu tak semuanya dapat tercapai. Dalam hidup ini ada yang namanya Das sein dan Das Solen, harapan dan kenyataan. Kita hanya mampu berusaha hingga titik maksimal, selebihnya teruslah berharap dan berbuat hingga mampu membawa dunia ide ke dalam dunia realitas.
            Harapan yang ditanggungkan pada pundak kita adalah mampu menjaga ikatan tali yang telah terjalin. Tak ada yang namanya kehilangan, orang dari setiap masanya hanya harus pergi melangkah kedalam perjuangan kehidupan yang lain. Interaksi yang terekat takkan mampu dihapus waktu. (Deysi)






0 komentar:

Posting Komentar