Rabu, 04 Juni 2014

Perempuan dan Kesetaraan



Perempuan dan Kesetaraan
Oleh : Deysi Kanal
www.sinarharapan.com


Hari kartini barulah dirayakan beberapa hari lalu, dan kupikir belum terlambat untuk menuliskannya. Ini hanyalah tulisan yang berisi pandangan subjektif tanpa bermaksud mengkerdilkan peranan lelaki atau menjudge kaum tertentu. Bukan seperti itu, ini hanyalah tulisan penanda ucapan terima kasih buat wanita-wanita hebat dalam hidupku. Aku tak mengucap selamat hari Kartini, karena aku tak mengenal sosoknya. Aku hanya ingin berucap Selamat Hari Perempuan. Untuk setiap perempuan hebat dalam hidupku, yang bersinggungan denganku, yang pernah membagi senyum atau yang saling menatap mata, kuucapkan selamat berbahagia untuk takdir kita yang terlahir sebagai perempuan.
            Banyak yang menganggap terlahir sebagai perempuan itu musibah, suatu ketidakberuntungan yang patut disesali karena berbagai keterbatasan yang mengungkungnya. Sejak manusia menempati bumi, posisi wanita selalu menempati kelas kedua dalam tatanan sistem di masyarakat baik politik, sosial dan budaya, berbagai pelecehan dan kekerasan dialami karena status ‘keperempuanan’ yang disandangnya. Hal ini turut mendorong munculnya pergerakan kaum feminis yang mengusung persamaan hak. Tokoh-tokoh yang memperjuangkan hak kaum perempuan di berbagai Negara pun muncul. Dan Kartini salah satu contoh di Indonesia.
            Mengkaji masalah perempuan, sungguh begitu kompleks. Mulai dari peranan media yang membentuk gambaran perempuan sebagai objek dalam bisnis iklannya, hingga pandangan masyarakat umum yang terbentuk dari budaya masa lampau yang telah terbentuk berabad-abad tentang sosok perempuan, sistem nilai di masyarakat yang selalu tidak berpihak pada kaum perempuan menjadikan posisi tawar sebagai perempuan sangat rendah untuk muncul dalam pembicaraan berkaitan social, politik, budaya suatu bangsa. Ah sudahlah, kita tidak usah terjebak dengan pembahasan itu, terlalu banyak juga terlalu luas.
            Terlahir sebagai perempuan itu keberuntungan. Banyak hal yang kita miliki namun tidak dimiliki kaum pria. Sama halnya dengan mereka. Kita tidak usah menepis tentang perbedaan. Sejak awal manusia diciptakan, perbedaaan memang sudah ada. Ada laki-laki dan ada perempuan. Hal ini benar adanya. Aku masih percaya tentang adanya pencipta yang menciptakan dunia ini dan isinya. Namun, mari bertanya mengapa harus ada lelaki dan perempuan? Jika akhirnya harus sama baik peranan dan fungsi, hingga secara fisik. Sama itu tidak menarik kawan, semua terlihat sama, tak ada yang berbeda.
Kita sebagai perempuan memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki kaum pria. Berbanggalah dengan itu. Kita diberi kekuatan menjalani hidup selama sembilan bulan dengan membawa ‘janin’ dalam perut sambil mengerjakan aktivitas yang lain, kita mampu menyusui hingga merawat bayi kita, kita mampu menjalani lebih dari tiga profesi sekaligus tukang masak, menjadi guru les, konsultan pribadi, dan bekerja. Jika kita mempelajari tentang seni menjadi wanita, kita akan menemukan keindahan didalamnya. Bagaimana cara wanita bertutur, bagaimana kita memandang hidup, bagaimana kita memandang diri kita sendiri, dan bagaimana kita memandang pria tanpa terkontaminasi pandangan-pandangan tentang pria. Kita tidak perlu memikirkan bagaimana caranya memperbesar otot, namun mulai melihat bahwa lekukan di tubuh kita itu lebih indah. Kita tidak perlu memaksakan kehendak dengan mata yang melotot, karena senyuman kita cukup untuk membuat mereka bimbang. Kita sesama wanita bisa saling menguatkan, berbagi, dalam hubungan pertemanan yang tak dimengerti oleh pria, Kita memiliki hak yang sama dengan lelaki. Namun bukan berarti jika masih ada pilihan, lalu kita memilih mengerjakan semua hal yang dikerjakan lelaki, agar terlihat hebat, agar terlihat setara. Siapa yang bilang melahirkan itu tidak penting? Menyusui dan membesarkan anak terlihat memalukankah? Bersikap lembut dan menawan terlalu burukkah? Menjadi setara, bukanlah persoalan kita harus menjadi sama dengan pria dalam berpakaian, berperilaku, atau dalam mengerjakan fungsi-fungsi sosial di masyarakat. Kita tetaplah sebagai perempuan yang lemah-lembut, anggun, memberi pengaruh dalam kehidupan, menjalankan fungsi-fungsi social kita, itu HEBAT dan itu PENTING. Jika kita masih berpatokan dan mengadopsi cara-cara pria, berarti kita belum mengakui adanya kesetaraan antara pria dan wanita. Setara berarti pria memaknai hidup dengan caranya, dan kita wanita memaknai hidup dengan cara kita, dan keduanya SAMA, SETARA, dan PENTING.

0 komentar:

Posting Komentar