Perempuan dan
Kesetaraan
Oleh : Deysi Kanal
Oleh : Deysi Kanal
![]() |
| www.sinarharapan.com |
Hari kartini barulah dirayakan beberapa
hari lalu, dan kupikir belum terlambat untuk menuliskannya. Ini hanyalah
tulisan yang berisi pandangan subjektif tanpa bermaksud mengkerdilkan peranan
lelaki atau menjudge kaum tertentu.
Bukan seperti itu, ini hanyalah tulisan penanda ucapan terima kasih buat
wanita-wanita hebat dalam hidupku. Aku tak mengucap selamat hari Kartini,
karena aku tak mengenal sosoknya. Aku hanya ingin berucap Selamat Hari
Perempuan. Untuk setiap perempuan hebat dalam hidupku, yang bersinggungan
denganku, yang pernah membagi senyum atau yang saling menatap mata, kuucapkan
selamat berbahagia untuk takdir kita yang terlahir sebagai perempuan.
Banyak yang menganggap terlahir
sebagai perempuan itu musibah, suatu ketidakberuntungan yang patut disesali
karena berbagai keterbatasan yang mengungkungnya. Sejak manusia menempati bumi,
posisi wanita selalu menempati kelas kedua dalam tatanan sistem di masyarakat
baik politik, sosial dan budaya, berbagai pelecehan dan kekerasan dialami
karena status ‘keperempuanan’ yang disandangnya. Hal ini turut mendorong
munculnya pergerakan kaum feminis yang mengusung persamaan hak. Tokoh-tokoh
yang memperjuangkan hak kaum perempuan di berbagai Negara pun muncul. Dan Kartini
salah satu contoh di Indonesia.
Mengkaji masalah perempuan, sungguh
begitu kompleks. Mulai dari peranan media yang membentuk gambaran perempuan
sebagai objek dalam bisnis iklannya, hingga pandangan masyarakat umum yang
terbentuk dari budaya masa lampau yang telah terbentuk berabad-abad tentang
sosok perempuan, sistem nilai di masyarakat yang selalu tidak berpihak pada
kaum perempuan menjadikan posisi tawar sebagai perempuan sangat rendah untuk
muncul dalam pembicaraan berkaitan social, politik, budaya suatu bangsa. Ah
sudahlah, kita tidak usah terjebak dengan pembahasan itu, terlalu banyak juga
terlalu luas.
Terlahir sebagai perempuan itu
keberuntungan. Banyak hal yang kita miliki namun tidak dimiliki kaum pria. Sama
halnya dengan mereka. Kita tidak usah menepis tentang perbedaan. Sejak awal
manusia diciptakan, perbedaaan memang sudah ada. Ada laki-laki dan ada
perempuan. Hal ini benar adanya. Aku masih percaya tentang adanya pencipta yang
menciptakan dunia ini dan isinya. Namun, mari bertanya mengapa harus ada lelaki
dan perempuan? Jika akhirnya harus sama baik peranan dan fungsi, hingga secara
fisik. Sama itu tidak menarik kawan, semua terlihat sama, tak ada yang berbeda.
Kita sebagai perempuan memiliki keunikan
tersendiri yang tidak dimiliki kaum pria. Berbanggalah dengan itu. Kita diberi
kekuatan menjalani hidup selama sembilan bulan dengan membawa ‘janin’ dalam
perut sambil mengerjakan aktivitas yang lain, kita mampu menyusui hingga
merawat bayi kita, kita mampu menjalani lebih dari tiga profesi sekaligus
tukang masak, menjadi guru les, konsultan pribadi, dan bekerja. Jika kita
mempelajari tentang seni menjadi wanita, kita akan menemukan keindahan
didalamnya. Bagaimana cara wanita bertutur, bagaimana kita memandang hidup,
bagaimana kita memandang diri kita sendiri, dan bagaimana kita memandang pria
tanpa terkontaminasi pandangan-pandangan tentang pria. Kita tidak perlu
memikirkan bagaimana caranya memperbesar otot, namun mulai melihat bahwa
lekukan di tubuh kita itu lebih indah. Kita tidak perlu memaksakan kehendak
dengan mata yang melotot, karena senyuman kita cukup untuk membuat mereka
bimbang. Kita sesama wanita bisa saling menguatkan, berbagi, dalam hubungan
pertemanan yang tak dimengerti oleh pria, Kita memiliki hak yang sama dengan
lelaki. Namun bukan berarti jika masih ada pilihan, lalu kita memilih
mengerjakan semua hal yang dikerjakan lelaki, agar terlihat hebat, agar
terlihat setara. Siapa yang bilang melahirkan itu tidak penting? Menyusui dan
membesarkan anak terlihat memalukankah? Bersikap lembut dan menawan terlalu
burukkah? Menjadi setara, bukanlah persoalan kita harus menjadi sama dengan pria
dalam berpakaian, berperilaku, atau dalam mengerjakan fungsi-fungsi sosial di
masyarakat. Kita tetaplah sebagai perempuan yang lemah-lembut, anggun, memberi
pengaruh dalam kehidupan, menjalankan fungsi-fungsi social kita, itu HEBAT dan
itu PENTING. Jika kita masih berpatokan dan mengadopsi cara-cara pria, berarti
kita belum mengakui adanya kesetaraan antara pria dan wanita. Setara berarti
pria memaknai hidup dengan caranya, dan kita wanita memaknai hidup dengan cara
kita, dan keduanya SAMA, SETARA, dan PENTING.

0 komentar:
Posting Komentar