In Memoriam Muhammad
Aryono Linggotu
Manado, Agustus 1986 –
Manado, 25 November 2012
![]() |
| lampungku.com |
Nono
S. A. Sumampouw
Alumnus Inovasi
Saya benar-benar merindukan waktu minum
kopi dan bercengkrama dengan Rio. Entah itu di tempat favorit kami, kantin
FISIP Unsrat, Rumah Kopi Boulevard atau di rumahnya, yang tentu kami akan
ditemani istrinya yang pengertian, Annisa dan anaknya yang lucu, Putra. Benar
yang dikatakan orang bijak, kita akan merasa seseorang berharga justru ketika
dia tidak ada. Sesuatu yang kami, sahabat-sahabatnya rasakan ketika mendengar
kepergiannya yang mendadak dan tragis di hari minggu pagi, 25 November 2012
lalu.
Diantara kami, para sahabat yang sering
dipanggil “Komunitas Ngopi”, Rio mungkin yang mungkin paling pendiam. Tentu
untuk ukuran kami yang cerewetnya minta ampun. Tapi dia juga punya senyum
paling manis dan tawa paling intimidatif menurut saya. Kecerdasannya ketika
sudah mulai larut dalam diskusi, sangat terus terang dan menohok.
Diantara kami, mungkin dialah orang yang paling sedikit terambil gambarnya, justru karena dialah sang juru foto itu sendiri. Dia sangat senang membawa kamera digital lusuhnya, handy talkie pribadinya, juga handphone Samsung butut yang menurut dia sangat fungsional serta mengeluh ketika mulai diharuskan mengguna-kan Black Berry demi tuntutan kerjanya.
Kami melalui hari-hari bersama di berbagai tempat minum kopi, diskusi, seminar dan seolah-olah sudah tidak mengenal waktu, dari pagi hingga pagi hari berikutnya. Rio membantu saya mencari beberapa data untuk penelitian. Menyenangkan mengingat bahwa persahabatan kami tidak terhalang tembok agama, jurusan kuliah atau ideologi tertentu. Seolah-olah kami larut dalam satu gelas kopi. Lucu saja mengingat, bahwa dia lebih sering duduk bercengkrama di Jurusan Antropologi daripada di jurusannya sendiri, Pemerintahan FISIP Unsrat.
Rio, sekalipun sentimentil dan jelas subjektif, menurut saya merupakan wartawan muda paling potensial di kota Manado. Mungkin ini dipengaruhi latar belakangnya sebagai aktivis PMII Manado. Cara dia mengambil sudut berita dan menginvestigasi membuat kami tidak percaya ada wartawan muda seperti dia di lembaga pers kota Manado yang kebanyakan menurut kami, murahan. Dia penuh semangat ketika melakukan investigasi terutama untuk pemberitaan yang ia anggap penting dan menyenangkan. Kadang-kadang, menurut Rio, tinggal tembok nama baik persona atau institusilah yang membuat dia kadung memuat sebuah berita. Tentu karena ada kepentingan yang lebih besar dari sekedar berita di surat kabar harian.
Rio memulai kerier sebagai reporter pada tahun 2007 di harian Posko Manado, grup Jawa Pos. Selanjutnya, ia mulai bekerja sebagai reporter di harian Metro, grup Komentar. Pada masa-masa awal kerjanya, kami ketus dan selalu bilang, mo dapa apa ngana disitu, kaluar jo!!!. Tapi, lagi-lagi, diantara kami dialah orang yang paling sabar. Ia menjalani karier reporter hingga kemudian, dia mulai berada pada posisi nyaman. Bahkan, ia kemudian mulai menambah teman-teman diskusi kami di lingkaran aktivis kampus dengan sahabat dari anggota kepolisian Polres Manado.
Kami berbagi mimpi, kisah dan data bersama. Antara pertengahan 2011-2012, kami sering menelpon untuk berdiskusi soal skripsinya yang akan harus segera selesai dan setelah itu, ia akan segera dipindahkan ke Biro Bolaang-Mongondow. Ketika saya baru sampai di Manado bulan Juni 2012 untuk melakukan penelitian, Rio adalah sahabat pertama yang datang ke rumah saya di malam hari untuk sekedar minum kopi dan berbagi kisah, terutama pengalaman ketika ia SMP. Cerita yang juga menjadi salah satu kisah dalam Tesis saya. Rio meminjam buku saya untuk Skripsi. Begitu pula saya yang sering meminta data, baik berupa foto atau tabel dan grafik. Rio benar-benar murah hati. Rio berkeinginan untuk masuk di harian nasional nomor satu Indonesia, Kompas. Dia memang masuk, tapi tidak sebagai reporter, melainkan sebagai berita di halaman pertama hari Senin tanggal 26 November 2012.
Menyenangkan mengingat persahabatan kami. Tawa bersama yang renyah di malam-malam ketika kami minum kopi dengan Rio di rumahnya. Itu membuat kami menjadi dekat dengan ibunya, ayahnya, istrinya Annisa dan Putra anaknya. Atau mengingat kami minum kopi bersama di Pakatuan, Rumah Kopi Boulevard, di rumah Saya ketika bakar Ubi, di rumah Adit atau dimana saja ketika kami bersama. Kami pernah punya mimpi, untuk tinggal di satu komplek, agar bisa saling bergiliran untuk minum kopi di rumah masing-masing. Kami juga punya mimpi kecil, ketika Rio sudah menempati rumah barunya di Lapangan, kami akan adakan pesta bakar Ubi dan minum kopi di halaman rumahnya, sambil main gitar dan tertawa lepas. Sebaliknya, sembilu hati tak terkatakan ketika mendengar bagaimana ia terenggut. Hari-hari inipun, masih tak bisa terbayangkan bagaimana suasana minum kopi di kantin FISIP tanpa Rio.
Saya teringat adegan terakhir dalam film Tom Cruise, The Last Samurai. Setelah kematian Katsumoto yang tragis dalam perang, Kapten Algren membawa Katana –pedang- Katsumoto pada Kaisar Teno Meiji sebagai tanda bahwa pedang tersebut digunakan untuk melayani kaisar. Dalam percakapannya, Kaisar memohon kepada Kapten Algren untuk menceritakan bagaimana kematian Katsumoto, gurunya yang ia sayangi itu. Dengan terbata-bata karena lemah akibat luka perang, Kapten Algren menjawab permohonan Kaisar: saya akan menceritakan kepada anda bukan bagaimana ia mati, tetapi bagaimana ia hidup. Itulah yang ingin saya kenang dari Rio.

0 komentar:
Posting Komentar