Minggu, 13 Maret 2016

Memotret Yaki di Cagar Alam Batu Putih

ibu dan anak yaki
foto : Alan Tamengge

Anda yang tinggal di Sulawesi utara mungkin familiar dengan  Macaca Nigra/Monyet hitam Sulawesi. Monyet yang akrab disebut ‘yaki’ ini merupakan satwa endemik Khas Sulawesi utara. Yaki kini terancam punah. Sebuah lembaga konservasi dunia, International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) memberikan status critically endangered / kritis, yang berarti sangat terancam kepada hewan  pemakan biji, buah, dan serangga ini1.

Diperkirakan populasi yaki kini yang tersebar di hutan cagar alam Tangkoko, Bitung hanya berkisar 2500 ekor. Penurunan jumlah disebabkan oleh konsumerisme berlebihan warga, pembakaran hutan, dan konversi hutan menjadi  lahan pemukiman dan perkebunan.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk kampanye penyelamatan yaki. Seperti yang dilakukan oleh teman-teman F/21 Manado. Mereka mengadakan hunting foto di Cagar alam batu putih sabtu (12/3). Adapun tema yang diusung adalah wild photography dengan yaki sebagai objek Fotonya. Kali ini kru Inovasi diizinkan untuk ikut serta.

F/21 sendiri merupakan NGO atau organisasi nirlaba yang memberi perhatian terhadap masalah lingkungan konservasi, dan sosial budaya. Anggotanya didominasi oleh fotografer yang mencoba menyampaikan pesan melalui media foto.

Roni Buol, ketua F/21 kepada Inovasi mengungkapkan bahwa kegiatan hunting  foto tersebut merupakan rangkaian kegiatan peringatan World wildlife day yang jatuh pada tanggal 3 maret.

“Dengan adanya kegiatan berburu foto bersama diharapkan agar teman-teman fotografer dapat menjadi agen untuk menyampaikan informasi tentang masalah konservasi, khususnya yaki kepada masyarakat Sulawesi utara”. Tambahnya.

Peserta berangkat dari titik kumpul di Marina plaza tepat pukul 07.00 Wita dan tiba pukul 09.00 Wita di Cagar alam Batu putih. Kegiatan dimulai dengan penyampaian informasi seputar yaki oleh Stephan Lentey, Field Station Manager dari Macaca Nigra Project (MNP). Hal teknis penting yang disampaikan oleh Stephan kepada peserta adalah jarak.

“Jarak aman yang paling dekat adalah 5 meter. Tidak boleh terlalu dekat. Karena kita tidak tahu apa yang ada dipikiran satwa tersebut. Mereka bisa saja menyerang jika merasa terancam. Yaki jantan dewasa memiliki taring  tajam, untuk itu kita perlu hati-hati agar mereka tidak merasa terganggu”. Ujarnya.

Selesai penyampaian, peserta langsung berpencar di kawasan hutan untuk mulai memotret. Kelompok yaki yang dipotret hanya yang berada di wilayah perbatasan. Kami tidak diizinkan untuk masuk hutan lebih kedalam. Walaupun di perbatasan, fotografer kami cukup puas mengambil gambar karena ada cukup banyak yaki yang sedang beraktifitas di wilayah ini. Alan, fotografer Inovasi ikut mengabadikan gambar yaki bersama fotografer lain, sementara anggota kru Inovasi lain berbincang dengan Stephan dari MNP tentang yaki. Dari perbincangan terdapat alasan lain yang mungkin jarang didengar masyarakat tentang pentingnya menjaga yaki.

“Yaki turut menjaga kelestarian hutan dengan membantu proses penanaman / penghijauan hutan. Tanaman hutan bisa terus tumbuh tanpa bantuan manusia untuk menanam, karena bantuan dari yaki dan hewan hutan lainnya. Biji yang dimakan yaki disebarkan di hutan melalui kotorannya dan kemudian tumbuh menjadi pohon. Hal tersebut berlangsung selama ratusan tahun. Jika salah satu dari ekosistem punah, maka akan mengganggu kelangsungan ekosistem lainnya. Jadi kita perlu menjaga kelestarian yaki agar tidak punah”. Demikian pesan konservasi dari Stephan.

Sementara kami berbincang beberapa ekor yaki lewat dengan santai pada jarak yang cukup dekat dengan kami. Menurut Stephan, Yaki di perbatasaan ini cukup terbiasa dengan keberadaan manusia karena interaksi yang cukup sering. Beberapa fotografer di sekitar kami terlihat asik mengabadikan yaki dengan ragam ekspresinya. Yaki yang kebanyakan duduk berkelompok terlihat santai dengan bidikan kamera disekelilingnya.

Beberapa malah tidak menggubris walau difoto bahkan dengan jarak lebih dekat dari 5 meter. Namun ada beberapa yang lebih agresif dengan menunjukan taring karena mulai merasa terancam.

Pukul 13.00 Wita kegiatan mengambil gambarpun berakhir.  Melalui kegiatan ini diharapkan agar  kedepannya teman-teman fotografer bisa menjadi agen untuk menyampaikan informasi tentang masalah konservasi.  Sebab harus kita sadari bahwa masalah konservasi tidak semestinya hanya diurus oleh teman-teman pekerja konservasi, tapi juga perlu dukungan seluruh masyarakat. Kerja sekeras apapun jika masyarakat tidak membantu dengan menyadari pentingnya menjaga, akan menjadi sia-sia.

Mari bersama lestarikan!. (Ino)



0 komentar:

Posting Komentar