ibu dan anak yaki
foto : Alan Tamengge
Diperkirakan populasi
yaki kini yang tersebar di hutan cagar alam Tangkoko, Bitung hanya berkisar
2500 ekor. Penurunan jumlah disebabkan oleh konsumerisme berlebihan warga,
pembakaran hutan, dan konversi hutan menjadi lahan pemukiman dan perkebunan.
Ada banyak cara yang bisa
dilakukan untuk kampanye penyelamatan yaki. Seperti yang dilakukan oleh
teman-teman F/21 Manado. Mereka mengadakan hunting
foto di Cagar alam batu putih sabtu (12/3). Adapun tema yang diusung adalah wild photography dengan yaki sebagai
objek Fotonya. Kali ini kru Inovasi diizinkan untuk ikut serta.
F/21 sendiri merupakan NGO
atau organisasi nirlaba yang memberi perhatian terhadap masalah lingkungan
konservasi, dan sosial budaya. Anggotanya didominasi oleh fotografer yang mencoba
menyampaikan pesan melalui media foto.
Roni Buol, ketua F/21
kepada Inovasi mengungkapkan bahwa kegiatan hunting
foto tersebut merupakan rangkaian
kegiatan peringatan World wildlife day yang jatuh pada tanggal 3 maret.
“Dengan adanya kegiatan
berburu foto bersama diharapkan agar teman-teman fotografer dapat menjadi agen
untuk menyampaikan informasi tentang masalah konservasi, khususnya yaki kepada
masyarakat Sulawesi utara”. Tambahnya.
Peserta berangkat dari
titik kumpul di Marina plaza tepat pukul 07.00 Wita dan tiba pukul 09.00 Wita
di Cagar alam Batu putih. Kegiatan dimulai dengan penyampaian informasi seputar
yaki oleh Stephan Lentey, Field Station
Manager dari Macaca Nigra Project (MNP). Hal teknis penting yang disampaikan
oleh Stephan kepada peserta adalah jarak.
“Jarak aman yang paling
dekat adalah 5 meter. Tidak boleh terlalu dekat. Karena kita tidak tahu apa
yang ada dipikiran satwa tersebut. Mereka bisa saja menyerang jika merasa
terancam. Yaki jantan dewasa memiliki taring tajam, untuk itu kita perlu hati-hati agar
mereka tidak merasa terganggu”. Ujarnya.
Selesai penyampaian,
peserta langsung berpencar di kawasan hutan untuk mulai memotret. Kelompok yaki
yang dipotret hanya yang berada di wilayah perbatasan. Kami tidak diizinkan
untuk masuk hutan lebih kedalam. Walaupun di perbatasan, fotografer kami cukup
puas mengambil gambar karena ada cukup banyak yaki yang sedang beraktifitas di
wilayah ini. Alan, fotografer Inovasi ikut mengabadikan gambar yaki bersama
fotografer lain, sementara anggota kru Inovasi lain berbincang dengan Stephan dari
MNP tentang yaki. Dari perbincangan terdapat alasan lain yang mungkin jarang
didengar masyarakat tentang pentingnya menjaga yaki.
“Yaki turut menjaga
kelestarian hutan dengan membantu proses penanaman / penghijauan hutan. Tanaman
hutan bisa terus tumbuh tanpa bantuan manusia untuk menanam, karena bantuan dari
yaki dan hewan hutan lainnya. Biji yang dimakan yaki disebarkan di hutan
melalui kotorannya dan kemudian tumbuh menjadi pohon. Hal tersebut berlangsung
selama ratusan tahun. Jika salah satu dari ekosistem punah, maka akan
mengganggu kelangsungan ekosistem lainnya. Jadi kita perlu menjaga kelestarian
yaki agar tidak punah”. Demikian pesan konservasi dari Stephan.
Sementara kami
berbincang beberapa ekor yaki lewat dengan santai pada jarak yang cukup dekat
dengan kami. Menurut Stephan, Yaki di perbatasaan ini cukup terbiasa dengan
keberadaan manusia karena interaksi yang cukup sering. Beberapa fotografer di
sekitar kami terlihat asik mengabadikan yaki dengan ragam ekspresinya. Yaki yang
kebanyakan duduk berkelompok terlihat santai dengan bidikan kamera
disekelilingnya.
Beberapa malah tidak
menggubris walau difoto bahkan dengan jarak lebih dekat dari 5 meter. Namun ada
beberapa yang lebih agresif dengan menunjukan taring karena mulai merasa
terancam.
Pukul 13.00 Wita
kegiatan mengambil gambarpun berakhir. Melalui kegiatan ini diharapkan agar kedepannya teman-teman fotografer bisa menjadi
agen untuk menyampaikan informasi tentang masalah konservasi. Sebab harus kita sadari bahwa masalah
konservasi tidak semestinya hanya diurus oleh teman-teman pekerja konservasi,
tapi juga perlu dukungan seluruh masyarakat. Kerja sekeras apapun jika
masyarakat tidak membantu dengan menyadari pentingnya menjaga, akan menjadi
sia-sia.
Mari bersama
lestarikan!. (Ino)
0 komentar:
Posting Komentar