Kamis, 31 Maret 2016

Bob Marley dan perlawanan rasisme


Don’t worry, about a thing..
Cause every little thing, is gonna be alright..

Lagu dengan ritme menghentak terputus tersebut merupakan karya si dreadlock rasta dari Jamaika, Bob Marley. Lagu tersebut hanya sebagian kecil dari karya-karya sang legendaris reggae. Banyak lagu fenomenal lain seperti No Woman No Cry, Exodus, One Love yang juga ia ciptakan.
Kamis, 17 maret 2016 Depot seni Fispol dan LPM INOVASI memfasilitasi diskusi terbuka tentang Musisi reggae Jamaika ini. Kegiatan mulanya merupakan hasil ngobrol santai di Kantin Fispol tentang musisi dan genre-genrenya. Obrolan berlanjut tentang Bob marley yang menggunakan musiknya untuk memnyuarakan hak-hak kaum kulit hitam Jamaika atas dominasi
kaum kulit putih Amerika.

Terlahir dengan nama Robert Nesta Marley, Bob lahir di dusun Nin Mile. Ibunya, C. Booker adalah seorang kulit hitam, sedang ayahnya, Norval Sinclair Marley adalah pria kulit putih. Sang ayah, seorang tentara berpangkat Kapten, mengharapkan anaknya menjadi pemain bola professional. Namun Bob kecil pandai meramal dan lebih tertarik pada ilmu kebatinan. Ia—Bob Marley—lebih suka hidup di jalanan sebagai anak nakal dan belajar bermain gitar[i]

Bob, merupakan seorang penganut rastafari. Rastafari sendiri merupakan gerakan atau jalan hidup yang memperjuangkan persamaan hak dan kedudukan antar ras di Jamaika. Rastafari berasal dari Ras Täfäri, nama Haile Selassie I sebelum ia dinobatkan menjadi kaisar Ethiopia. Saat itu, tahun 1930-an orang-orang kulit hitam berada pada tingkat tatanan sosial paling bawah, sementara orang-orang kulit putih dan agama mereka, umumnya Kristen berada di paling atas. Gerakan Rastafari dimulai dari motivasi yang diberikan oleh Marcus Garvey agar orang-orang kulit hitam bangga akan diri serta warisan-warisan budaya asli mereka. Sejak inilah ramai diperbincangkan tentang rasa cinta dan bangga terhadap diri sendiri. Ras kulit hitam ini berasal dari Afrika jadi mereka membawa berbagai kebudayaan Afrika ke Jamaika.[ii]

Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya tidak ada kejadian khusus yang menjadi penanda awal muasalnya, kecuali peralihan selera musik masyarakat Jamaika dari Ska dan Rocsteady, yang sempat populer di kalangan muda pada paruh awal hingga akhir tahun 1960-an, pada irama musik baru yang bertempo lebih lambat : reggae. Boleh jadi hingar bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady kurang mengena dengan kondisi sosial dan ekonomi di Jamaika yang sedang penuh tekanan. Kata “reggae” diduga berasal dari pengucapan dalam logat Afrika dari kata “ragged” (gerak kagok–seperti hentak badan pada orang yang menari dengan iringan musik ska atau reggae).[iii]

Pasca kemerdekaannya, politik Jamaika terbelah dalam dua kutub: antara Partai Rakyat Nasional (PNP) yang nasionalis-progressif versus Partai Buruh Jamaika (JLP) yang konservatif. PNP dipimpin oleh Michael Manley. Partai ini menjanjikan redistribusi kekayaan dan mengangkat derajat ekonomi dan martabat kelas sosial paling bawah.
Tahun 1972, PNP memenangi pemilu dan menempatkan Manley sebagai Perdana Menteri. Saat itu, pemerintahan PNP berjuang keras untuk mengatasi kemiskinan dan buta-huruf. Kebijakan pemerintahan PNP saat itu adalah menggratiskan pendidikan, menaikkan upah minimum pekerja, dan memberikan subsidi bagi sektor sosial paling rentan. Kebijakan luar negeri PNP juga progressif dan anti-imperialis, termasuk upaya merapatkan hubungan dengan pemerintahan Fidel Castro di Kuba.

Menjelang pemilu 1976, eskalasi politik meningkat. Kelompok oposisi, yang terdiri dari JLP dan pimpinannya Edward Seaga, melancarkan aksi kekerasan. Imperialisme AS melalui CIA berusaha menggunakan Edward Seaga dan JLP untuk mendestabilisasi pemerintahan PNP. Akibatnya, kerusuhan jalanan tak terhindarkan.[iv]

Bagi seorang Bob marley musik adalah perjuangan itu sendiri, hal nyata yang bisa bermakna bagi banyak orang. Lagu-lagu awal semacam Judge NotTerror, dan One Cup of Coffe (1962) merupakan refleksi atas bengisnya kolonialisme Inggris di Jamaika. Ataupun Simmer Down yang bercerita tentang rude boy, panggilan bagi anak-anak gang yang hidup dalam tawuran dan kekerasan. Adapun No Woman No Cry (1975) yang sakral itu berisikan hiburan dan penguatan kepada kaum wanita akibat kehilangan harga diri, keluarga, dan orang-orang yang dicintai sekitaran hidup mereka. Tak jarang, lagu-lagu Bob Marley pun mengusung ajakan revolusioner, semisal seruan perlawanan dalam Get Up, Stand Up dan berbagai lagu lain dalam album Burnin’ (1973).[v]

Lagu Bob Marley yang berbicara mengenai pembebasan rakyat Afrika dari mental perbudakan dan imperialisme, seperti Buffalo Soldier, Chant Down Babylon, Zimbabwe, dan War. Dalam lagunya, War, Bob Marley mengutip pidato Kaisar Ethiopia, Haile Selassie I, di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1963. Pidato itu menegaskan bahwa perdamaian tidak akan mungkin terjadi selama dunia masih memegang cara pandang yang menganggap ras tertentu lebih superior terhadap ras lain, jika masih ada kelas-kelas dalam masyarakat setiap bangsa, jika masih ada diskriminasi karena perbedaan warna kulit, dan sebelum hak azasi setiap manusia dijamin tanpa memandang perbedaan ras dan warna kulit.

Bob Marley juga mendukung perjuangan rakyat Zimbabwe, yang dipimpin oleh Robert Mugabe, melawan rezim rasialis Rhodesian. Ia menulis lagu berjudul “Zimbabwe”. Dan, di tahun 1980, saat peringatan kemerdekaan Zimbabwe, Bob Marley tampil menyanyi di hadapan 80.000 orang. Ia juga getol dalam menentang apartheid di Afrika Selatan. Di Boston, pada tahun 1979, Bob Marley tampil dalam Amandla Festival sebagai bentuk solidaritas dalam perjuangan mengakhiri kekejian apartheid di Afrika Selatan.[vi]
11 mei 1981 Bob menghembuskan nafas terakhirnya di Miami Hospital. Penyakit kanker telah meregut nafas hidupnya. Namun nafas kehidupan tentang semangat perjuangan tetap mengalir di lagu-lagu ciptaannya yang masih kita dengar sampai saat ini. (Ino)




0 komentar:

Posting Komentar