Kamis, 07 April 2016

Teh dan tempatnya di tengah masyarakat dunia

Oleh:
Nono S. A. Sumampouw



Di bawah pohon mangga. Ya, hanya karena duduk dan bicara ngalor ngidul di bawah pohon mangga Fispol minggu lalu acara ini pun jadi. Seolah Themmy, Biyut dan teman-teman lain adalah tuhan yang bersabda, dan sabda itu jadi, "ayo bikin diskusi teh: ini teh seni". Bedanya, Tuhan membuat bumi dan segala isinya, Biyut-Ilona -Themmy-Cecep-Lulu sibuk membujuk tante Lady dan Irma untuk meminjamkan kantin. Kalau saya, saya juga tak tahu menahu apa hubungannya teh dan seni, yang penting ngobrol saja tentang teh dan secarik kertas ini hasilnya.

Dalam peta sejarah dunia, orang Asia Timur, setidaknya dari Cina dan Jepanglah yang "punya" pohon teh, tradisi minum teh ribuan tahun bersama filosofinya dan varian-varian yang mungkin paling kaya. tapi Inggris (baca: EIC) dan Belandalah (baca: VOC) yang kemudian menguasai sekaligus memilikinya dalam urusan dagang.

Kalau saja teh tak ada, ya, kalau saja, Kopi tidak akan menemukan saingan terberatnya sekalugus kompatriotnya yang paling gigih. Ya, orang Inggris minum teh dan orang belanda minum kopi. Ini terjadi salahsatunya karena persaingan VOC dan EIC, perusahaan dagang transnasional kedua negara yang menguasai perdagangan dan bahkan dunia pada masa itu.

Bahkan sejak perang revolusi, orang Amerika sering mengejek orang Inggris punya gigi jelek berwarna coklat karena kebanyakan minum teh. Dan cecep, sebagai pecinta UK, kalau dia mabuk, dia sering komat-kamit; "all British empire was built by a cup of tea"

Tahun 1773-1775, tahun-tahun sebelum Amerika Serikat merdeka dari Inggris ada yang namanya "Boston tea party", ini rangkaian kejadian protes politik dari "Sons of Liberty" yang berawal di meja parlemen, koran lokal sampai pelabuhan Boston. Sebuah kampanye dan gerakan anti penjajahan Inggris dengan menggunakan Teh sebagai media. Ini karena teh dikenakan pajak tinggi dan harus dikirim dari tanah Inggris dan dimonopoli oleh EIC. Kalau mau dibilang ya kayak itulah model yang kalau aktivis-aktivis sekarang demen bilang "cara-cara kapitalis". Dan boom, 16 desember 1773, teh-teh di Boston langsung dibuang ke perairan pelabuhan.

Selain itu, sebelum om James Watt menemukan mesin uap yang mendorong revolusi industri itu dan kemudian membantu diproduksinya gula secara massal dan membuat harganya turun gila-gilaan. hanya para bangsawan alias feodal-aristokrat kaya yang meminum teh menggunakan gula. Sementara para kaum buruh papa' terjajah di Inggris meminum teh tawar tidak menggunakan gula. Bisa jadi, (saya pakai kata ini karena kalau mau memastikan ilmiahnya, bisa baca buku seabrek yang bikin mata pegel kempot-kempotan) Teh juga jadi salah satu simbol perlawanan kelas di masa panas-panasnya revolusi Inggris saat itu.

Kalau dalam konteks Asia, dalam masa kolonialisme, dan arsip-arsip serta buku-buku sejarah maka akan terbaca salah satu pelabuhan legendaris di masa lalu, Coromandel di india barat sangat tersohor karena produksi tehnya. Komisi dagang Inggris mempekerjakan budak-budak pribumi yang begitu tersiksa dangan gaji murah, dan politik rasial yang menekan untuk memproduksi minuman yang populer yang kemudian diekspor ke seluruh dunia. Dan sepertinya kalau mau dicari di mbah google hari inipun masih bisa terlihat sisa-sisa kejayaan "teh Coromandel".

Dari aspek sejarah di Indonesia, waktu Inggris masuk ke Indonesia setelah meneklukan Belanda dahulu kemudian Prancis dalam perang Napoleon alias perang Eropa. maka di Jawa juga terjadi pendudukan keraton-keraton Jawa oleh Thomas Stamford Raffles dan Lord Minto yang kesohor itu. Dan dengan menengok buku-buku sejarah yang super serius itu, dimana Inggris sangat berpengeruh di keraton Jawa bahkan secara politik  dan tatakrama diplomasi, maka saya sendiri kok "merasa cukup yakin" (karena kalau saya tulis cuma "yakin", bakalan pusing cari sumber sejarah lagi biar dibilang "sahih" secara ilmiah, tapi "belum sahih" sudah bagus, biar banyak yang bisa didiskusikan) kalau tradisi "Royal Tea" keraton-keraton Jawa itu diadopsi dan jadi warisan dari kaum bangsawan dan aristokrat (jendral-jendral) Inggris yang sangat-sangat berpengaruh di dalam kehidupan keraton-keraton Jawa masa itu.

Dalam konteks sejarah perkebunan Indonesia, meneer-meneer dan kompeni-kompeni Belandapun mengintroduksi teh sebagai salah satu produk-produk onderneeming di perkebunan-perkebunan teh di Deli SumatraUtara yang dijamin itu dikenal sebgai daerah oost-kust Sumatra dan daerah Puncak Bogor, Jawa barat untuk menyaingi dominasi perdagangan teh Inggris. Bahkan konon katanya lewat perawatan yang baik masih ada teh-teh yang berusia ratusan tahun dan tetap produktif menghasilkan. Kalau mau baca buku Bumi Manusia-nya Pram pun kita bisa tahu bahwa salah satu tanaman yang dikelola nyai Ontosoroh di perkebunannya adalah teh. Setelah kemerdekaan, sekarang lahan-lahan teh di daerah-daerah itu kalau tidak milik PTPN sebagai perusahaan perkebunan nasional maka jadi milik korporasi swasta. Ya, dimonopili juga oleh mereka dan orang-orang lokal menjadi petani-buruh mereka. Ya, sistem monopoli itulah yang menyebabkan terkadang muncul gerakan-gerakan perlawanan petani di daerah-daerah tersebut. Di daerah jawa barat, Garut dan Halimun, petani lokal membuat semacam koperasi dan usaha dagang (UD) yang menjual teh hijau yang juga kita nikmati sekarang, termasuk menanam bunga Rosella untuk dijual sebagai teh (minuman seduhan) produksi rumahan yang katanya baik untuk kesehatan. Ini dibuat biar ada usaha mereduksi monopoli-monopoli teh (pertanian/perkebunan) dimaksud.

Hah, sehingga dalam seteguk teh, baik rasa dan aromanya, kita dapat menikmati dan menghayati kalau ada perjuangan kemerdekaan didalamnya. Ada peluh yang dirasakan para budak pribumi pada masa penjajahan atas nama ras, ada perlawanan dan jiwa kemerdekaan terhadap okupasi-okupasi berlebihan baik oleh penjajah maupun negara. Karena dijaman penjajahan, para penjajah itu ada sentimen identitas didalamnya dan lebih-lebih lagi dalam seteguk teh semoga kita bisa merasakan kebijaksanaan khas Asia Timur yang legendaris, yang saya tonton dari peran jendral Iron sang pecinta teh, pamannya pengeran Zuko di film kartun Avatar Aang.

Kalau sudah begitu, ayo minum teh sambil ngobrol santai ngalor ngidul. Daripada sok ilmiah tapi tak bikin apa-apa. Setidaknya yang kita buat hari ini ada sedikit warna tradisi simphosia yang akademis itu. selamat minum teh.

0 komentar:

Posting Komentar