Sabtu, 21 September 2019

Ini (Bukan) Tentang Siapa yang Lurus, Siapa Yang Bengkok !



“ We’re sick of hearing people say, ‘That band is so gay’ or ‘Those guys are fags’. Gay is not a synonym for shitty. If you wanna say something’s shitty, say it’s shitty. Stop being such homophobic asshole !”
(Pete Wentz, dikutip dari GoodReads.com)


Hal yang sangat menggelikan dalam kehidupan masyarakat sosial yang katanya modern saat ini, adalah terlalu gampangnya kita untuk terprovokasi. Pemikiran “normal” kita seakan-akan menjadi sebuah penghakiman yang akan mendagwa berbagai unsur baru yang biasanya bersifat sensitif dan tabu.Apakah ia cukup normal untuk diterima menjadi sebuah kenormalan yang baru ?Ataukah ia adalah sesuatu yang aneh dan tidak normal, yang kemudian memaksa kita mengkriminalisasi. Ya ! sebab sesuatu yang berbeda dari pemikiran” Benar” kita, haruslah dihakimi bersalah, agar kita dapat tetap benar!

LGBT sedang duduk di kursi tersangka !

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir  ini, isu LGBT(IQ) atau Lesbian-Gay-Bisexual-Transgender-Intersex(or Indeterminate)-Queer(or Questionable)  seakan menjadi primadona baru  yang  hangat dibicarakan dalam berbagai forum, baik itu dalam seminar-seminar, menjadi topik dalam kajian sosial dan ilmiah, atau hanya sekedar menjadi tersangka dalam obrolan-obrolan singkat para pengaku kaum intelektual, dalam dunia nyata maupun media sosial dunia maya.

Bukankah suatu hal yang lucu, di dalam era dimana kebebasan dijunjung tinggi ini, kita masih saja dikekang oleh tirani yang bernama kenormalan, dan terikat dengan rantai pembullian. Bukankah kita sekarang dijajah oleh ketakutan untuk menjadi berbeda ?. Sebab untuk menjadi berbeda kita harus siap untuk tidak didukung, dicap aneh, atau bahkan dikucilkan.

Para kaum LGBT sedang menghadapinya!

Sungguh bila mengkaji dari sisi moral dan ketuhanan (yang selama ini menjadi permasalahan utama). Disamping entah mereka itu benar atau salah, tidakkah kita sadar bahwa kebiasaan kita yang mempersalahkan dan mengkriminalisasi sesuatu, tak bisa sama sekali dibenarkan baik dalam moral maupun ketuhanan ?

Kita mempermasalahkan kebiasan mereka yang katanya hobi menyodomi anak-anak atau melakukan pelanggaran asusila? Sungguh kembali lagi bukankah ini bukti bahwa kita sudah terlalu mudah terprovokasi ?! Berbagai sumber dan saksi (juga termasuk kenalan dekat penulis) sangat membantah bahwa para LGBT adalah pelaku kejahatan. Mereka sadar benar bahwa masih ada batasan norma dan hukum yang berlaku. Disamping itu, apa tidak ada pelecehan dan predator seksual yang berasal dari golongan yang katanya “normal”(heteroseksual)?

Bagimana dengan pemerkosaan dan pelecehan di tempat-tempat umum? Bagaiamana dengan pemerkosaan dan hubungan diluar nikah yang terjadi pada anak dibawah umur dan pelajar? Bagaimana dengan kasus ayah  yang memperkosa putrinya sendiri ?

Apakah kita perlu membahas Ketuhanan lagi ? Dari semua perlakuan dan pembulian yang terjadi hanya karena mereka berbeda. Dari semua stigma negatif dan aneh yang kita sematkan pada mereka, sehingga mereka harus menjalani hidup dibawah tekanan. Dari semua cerama agama yang mengatakan mereka sesat. Mungkin memang benar bahwa kebanyakan agama tidak mengajarkan atau mendukung LGBT. Yang agama ajarkan adalah KASIH. Yang diagung-agungkan agama adalah "Tuhan itu Kasih". Lalu apakah Tuhan yang adalah kasih mebenarkan perlakuan kita yang mengkriminalisasi dan mendiskriminasi sesama ? Apakah Tuhan yang adalah kasih akan menjauhi mereka hanya karena mereka berbeda ?

(Ilustrasi 2: Penulis)

DAMPAK KRIMINALISASI LGBT
Membahas dampak dari kriminalisasi LGBT, yang paling besar adalah terciptanya stigma-stigma negatif, Stigma negatif hasil dari kriminalisasi akan secara otomatis mengurung para kaum LGBT untuk akhirnya menutup diri dari masyarakat, akibat dari resiko mereka akan menerima ejekan, diskriminasi dan penolakan. Terlebih dari kaum keluarga, sebab stigma negatif ini juga bisa akan berdampak mencoreng nama baik keluarga, dan dapat dipandang sebagai aib. Sehingga para kaum LGBT pun takut untuk bisa terbuka sekalipun pada orang tua mereka sendiri.

Kasus parahnya adalah penyangkalan yang akan berlanjut pada depresi. Skenario terburuknya adalah bunuh diri. Dari publikasi Journal of Homosexuality, resiko atau kecenderungan bunuh diri di kalangan LGBT 2-7 kali lipat lebih tinggi dibanding kelompok heteroseksual. Sementara hasil riset survei kesehatan pemerintah federal USA terhadap lebih dai 15,600 siswa sekolah menengah di Amerika Serikat, mendapatkan bahwa remaja LGBT hampir 40 persen mengatakan telah serius mempertimbangkan untuk bunuh diri. Selain itu, 35 persen telah merencanakan bunuh diri dan 25 persen telah mencoba bunuh diri !

Stigma negatif juga akan menyerang mereka yang mendukung atau membelah hak-hak LGBT. Dengan adanya stigma negatif dari masyarakat, para pendukung dan pembelah LGBT dapat dihantui oleh ketakutan akan dicap sebagai LGBT dan mendapatkan penolakan serta  perlakuan yang sama. Hal ini tentu dapat membunuh usaha untuk mencapai kesadaran (Jujur penulis juga merasakan tekanan yang sama). Kita tentu masih ingat akan kasus cerpen LPM Suara USU (Universitas Sumatera Utara), yang dibungkam bahkan diperkosa hak-haknya, hanya kerena dianggap “mempromosikan” LGBT. Kasus ini berujung pada pemecatan seluruh pengurus LPM Suara Usu dan pengosongan ruang sekertariat mereka atau lebih tepatnya pengusiran !


PROPAGANDA TENTANG PROPAGANDA LGBT
Banyak yang menganggap bahwa LGBT adalah sebuah wabah, sebuah pergerakan  yang harus dihentikan. Rektor Universitas Sumatra Utara, Runtung Sitepu, yang meminta cerita pendek LPM Suara Usu tentang  LGBT dihapus, karena ia menganggapnya sebagai langkah “Promosi” LGBT. Bahkan banyak aksi penolakan yang bicara soal “Propaganda LGBT” atau penyebaran ajaran

Bukankah LGBT ini adalah sebuah kondisi biopsikologis ? Apakah kondisi biopsikologis adalah suatu paham yang bisa dipropagandakan ? atau ajaran yang bisa dipromosikan ?

Banyak yang salah kaprah dalam hal ini, bahkan mereka yang mengaku berpendidikan tinggi saja, terbukti belum tentu memahaminya! LGBT adalah sebuah kondisi dalam tubuh, bukan sebuah propaganda atau ajaran!  LGBT adalah orientasi seksual unik yang dimiliki seseorang. Tidaklah masuk akal bila dikatakan mereka yang heteroseksual dapat dirubah menjadi homoseksual hanya karena adanya kasus LGBT, atau karena bergaul dengan orang-orang LGBT. Tidaklah masuk akal bila kondisi dalam tubuh seseorang bisa mempengaruhi kondisi tubuh orang lain, kecuali itu penyakit yang disebabkan oleh virus. Apakah LGBT disebabkan oleh virus ? Awas ! Jangan-jangan setelah ini akan muncul kriminalisasi yang mengatakan demikian

Bukankah para kaum LGBT(IQ) tidak pernah meminta selain dari pemenuhan hak-hak dasar mereka? Yakni kesetaraan dalam masyarakat dan menjalani hidup tanpa diganggu oleh ancaman. Mereka bukanlah sekelompok ajaran sesat yang mengkampanyekan sesuatu !

Banyak yang mempersoalkan tentang pelegalan LGBT, banyak yang menolak bahkan mengutuk orang-orang LGBT harus dibakar, dirajam atau dihukum. Sekali lagi bagaimana bisa kita melegalkan sebuah kondisi biopsikologis ? dan bagaimana mungkin sebuah kondisi dalam tubuh bisa kita katakan ilegal bahkan menjadi sebuah propaganda ? Bukankah mereka yang menolak, mengutuk dan bahkan mengancam LGBT lebih pantas dikatakan sebagai para penyebar propaganda “Kebencian” ?

Semuanya akhirnya terpulang kepada diri kita masing-masing. Tak ada yang akan bisa melarang seseorang untuk menghakimi LGBT (pada kenyataannya kita memang gemar menghakimi segala sesuatu) sama halnya tak ada yang bisa memerintahkan seseorang untuk tidak menghakimi LGBT atau isu-isu sensitif lainnya. Di era dimana kebebasan diujunjung tinggi ini, seharusnya dibarengi pula dengan kesadaran akan cinta yang tinggi pula. Pada kenyataannya pemahaman cinta kita sangatlah dangkal, berbanding terbalik dengan kebanggan ego kita yang sangat tinggi. Sehingga kita lebih mementingkan mencari kebenaran dan kesalahan, padahal mereka yang kita hakimi tersebut, hanya ingin mencintai dan dicintai!

“The only queer people are those who don’t love anybody”
"Satu-satunya orang yang aneh, adalah mereka yang tidak mencintai siapapun"
-Rita Mae Brown

0 komentar:

Posting Komentar