Para kru INOVASI di titik aksi kamisan Manado (9/09/2019)
Pada hari kamis, 19 September di bundaran titik nol atau biasa disebut Zero Point yang terletak di pusat kota, Sejumlah anak muda dari berbagai komunitas di kota Manado berkumpul untuk menyuarakan aspirasi dalam gerakan Aksi Kamisan Manado, Melawan Impunitas. Menolak lupa!
Puluhan peserta aksi hadir di titik kumpul tepat di tengah kota sore itu, memakai seragam pakaian berwarna hitam dan membawa berbagai atribut seperti payung hitam, yang menjadi ciri khas aksi kamisan serta papan-papan yang diatasnya bertuliskan berbagai aspirasi mereka.
Selain menyampaikan orasi, peserta aksi juga menampilkan musikalisasi puisi dan panggung teatrikal yang mengangkat isu-isu tentang HAM dan lingkungan.
Aksi kamisan perdana di kota Manado ini digagas oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Manado, bekerja sama dengan berbagai komunitas dan organisasi mahasiswa yang ada di kota Manado dan sekitarnya. Total ada 10 rekanan komunitas yang tergabung di aksi kamisan perdana ini . Diantaranya ada PMII Metro Manado, PMII Rayon Politeknik, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi SULUT, Gema Prodemokrasi, GMNI Komisariat UNPI, Lembaga Advokasi Mahasiswa Fakultas Hukum Unsrat, Theater Club Manado, LPM Inovasi Unsrat, PMKRI Manado dan KPA Tunas Hijau Airmadidi.
Aksi Kamisan sendiri adalah sebuah aksi diam yang pertama kali digelar di depan Istana Presiden, Jakarta, sejak 18 Januari 2007. Setiap hari kamis dari pukul 16.00 sampai 17.00, para korban maupun keluarga korban berbagai tragedi pelanggaran HAM di masa lalu yang terjadi di Indonesia akan berdiri diam, berpakaian dan berpayung hitam di depan gerbang istana sebagai bentuk protes. Aksi ini kemudian menjadi gerakan yang menyebar ke berbagai kota di Indonesia dan selain sebagai tuntutan penyelesian kasus HAM dimasa lalu juga dijadikan sebagai momentum menyuarakan aspirasi di daerah masing-masing.
Kamisan di Manado sendiri adalah sebuah bentuk keprihatinan akan maraknya kasus pelanggaran HAM dan lingkungan yang terjadi belakangan ini. Melalui saluran telefon, Christian H.Tamusala dari YLBHI Manado juga selaku penggagas aksi mengungkapkan bahwa pelanggaran HAM tidak hanya terjadi pada masa lalu, di masa sekarang pun ada banyak kasus-kasus pelanggaran yang terjadi bahkan khususnya untuk kota Manado sendiri.
“Banyak contoh kasus pelanggaran HAM yang LBH Manado temui di lapangan, penggusuran tanpa adanya putusan pengadilan, terus di sini juga banyak kekerasan aparat lewat penggusuran perampasan ruang hidup masyarakat Indonesia terlebih khusus di Sulawesi Utara“, ujarnya.
Untuk menanggapi hal tersebut, aksi kamisan perdana di Manado pun membawa tujuh tuntutan, diantaranya:
· Mendesak presiden Joko Widodo untuk segera membentuk pengadilan Hak Asasi Manusia, karena maraknya pelanggaran HAM dari dulu sampai saat ini.
· Mendesak Presiden Joko Widodo agar mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM masa lalu, karena sampai saat ini presiden hanya sekedar menjanjikan tentang penyelesaian semua kasus pelanggaran HAM lewat janji politiknya.
· Adili semua pelaku pelanggaran HAM tanpa melihat pangkat atau jabatannya, yang sampai saat ini masih bergentayangan bahkan menjadi pemangku kekuasaan di berbagai lembaga negara.
· Mendesak kepada negara untuk berhenti mengkriminalisasikan dan bebaskan aktivis pro demokrasi sebagai bentuk perwujudan menjalankan kemerdekaan berekspresi dan berpendapat.
· Hentikan upaya pelemahan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi.
· Mendesak pemerintah provinsi Sulawesi Utara untuk melaksanakan Reforma Agraria, yang sampai saat ini banyak masyarakat yang menjadi korban karena adanya perampasan ruang hidup dan hak atas tanah.
· Meminta kepada Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Utara agar secepatya menarik Aparat Kepolisian yang ada di lahan garapan masyarakat desa Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow yang sampai saat ini masyarakat masih merasakan adanya pelanggaran HAM.
“Di sini, aksi kamisan itu.. diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian dari torang (Kami) yang bersolidaritas dalam aksi kamisan yang bertujuan untuk kemanusiaan dan juga bisa saling merangkul antara jejaring mahasiswa", ujar Christian.
Sementara itu, Dwicky Husain dari LBH Manado, mengunggkapkan harapannya bahwa aksi kamisan yang akan dilaksankan rutin setiap minggu ini bisa menjadi sebuah media yang dapat mengedukasi masyarakat kedepannya.
“Harapannya bisa seterusnya terlaksana sehingga menjadi pengingat maupun pengawal berbagai isu-isu yang berkembang di Indonesia secara umumnya dan Manado secara khususnya, Sehingga masyarakat bisa mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini..” tutupnya.
Berikut adalah dokumentasi jalannya kegiatan Aksi Kamisan di bundaran Zero Point, Manado
Dokumentasi
foto by Ryan
Dokumentasi
foto by Ryan
Dokumentasi
foto by Ryan
0 komentar:
Posting Komentar