Senin, 30 September 2019

Tiga Versi Kejadian Sejarah G30S/PKI

(Foto: suratkabar.id)


Gerakan Tiga Puluh September (disingkat G30S, juga dikenal dengan akronim Gestapu, Gerakan September Tiga Puluh atau kadang-kadang disebut Gestok, Gerakan Satu Oktober) adalah peristiwa sejarah Indonesia ketika 6 Perwira Tinggi Militer Indonesia diculik dan dibunuh secara misterius.

Pada hari-hari dan minggu-minggu berikutnya, tentara, kelompok sosio-politik, dan agama menyalahkan upaya kudeta tersebut kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). Segera terjadi pembersihan massal, yang mengakibatkan pemenjaraan dan kematian anggota Partai dan simpatisan anggota Partai Komunis atau yang diduga. Oleh rezim "Orde Baru", dan kadang-kadang digunakan oleh pemerintah saat ini, gerakan itu biasanya disebut sebagai "G30S / PKI" oleh mereka yang ingin mengasosiasikannya dengan PKI.

Peristiwa sejarah yang kelam, kontroversial dan begitu sensitif dibahas pada era Orde Baru ini mempengaruhi nasib jutaan masyarakat Indonesia yaitu mulai dari transisi kekuasaaan, perubahan kebijakan luar negeri hingga pembunuhan massal.
   
Banyak versi yang menjelaskan siapa sebenarnya pelaku peristiwa misterius ini hingga menarik minat peneliti independen dan sejarawan dunia untuk mengemukakan teori mereka. Menurut Orde Baru sendiri, dalang peristiwa ini adalah PKI yang memberontak untuk menjadikan negara ini menjadi negara berideologi Komunis, ada juga versi yang menjelaskan bahwa peristiwa ini merupakan akibat dari konflik internal yang terjadi dalam TNI untuk menggulingkan Soekarno, hingga versi yang menjelaskan adanya keterlibatan Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA) dan Blok Barat.


Versi “Resmi” Pemerintahan Orde Baru
(Foto: babe.news)
Kala itu ketika masa pemerintahan Ir. Soekarno, ia mengusahakan dinamika politik yang terbuka dan untuk memfasilitasi hal ini, ia pun sempat mengeluarkan gagasan bernama NASAKOM (Nasionalis-Agama-Komunis). Pada masa ini, masing-masing ideologi mencoba memperluas pengaruhnya kepada masyarakat dan penguasa. Salah satu cara yang dilakukan oleh PKI kala itu ialah mengarang cerita bahwa ada sekelompok Jendral Angkatan Darat yang menamai diri mereka Dewan Jenderal yang berencana melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno pada hari TNI 5 Oktober 1965.

Salah satu petinggi PKI Sjam Kamaruzaman kemudian bersama komandan Resimen Cakrabirawa Letkol Untung Syamsuri mencoba menggagalkan kudeta tersebut dengan cara menculik dan melakukan penyiksaan kepada terduga anggota Dewan Jenderal.

Pagi harinya usai pembunuhan tersebut, Letkol Untung di bawah pengawalan pasukan tak dikenal mengumumkan lewat melalui RRI bahwa dini hari itu ia telah melakukan “pengamanan” terhadap presiden dari para jenderal yang ingin melakukan kudeta terhadap Presiden. Pangkostrad Mayjend Soeharto, mendengar hal ini kemudian menggerakan pasukannya untuk melakukan pencarian terhadap jenderal-jenderal yang diculik ini lalu mengusir pasukan tak dikenal tersebut. Ia juga berhasil mengambil alih RRI lalu kemudian mengumumkan bahwa kejadian tersebut diduga digagas oleh PKI.

Singkat cerita, akhirnya terjadi skenario “pembersihan” PKI dan simpatisannya di setiap pelosok Indonesia. Posisi Soekarno sebagai Presiden kala itu perlahan-lahan mulai surut, terjadi aksi demonstrasi di mana-mana. Selama pertemuan kabinet (yang tidak diikuti oleh Soeharto), sementara demonstrasi mahasiswa yang dilindungi oleh tentara berlangsung di Jakarta, pasukan tak dikenal mengelilingi istana kepresidenan tempat pertemuan itu diadakan. Kemudian terungkap bahwa pasukan ini berasal dari pasukan khusus Angkatan Darat. Sukarno disarankan untuk meninggalkan pertemuan dan terbang ke Istana Presiden di Bogor, 60 km selatan Jakarta, dengan helikopter. Kemudian sore itu tiga jenderal tentara, Mayor Jenderal Basuki Rahmat, Menteri Urusan Veteran, Brigjen. Jendral M Jusuf, Menteri Industri Dasar dan Brigjen. Jenderal Amirmachmud, Komandan Daerah Militer ke-5 / Jaya, mengunjungi Sukarno membawa dokumen Supersemar yang telah ditandatangani yang kemudian mereka persembahkan kepada Soeharto. Keesokan harinya Soeharto menggunakan kekuatan yang diberikan kepadanya untuk melarang PKI, dan pada 18 Maret, lima belas menteri loyalis Soekarno ditangkap.

(Poster: wikipedia.org)

Setiap tanggal 30 September sejak 1984 hingga 1997, pemerintah mewajibkan semua stasiun TV di Indonesia untuk menayangkan film yang berjudul Pengkhianatan G30S/PKI yang ditulis dan disutradarai Arifin C. Noer. Film itu mengilustrasikan kekejaman PKI dan usaha mereka dalam melakukan penculikan dan pembunuhan kepada para Perwira Tinggi Militer Indonesia.

Versi Konflik Internal Angkatan Darat
Dari tahun 1962 hingga 1966, TNI disibukkan dengan adanya 2 konflik militer yaitu upaya untuk merebut Irian Barat (Trikora) yang terjadi pada tahun 1963 juga adanya konflik militer dengan negara tetangga Malaysia, yang kerap disebut Konfrontasi Borneo atau Konfrontasi Indonesia-Malaysia (Dwikora) dari tahun 1962 hingga 1966. Di tengah panasnya konflik-konflik ini, negara membutuhkan banyak sukarelawan hingga PKI mengusulkan agar masyarakat sipil terutama buruh dan petani dipersenjatai yang kemudian dinamakan Angkatan Kelima. TNI merasa terganggu dengan gagasan ini karena disinyalir Angkatan Kelima adalah upaya PKI untuk memobilisasi buruh dan petani untuk melakukan kudeta.

Memanasnya hubungan ini memecah TNI menjadi 2 kubu yaitu Kubu Soekarnois yang setia kepada Soekarno, dan Kubu “Kanan” yang khawatir sikap politik Soekarno sering memandang TNI sebelah mata.

Kubu Soekarnois mengatakan bahwa apapun keputusan Soekarno sebagai Panglima Tertinggi TNI harus dipatuhi, meski mereka pun memiliki kekhawatiran terhadap perkembangan yang diraih PKI. Sementara Kubu “Kanan” menganggap PKI sebagai ancaman terhadap TNI yang harus diredam perkembangannya.

Hal ini menginisiasi perpecahan dalam internal TNI yang kemudian berujung pada peristiwa G30S, ada 3 bukti yang menguatkan dugaan bahwa gerakan ini murni dilakukan oleh TNI.


Benedict Anderson (Foto: NYTimes.com)


Cornell Paper: Benedict R. O. Anderson dan Ruth T. McVey pada tahun 1971 mempublikasikan jurnal berjudul A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia di mana di dalamnya dilakukan analisis dan pada bagian kesimpulan disebutkan bahwa, “Bobot bukti yang dikumpulkan sejauh ini dan logika probabilitas (yang selalu rapuh) menunjukkan bahwa kudeta 1 Oktober 1965 bukanlah perbuatan PKI [Partai Komunis Indonesia] maupun Soekarno sendiri. Meskipun keduanya sangat terlibat, namun setelah rencana kudeta berjalan dengan baik. Mereka lebih banyak menjadi korban daripada para pemrakarsa. PKI terjerat sebelum tahu apa yang sedang terjadi; Soekarno keliru mencoba mengambil keuntungan dari situasi yang diciptakan oleh kematian enam jenderalnya. Para pencetus kudeta sebenarnya tidak dapat ditemukan di Jakarta, tetapi di Jawa Tengah, di antara perwira Angkatan Darat tingkat menengah di Semarang, di Markas Besar Divisi Wilayah Ketujuh (Diponegoro).”

Hal itu diperjelas oleh pidato Letkol Untung Syamsuri yang kala itu menjabat sebagai kepala penjaga presiden, bahwa yang ia lakukan adalah pencegahan terhadap kudeta. Usaha para perwira menengah yang usianya masih cenderung muda ini banyak yang kecewa pada para petinggi TNI karena kurang memperhatikan kesejahteraan para perwira menengah ke bawah.


(Sumber: Toko Cinta Buku)

Pledoi Latief: ketika Kolonel Latief dituduh terlibat dalam G30S, Latief melakukan pernyataan pembelaan diri (pledoi) dengan mengatakan bahwa Soeharto sebenarnya mengetahui tentang rencana penculikan para, tapi tidak mengambil sikap apa-apa. Dalam pembelaannya, Latief mengungkapkan bahwa beberapa jam sebelum penculikan berlangsung, Latief datang melapor kepada Mayjen Soeharto di RSPAD (waktu itu Soeharto sedang menjenguk anaknya yang sedang sakit) bahwa ada tentara yang akan menculik Ahmad Yani (kubu Soekarnois), dkk. serta membawa mereka ke Presiden Soekarno.

Karena menganggap bahwa Soeharto sudah mengetahui serta mendukung rencana ini, dia pun kemudian pergi meninggalkan RSPAD Gatot Subroto. Setelah peristiwa tersebut terjadi, baru Latief kebingungan karena para Jendral yang rencananya hanya diculik untuk kemudian dibawa ke Presiden Soekarno ternyata ditemukan tewas.

Hasil Otopsi para korban: Menurut klaim TNI melalui media asuhan TNI Beritayudha dan Angkatan Bersendjata, terjadi penyiksaan kepada para jenderal sebelum akhirnya dibunuh kemudian dilemparkan ke sebuah sumur yang dinamai Lubang Buaya. Namun, menurut hasil otopsi yang dilakukan tim dokter dari Angkatan Darat dan akademisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dinyatakan bahwa tidak ditemukan bekas penyiksaan kepada para jenderal.

Banyak yang percaya bahwa konflik internal TNI ini dimanfaatkan sebagai momen peralihan kekuasaan dan menggunakan PKI sebagai kambing hitam yang merupakan “musuh” ideologis TNI.

Versi Keterlibatan Blok Barat di tengah konflik Perang Dingin
Memanasnya konflik Perang Dingin antara Blok Timur yang berideologi komunisme dengan Blok Barat yang sebagian besar berideologi kapitalisme ini dikatakan menjadi cikal bakal peristiwa G30S. Kedua blok ini memandang Indonesia sebagai wilayah strategis yang dapat menguntungkan salah satu kubu karena sumber daya alam dan perilaku ekonomi serta potensi pasar yang konsumtif di negara ini. Hal ini tentu membuat kedua blok berlomba untuk mengambil hati negara Indonesia untuk bergabung dalam aliansi masing-masing.

Sementara itu, Soekarno memilih untuk netral dalam posisinya pada perang ini dan menetapkan Indonesia sebagai negara penganut Gerakan Non-blok (Non-Aligned Movement). Posisi ini dianggap mengkhawatirkan oleh Blok Barat yang tidak ingin Indonesia sampai jatuh pada tangan komunisme.
Sampai pada tahun 1957-1958 Indonesia menghadapi 2 ancaman pemberontakan dari Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat tahun 1958 dan pemberontakan Perdjuangan Semesta atau Perdjuangan Rakjat Semesta disingkat Permesta di Makasar dan kawasan Indonesia Timur. Dalam upaya meredam pemberontakan ini, Indonesia menyadari bahwa adanya intervensi dari Blok Barat, CIA, dan Amerika yang mendukung kaum pemberontakan. Salah satunya adalah dengan tertangkapnya Allen Lawrence Pope seorang tentara bayaran yang ditugasi CIA untuk membantu pemberontakan PRRI dan Permesta.

Sejak saat itu pandangan politik Presiden Soekarno berubah drastis terhadap Blok Barat hingga puncaknya pada tahun 1964 ia memulai kampanye Anti-Amerika yang melarang peredaran buku, film dan musik dari Amerika Serikat. Kondisi ini diperparah dengan keluarnya Indonesia dari PBB pada tahun 7 Januari 1965. Soekarno kemudian membentuk kebijakan politik luar negeri bernama Conference of The New Emerging Forces (CONEFO) yang didukung Republik Rakyat Tiongkok, Republik Demokratik Rakyat Korea, dan Republik Demokratik Vietnam untuk menyaingi Blok Barat.

Hal ini begitu mengkhawatirkan Blok Barat. Para peneliti sejarah yang menganalisa keterlibatan CIA ini kemudian mengambil kesimpulan bahwa ada kemungkinan CIA terlibat dalam gerakan penculikan dan pembunuhan tujuh perwira tinggi militer dengan memanfaatkan konflik internal dari TNI untuk kemudian membantu terjadinya peralihan kekuasaan (menumbangkan Soekarno) sambil menjadikan PKI (yang berideologi komunis) sebagai kambing hitam.

Adanya Gerakan 30 September 1965 yang mengubah pandangan politik Indonesia yang sangat memusuhi Komunisme tentu saja dianggap menguntungkan pihak Blok Barat terutama Amerika Serikat. Sejak saat itu Presiden Soekarno mengalami krisis kepercayaan hingga ia harus lengser digantikan oleh Soeharto. Sejak saat itu juga, Komunisme dianggap ideologi yang membahayakan NKRI.

Penganut hipotesis ini seakan mendapatkan titik terang saat Kathy Kadane, mantan agen CIA dalam artikelnya pada 19 Mei 1990 membeberkan keterlibatan CIA terhadap proses peralihan kekuasaan pada tahun 1965 serta upaya penghapusan ideologi Komunisme di Indonesia.

Pada tahun 1999 CIA juga melakukan deklasifikasi atau pembukaan dokumen rahasia tentang keterlibatan mereka terhadap konflik internal negara Indonesia. Terdapat 39 dokumen rahasia mengenai keterlibatan Amerika Serikat terhadap peristiwa ini, beberapa di antaranya adalah telegram dari Kedubes Amerika Serikat di Indonesia terkait pendanaan agar Indonesia tidak jatuh ke tangan Komunisme. Update terakhir informasi keterlibatan Amerika Serikat juga diperkuat pada deklasifikasi dokumen rahasia CIA dan NSA pada 17 Oktober 2017.

Dokumen deklasifikasi CIA terkait G30S/PKI (Sumber: muckrock.com)

Siapapun dalang dari peristiwa ini tidak lebih penting daripada dampak yang ditimbulkan dan berpengaruh besar bagi Bangsa Indonesia. Sejak Soeharto membubarkan partai ini dan menyatakan partai ini sebagai partai terlarang di Indonesia pada tahun 1966, kebencian masyarakat terhadap partai ini telah meluas ke seluruh Indonesia. Akibatnya, diperkirakan 25.000 orang menjadi tahanan politik, 2.000.000 (diakui Laksamana TNI Sudomo) – 3.000.000 (diakui oleh Jenderal Sarwo Edhie) orang dihilangkan secara paksa dan dibunuh, dan ratusan orang tawanan politik Indonesia kabur ke luar negeri dan tidak bisa kembali ke Indonesia selama 30 tahun hingga berakhirnya masa Orde Baru pada tahun 1998.

Dampak berkelanjutan setelah gerakan 30 September 1965 dianggap sebagai salah satu tragedi kemanusiaan (genocide) terbesar pada abad 20 yang jarang diketahui oleh publik Indonesia maupun dunia hingga saat ini.


Penulis: Dwiki H
Editor: Dwiki H

0 komentar:

Posting Komentar