(Foto: suratkabar.id)
Gerakan Tiga Puluh September
(disingkat G30S, juga dikenal dengan akronim Gestapu, Gerakan September Tiga Puluh atau kadang-kadang disebut Gestok, Gerakan Satu Oktober) adalah
peristiwa sejarah Indonesia ketika 6 Perwira Tinggi Militer Indonesia diculik
dan dibunuh secara misterius.
Pada hari-hari dan minggu-minggu
berikutnya, tentara, kelompok sosio-politik, dan agama menyalahkan upaya kudeta
tersebut kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). Segera terjadi pembersihan
massal, yang mengakibatkan pemenjaraan dan kematian anggota Partai dan
simpatisan anggota Partai Komunis atau yang diduga. Oleh rezim "Orde
Baru", dan kadang-kadang digunakan oleh pemerintah saat ini, gerakan itu
biasanya disebut sebagai "G30S / PKI" oleh mereka yang ingin
mengasosiasikannya dengan PKI.
Peristiwa sejarah yang kelam,
kontroversial dan begitu sensitif dibahas pada era Orde Baru ini mempengaruhi
nasib jutaan masyarakat Indonesia yaitu mulai dari transisi kekuasaaan, perubahan
kebijakan luar negeri hingga pembunuhan massal.
Banyak versi yang menjelaskan
siapa sebenarnya pelaku peristiwa misterius ini hingga menarik minat peneliti
independen dan sejarawan dunia untuk mengemukakan teori mereka. Menurut Orde
Baru sendiri, dalang peristiwa ini adalah PKI yang memberontak untuk menjadikan
negara ini menjadi negara berideologi Komunis, ada juga versi yang menjelaskan
bahwa peristiwa ini merupakan akibat dari konflik internal yang terjadi dalam
TNI untuk menggulingkan Soekarno, hingga versi yang menjelaskan adanya
keterlibatan Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA) dan Blok Barat.
Kala itu ketika masa pemerintahan
Ir. Soekarno, ia mengusahakan dinamika politik yang terbuka dan untuk
memfasilitasi hal ini, ia pun sempat mengeluarkan gagasan bernama NASAKOM
(Nasionalis-Agama-Komunis). Pada masa ini, masing-masing ideologi mencoba
memperluas pengaruhnya kepada masyarakat dan penguasa. Salah satu cara yang
dilakukan oleh PKI kala itu ialah mengarang cerita bahwa ada sekelompok Jendral
Angkatan Darat yang menamai diri mereka Dewan Jenderal yang berencana melakukan
kudeta terhadap Presiden Soekarno pada hari TNI 5 Oktober 1965.
Salah satu petinggi PKI Sjam
Kamaruzaman kemudian bersama komandan Resimen Cakrabirawa Letkol Untung
Syamsuri mencoba menggagalkan kudeta tersebut dengan cara menculik dan
melakukan penyiksaan kepada terduga anggota Dewan Jenderal.
Pagi harinya usai pembunuhan
tersebut, Letkol Untung di bawah pengawalan pasukan tak dikenal mengumumkan
lewat melalui RRI bahwa dini hari itu ia telah melakukan “pengamanan” terhadap
presiden dari para jenderal yang ingin melakukan kudeta terhadap Presiden. Pangkostrad
Mayjend Soeharto, mendengar hal ini kemudian menggerakan pasukannya untuk
melakukan pencarian terhadap jenderal-jenderal yang diculik ini lalu mengusir
pasukan tak dikenal tersebut. Ia juga berhasil mengambil alih RRI lalu kemudian
mengumumkan bahwa kejadian tersebut diduga digagas oleh PKI.
Singkat cerita, akhirnya terjadi
skenario “pembersihan” PKI dan simpatisannya di setiap pelosok Indonesia. Posisi
Soekarno sebagai Presiden kala itu perlahan-lahan mulai surut, terjadi aksi
demonstrasi di mana-mana. Selama pertemuan kabinet (yang tidak diikuti oleh
Soeharto), sementara demonstrasi mahasiswa yang dilindungi oleh tentara
berlangsung di Jakarta, pasukan tak dikenal mengelilingi istana kepresidenan
tempat pertemuan itu diadakan. Kemudian terungkap bahwa pasukan ini berasal
dari pasukan khusus Angkatan Darat. Sukarno disarankan untuk meninggalkan
pertemuan dan terbang ke Istana Presiden di Bogor, 60 km selatan Jakarta,
dengan helikopter. Kemudian sore itu tiga jenderal tentara, Mayor Jenderal
Basuki Rahmat, Menteri Urusan Veteran, Brigjen. Jendral M Jusuf, Menteri
Industri Dasar dan Brigjen. Jenderal Amirmachmud, Komandan Daerah Militer ke-5
/ Jaya, mengunjungi Sukarno membawa dokumen Supersemar yang telah
ditandatangani yang kemudian mereka persembahkan kepada Soeharto. Keesokan
harinya Soeharto menggunakan kekuatan yang diberikan kepadanya untuk melarang
PKI, dan pada 18 Maret, lima belas menteri loyalis Soekarno ditangkap.
(Poster: wikipedia.org)
Setiap tanggal 30 September sejak
1984 hingga 1997, pemerintah mewajibkan semua stasiun TV di Indonesia untuk
menayangkan film yang berjudul Pengkhianatan
G30S/PKI yang ditulis dan disutradarai Arifin C. Noer. Film itu
mengilustrasikan kekejaman PKI dan usaha mereka dalam melakukan penculikan dan
pembunuhan kepada para Perwira Tinggi Militer Indonesia.
Versi Konflik Internal Angkatan Darat
Dari tahun 1962 hingga 1966, TNI
disibukkan dengan adanya 2 konflik militer yaitu upaya untuk merebut Irian
Barat (Trikora) yang terjadi pada tahun 1963 juga adanya konflik militer dengan
negara tetangga Malaysia, yang kerap disebut Konfrontasi Borneo atau
Konfrontasi Indonesia-Malaysia (Dwikora) dari tahun 1962 hingga 1966. Di tengah
panasnya konflik-konflik ini, negara membutuhkan banyak sukarelawan hingga PKI
mengusulkan agar masyarakat sipil terutama buruh dan petani dipersenjatai yang
kemudian dinamakan Angkatan Kelima. TNI merasa terganggu dengan gagasan ini
karena disinyalir Angkatan Kelima adalah upaya PKI untuk memobilisasi buruh dan
petani untuk melakukan kudeta.
Memanasnya hubungan ini memecah
TNI menjadi 2 kubu yaitu Kubu Soekarnois yang setia kepada Soekarno, dan Kubu
“Kanan” yang khawatir sikap politik Soekarno sering memandang TNI sebelah mata.
Kubu Soekarnois mengatakan bahwa
apapun keputusan Soekarno sebagai Panglima Tertinggi TNI harus dipatuhi, meski
mereka pun memiliki kekhawatiran terhadap perkembangan yang diraih PKI.
Sementara Kubu “Kanan” menganggap PKI sebagai ancaman terhadap TNI yang harus
diredam perkembangannya.
Hal ini menginisiasi perpecahan
dalam internal TNI yang kemudian berujung pada peristiwa G30S, ada 3 bukti yang
menguatkan dugaan bahwa gerakan ini murni dilakukan oleh TNI.
Benedict Anderson (Foto: NYTimes.com)
Hal itu diperjelas oleh pidato
Letkol Untung Syamsuri yang kala itu menjabat sebagai kepala penjaga presiden,
bahwa yang ia lakukan adalah pencegahan terhadap kudeta. Usaha para perwira
menengah yang usianya masih cenderung muda ini banyak yang kecewa pada para
petinggi TNI karena kurang memperhatikan kesejahteraan para perwira menengah ke
bawah.
(Sumber: Toko Cinta Buku)
Pledoi Latief: ketika Kolonel Latief dituduh terlibat dalam G30S, Latief
melakukan pernyataan pembelaan diri (pledoi) dengan mengatakan bahwa Soeharto
sebenarnya mengetahui tentang rencana penculikan para, tapi tidak mengambil
sikap apa-apa. Dalam pembelaannya, Latief mengungkapkan bahwa beberapa jam
sebelum penculikan berlangsung, Latief datang melapor kepada Mayjen Soeharto di
RSPAD (waktu itu Soeharto sedang menjenguk anaknya yang sedang sakit) bahwa ada
tentara yang akan menculik Ahmad Yani (kubu Soekarnois), dkk. serta membawa
mereka ke Presiden Soekarno.
Karena menganggap bahwa Soeharto
sudah mengetahui serta mendukung rencana ini, dia pun kemudian pergi meninggalkan
RSPAD Gatot Subroto. Setelah peristiwa tersebut terjadi, baru Latief
kebingungan karena para Jendral yang rencananya hanya diculik untuk kemudian
dibawa ke Presiden Soekarno ternyata ditemukan tewas.
Hasil Otopsi para korban: Menurut klaim TNI melalui media asuhan
TNI Beritayudha dan Angkatan Bersendjata, terjadi penyiksaan
kepada para jenderal sebelum akhirnya dibunuh kemudian dilemparkan ke sebuah
sumur yang dinamai Lubang Buaya. Namun, menurut hasil otopsi yang dilakukan tim
dokter dari Angkatan Darat dan akademisi dari Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, dinyatakan bahwa tidak ditemukan bekas penyiksaan kepada para
jenderal.
Banyak yang percaya bahwa konflik
internal TNI ini dimanfaatkan sebagai momen peralihan kekuasaan dan menggunakan
PKI sebagai kambing hitam yang merupakan “musuh” ideologis TNI.
Versi Keterlibatan Blok Barat di tengah konflik Perang Dingin
Memanasnya konflik Perang Dingin
antara Blok Timur yang berideologi komunisme dengan Blok Barat yang sebagian
besar berideologi kapitalisme ini dikatakan menjadi cikal bakal peristiwa G30S.
Kedua blok ini memandang Indonesia sebagai wilayah strategis yang dapat
menguntungkan salah satu kubu karena sumber daya alam dan perilaku ekonomi
serta potensi pasar yang konsumtif di negara ini. Hal ini tentu membuat kedua
blok berlomba untuk mengambil hati negara Indonesia untuk bergabung dalam
aliansi masing-masing.
Sementara itu, Soekarno memilih
untuk netral dalam posisinya pada perang ini dan menetapkan Indonesia sebagai
negara penganut Gerakan Non-blok (Non-Aligned
Movement). Posisi ini dianggap mengkhawatirkan oleh Blok Barat yang tidak
ingin Indonesia sampai jatuh pada tangan komunisme.
Sampai pada tahun 1957-1958
Indonesia menghadapi 2 ancaman pemberontakan dari Pemerintahan Revolusioner
Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat tahun 1958 dan pemberontakan
Perdjuangan Semesta atau Perdjuangan Rakjat Semesta disingkat Permesta di
Makasar dan kawasan Indonesia Timur. Dalam upaya meredam pemberontakan ini,
Indonesia menyadari bahwa adanya intervensi dari Blok Barat, CIA, dan Amerika
yang mendukung kaum pemberontakan. Salah satunya adalah dengan tertangkapnya
Allen Lawrence Pope seorang tentara bayaran yang ditugasi CIA untuk membantu
pemberontakan PRRI dan Permesta.
Sejak saat itu pandangan politik
Presiden Soekarno berubah drastis terhadap Blok Barat hingga puncaknya pada
tahun 1964 ia memulai kampanye Anti-Amerika
yang melarang peredaran buku, film dan musik dari Amerika Serikat. Kondisi
ini diperparah dengan keluarnya Indonesia dari PBB pada tahun 7 Januari 1965.
Soekarno kemudian membentuk kebijakan politik luar negeri bernama Conference of The New Emerging Forces (CONEFO)
yang didukung Republik Rakyat Tiongkok, Republik Demokratik Rakyat Korea, dan
Republik Demokratik Vietnam untuk menyaingi Blok Barat.
Hal ini begitu mengkhawatirkan
Blok Barat. Para peneliti sejarah yang menganalisa keterlibatan CIA ini
kemudian mengambil kesimpulan bahwa ada kemungkinan CIA terlibat dalam gerakan
penculikan dan pembunuhan tujuh perwira tinggi militer dengan memanfaatkan
konflik internal dari TNI untuk kemudian membantu terjadinya peralihan
kekuasaan (menumbangkan Soekarno) sambil menjadikan PKI (yang berideologi
komunis) sebagai kambing hitam.
Adanya Gerakan 30 September 1965
yang mengubah pandangan politik Indonesia yang sangat memusuhi Komunisme tentu
saja dianggap menguntungkan pihak Blok Barat terutama Amerika Serikat. Sejak
saat itu Presiden Soekarno mengalami krisis kepercayaan hingga ia harus lengser
digantikan oleh Soeharto. Sejak saat itu juga, Komunisme dianggap ideologi yang
membahayakan NKRI.
Penganut hipotesis ini seakan
mendapatkan titik terang saat Kathy Kadane, mantan agen CIA dalam artikelnya
pada 19 Mei 1990 membeberkan keterlibatan CIA terhadap proses peralihan
kekuasaan pada tahun 1965 serta upaya penghapusan ideologi Komunisme di
Indonesia.
Pada tahun 1999 CIA juga
melakukan deklasifikasi atau pembukaan dokumen rahasia tentang keterlibatan
mereka terhadap konflik internal negara Indonesia. Terdapat 39 dokumen rahasia
mengenai keterlibatan Amerika Serikat terhadap peristiwa ini, beberapa di
antaranya adalah telegram dari Kedubes Amerika Serikat di Indonesia terkait
pendanaan agar Indonesia tidak jatuh ke tangan Komunisme. Update terakhir informasi keterlibatan Amerika Serikat juga diperkuat
pada deklasifikasi dokumen rahasia CIA dan NSA pada 17 Oktober 2017.
Siapapun dalang dari peristiwa
ini tidak lebih penting daripada dampak yang ditimbulkan dan berpengaruh besar
bagi Bangsa Indonesia. Sejak Soeharto membubarkan partai ini dan menyatakan
partai ini sebagai partai terlarang di Indonesia pada tahun 1966, kebencian
masyarakat terhadap partai ini telah meluas ke seluruh Indonesia. Akibatnya,
diperkirakan 25.000 orang menjadi tahanan politik, 2.000.000 (diakui Laksamana
TNI Sudomo) – 3.000.000 (diakui oleh Jenderal Sarwo Edhie) orang dihilangkan
secara paksa dan dibunuh, dan ratusan orang tawanan politik Indonesia kabur ke
luar negeri dan tidak bisa kembali ke Indonesia selama 30 tahun hingga
berakhirnya masa Orde Baru pada tahun 1998.
Dampak berkelanjutan setelah
gerakan 30 September 1965 dianggap sebagai salah satu tragedi kemanusiaan (genocide) terbesar pada abad 20 yang
jarang diketahui oleh publik Indonesia maupun dunia hingga saat ini.
Penulis: Dwiki H
Editor: Dwiki H






0 komentar:
Posting Komentar