Pemindahan Pusat Pemerintahan Dan Segala Polemiknya
“Pada
Senin 26 Agustus kemarin, presiden Joko Widodo, resmi mengumumkan lokasi Ibukota negara Republik Indonesia yang baru.
Ia berada di kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur”
Seperti itulah kira-kira headline hampir semua pemberitaan media alternatif
yang memenuhi lini masa berbagai media sosial, dan pesan berantai aplikasi
percakapan yang seakan mengantri
membunyikan notifikasi handphone hari itu.
Setelah berpuluh-puluh tahun Jakarta mengemban
tanggung jawab sebagai ibu kota negara Indonesia, akhirnya pada Kamis 26
Agustus 2019 lalu resmi diumumkan akan digantikan. Presiden Joko Widodo melalui
akun media sosial resmi Sekertariat
Presiden Republik Indonesia, memberitakan bahwa pusat pemerintahan
negara Indonesia akan dipindahkan ke Kalimantan Timur.
Keberadaan ibukota yang selama ini berada di pulau
Jawa tentu membawa dampak yang luar biasa besar terhadap pembangunan infrastruktur
dan ekonomi di daerah tersebut. Tapi yang menjadi ironinya, selama 74 tahun
kemerdekaan ini, pembangunan Indonesia seperti hanya terfokus ke wilayah barat
saja dan seolah-olah sangat Jawa-sentris.
Akibat dari pusat ekonomi dan pemerintahan yang
berkedudukan di Jakarta, membuat pembangunan Indonesia seperti terprioritaskan
hanya ke satu pulau. Kondisi geografis negara yang adalah kepulauan membuat hal
ini menjadi sesuatu yang sangat tidak bagus.
Kita bisa berkaca pada kenyataan. Dari segi transportasi,
pelayanan kereta api saja hanya ada di
pulau Jawa. Meski jika menilik dari sisi sejarah bahwa jaringan kereta api ini
memang sudah ada dari zaman kolonial. Tidak masuk akal jika selama 70 tahun
lebih kemerdekaan tak pernah sedikitpun terdengar isu pembangunan di pulau
lain. Jika ada yang mengatakan ini soal faktor geografis, bahwa pulau Jawa yang
sebagian besar adalah dataran rendah sehingga cocok untuk jalur kereta
api.
Bukankah Sumatra dan Kalimantan
juga dikelilingi oleh dataran rendah? Dan bahkan luas pulau Kalimantan jauh
lebih besar dari luas Sumatera
dan Jawa disatukan. Jadi apakah pulau-pulau lain sebegitu tidak pentingnya?
Munkin bisa dirubah saja kalau begitu nama perusahaan Kereta Api Indonesia,
menjadi Kereta Api Jawa.
Pembangunan jalan tol yang akhir-akhir ini begitu
digebu-gebukan pemerintah,bukankah hanya terdengar gaungnya di pulau Jawa saja?
Mari kita melirik ke Wilayah Timur Indonesia. Pulau Sulawesi hanya memiliki 2
jalan tol, Kalimantan hanya memiliki satu, sementara Papua tidak ada sama
sekali. Pada kenyataanya, di wilayah NTB, NTT dan Papua ada lebih banyak desa
tanpa akses jalan. Kita juga belum bisa mendengar kabar dari ratusan
pulau-pulau kecil dan ribuan perkampungan terpencil dari wilayah-wilayah
tersebut, sebab banyak dari mereka yang rumahnya belum teraliri listrik dan
jaringan telefon. Sementara hampir seluruh pulau Jawa telah merasakan
kencangnya jaringan 4G.
Kita coba menengok kembali kejadian yang lalu,
ketika Jakarta mengalami pemadaman listrik yang sebenarnya tidak sampai
seharian penuh. Bukankah hampir seluruh Indonesia mengetahuinya? Bagaiamanakah dengan puluhan pulau di Nusa
Tenggara Timur, yang memang listriknya belum pernah mengalir dari awal, adakah
yang sudah tahu?
Pengaruh pusat ekonomi juga berakibat terpusatnya
pemberitaan media masa. Bagaimana sampai kita bisa mengetahui segala
perkembangan Jawa di berbagai bidangnya yang begitu maju? Bagaimana kita bisa
memperoleh gambaran kekhususan daerah
Jakarta, dan keistimewaan kota Jogja? Bagaimana bisa, kita sampai dapat
terpikir membandingkan kemajuan pulau Jawa, dengan daerah kita yang secara
otomatis akan terlihat tidak ada apa-apanya akibat perbandingan tersebut? Jika
bukan karena media yang terfokus ke sana, yang akhirnya juga mengatur mindset kita bahwa Jawa adalah tolak
ukur kemajuan, sehingga kita enggan untuk membaca kabar dari daerah kita
sendiri.
Salah satu contoh yang kontras, bukankah ketika
mendengar berita dari wilayah timur negeri ini, yang terbesit di pikiran kita
adalah berita tentang kesenjangan? atau tentang bagaimana progress dalam mengejar pembangunan. Bukankah karena pemberitaan
media yang seperti ini membuat wilayah Timur Indonesia kita telah dibuat akrab
dengan sebutan “tertinggal”.
Karena pusat pemerintahan ada di pulau Jawa, semua
berita yang menyangkutnya akan terasa begitu penting untuk diketahui. Karena
menyangkut ekonomi dan ketahanan negara.
Karena pusat ekonomi ada di Pulau Jawa, otomatis
orang-orang paling kaya dan penting seperti para public figur ada di sana. Dan hal itu tentu menjadi konsumsi yang
paling nikmat bagi media karena menjadi konsumsi yang paling nikmat pula bagi
kita para pembaca dan pendengar.
Jadi apakah pemindahan Ibukota ini, adalah langkah
yang tepat untuk mengatasi berbagai ketimpangan sosial diatas ?
Ibukota yang nantinya akan secara resmi berada di
Kalimantan Timur pada wilayah Waktu Indonesia Tengah (WITA) mungkin bisa
menjadi jawaban bagi polemik negara yang berat sebelah ini. Tapi tunggu dulu!
pemindahan ini tidak serta merta hanya menjawab permasalahan yang telah ada. Ia
juga malahan menimbulkan sebuah pertanyaan yang baru..
Apakah pembangunan yang nantinya di pusatkan ke
Kalimantan ini, tidak akan memberikan dampak apa-apa bagi lingkungan sekitar?
Apakah tidak akan ada perusakan lingkungan, akibat
pembukaan lahan? atau pencemaran akibat industri yang semakin merajalela?
Dengan pusat pemerintahan yang berpindah ke
Kalimantan, secara otomatis menjadi peluang yang menggiurkan bagi para
Investor. Sebab seperti dilansir dari kementrian pertanian dan kementrian ESDM,
telah ada lebih dari 4 juta hektar lahan kelapa sawit yang tersebar di seluruh
wilayah Kalimantan. Lalu terdapat pula, tambang batu bara terbesar di Indonesia
dengan luas 84,000 hektar yang setiap harinya menghasilkan berton-ton kubik
batu bara yang siap disalurkan ke Pembangkit Listrik.
Perlu untuk diingatkan kembali, kedua industri
penyumbang pemasukan terbesar bagi negara tersebut, berdiri ketika ibukota
negara masih berada di Jakarta. Bagaimana disaat ibukota telah resmi pindah ke
Kalimantan Timur, dan membuat tempat pengurusan segala perijinan telah menjadi
sangat dekat?
Entahlah apa yang akan terjadi pada paru-paru Indonesia ini. Pada akhirnya kita hanya bisa menunggu.
(Yovan)

0 komentar:
Posting Komentar