Jumat, 04 Oktober 2019

MENYEIMBANGKAN NEGERI?


Pemindahan Pusat Pemerintahan Dan Segala Polemiknya 


“Pada Senin 26 Agustus kemarin, presiden Joko Widodo, resmi mengumumkan lokasi  Ibukota negara Republik Indonesia yang baru. Ia berada di kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur” Seperti itulah kira-kira headline hampir semua pemberitaan media alternatif yang memenuhi lini masa berbagai media sosial, dan pesan berantai aplikasi percakapan  yang seakan mengantri membunyikan notifikasi handphone hari itu.

Setelah berpuluh-puluh tahun Jakarta mengemban tanggung jawab sebagai ibu kota negara Indonesia, akhirnya pada Kamis 26 Agustus 2019 lalu resmi diumumkan akan digantikan. Presiden Joko Widodo melalui akun media sosial resmi Sekertariat  Presiden Republik Indonesia, memberitakan bahwa pusat pemerintahan negara Indonesia akan dipindahkan ke Kalimantan Timur.

Keberadaan ibukota yang selama ini berada di pulau Jawa tentu membawa dampak yang luar biasa besar terhadap pembangunan infrastruktur dan ekonomi di daerah tersebut. Tapi yang menjadi ironinya, selama 74 tahun kemerdekaan ini, pembangunan Indonesia seperti hanya terfokus ke wilayah barat saja dan seolah-olah sangat Jawa-sentris.

Akibat dari pusat ekonomi dan pemerintahan yang berkedudukan di Jakarta, membuat pembangunan Indonesia seperti terprioritaskan hanya ke satu pulau. Kondisi geografis negara yang adalah kepulauan membuat hal ini menjadi sesuatu yang sangat tidak bagus.

Kita bisa berkaca pada kenyataan. Dari segi transportasi, pelayanan kereta api  saja hanya ada di pulau Jawa. Meski jika menilik dari sisi sejarah bahwa jaringan kereta api ini memang sudah ada dari zaman kolonial. Tidak masuk akal jika selama 70 tahun lebih kemerdekaan tak pernah sedikitpun terdengar isu pembangunan di pulau lain. Jika ada yang mengatakan ini soal faktor geografis, bahwa pulau Jawa yang sebagian besar adalah dataran rendah sehingga cocok untuk jalur kereta api.  
Bukankah Sumatra dan Kalimantan juga dikelilingi oleh dataran rendah? Dan bahkan luas pulau Kalimantan jauh lebih besar dari luas Sumatera dan Jawa disatukan. Jadi apakah pulau-pulau lain sebegitu tidak pentingnya? Munkin bisa dirubah saja kalau begitu nama perusahaan Kereta Api Indonesia, menjadi Kereta Api Jawa.

Pembangunan jalan tol yang akhir-akhir ini begitu digebu-gebukan pemerintah,bukankah hanya terdengar gaungnya di pulau Jawa saja? Mari kita melirik ke Wilayah Timur Indonesia. Pulau Sulawesi hanya memiliki 2 jalan tol, Kalimantan hanya memiliki satu, sementara Papua tidak ada sama sekali. Pada kenyataanya, di wilayah NTB, NTT dan Papua ada lebih banyak desa tanpa akses jalan. Kita juga belum bisa mendengar kabar dari ratusan pulau-pulau kecil dan ribuan perkampungan terpencil dari wilayah-wilayah tersebut, sebab banyak dari mereka yang rumahnya belum teraliri listrik dan jaringan telefon. Sementara hampir seluruh pulau Jawa telah merasakan kencangnya jaringan 4G.

Kita coba menengok kembali kejadian yang lalu, ketika Jakarta mengalami pemadaman listrik yang sebenarnya tidak sampai seharian penuh. Bukankah hampir seluruh Indonesia mengetahuinya?  Bagaiamanakah dengan puluhan pulau di Nusa Tenggara Timur, yang memang listriknya belum pernah mengalir dari awal, adakah yang sudah tahu?

Pengaruh pusat ekonomi juga berakibat terpusatnya pemberitaan media masa. Bagaimana sampai kita bisa mengetahui segala perkembangan Jawa di berbagai bidangnya yang begitu maju? Bagaimana kita bisa memperoleh gambaran kekhususan daerah  Jakarta, dan keistimewaan kota Jogja? Bagaimana bisa, kita sampai dapat terpikir membandingkan kemajuan pulau Jawa, dengan daerah kita yang secara otomatis akan terlihat tidak ada apa-apanya akibat perbandingan tersebut? Jika bukan karena media yang terfokus ke sana, yang akhirnya juga mengatur mindset kita bahwa Jawa adalah tolak ukur kemajuan, sehingga kita enggan untuk membaca kabar dari daerah kita sendiri.

Salah satu contoh yang kontras, bukankah ketika mendengar berita dari wilayah timur negeri ini, yang terbesit di pikiran kita adalah berita tentang kesenjangan? atau tentang bagaimana progress dalam mengejar pembangunan. Bukankah karena pemberitaan media yang seperti ini membuat wilayah Timur Indonesia kita telah dibuat akrab dengan sebutan “tertinggal”.
Karena pusat pemerintahan ada di pulau Jawa, semua berita yang menyangkutnya akan terasa begitu penting untuk diketahui. Karena menyangkut ekonomi dan ketahanan negara.

Karena pusat ekonomi ada di Pulau Jawa, otomatis orang-orang paling kaya dan penting seperti para public figur ada di sana. Dan hal itu tentu menjadi konsumsi yang paling nikmat bagi media karena menjadi konsumsi yang paling nikmat pula bagi kita para pembaca dan pendengar.
Jadi apakah pemindahan Ibukota ini, adalah langkah yang tepat untuk mengatasi berbagai ketimpangan sosial diatas ?

Ibukota yang nantinya akan secara resmi berada di Kalimantan Timur pada wilayah Waktu Indonesia Tengah (WITA) mungkin bisa menjadi jawaban bagi polemik negara yang berat sebelah ini. Tapi tunggu dulu! pemindahan ini tidak serta merta hanya menjawab permasalahan yang telah ada. Ia juga malahan menimbulkan sebuah pertanyaan yang baru..

Apakah pembangunan yang nantinya di pusatkan ke Kalimantan ini, tidak akan memberikan dampak apa-apa bagi lingkungan sekitar?
Apakah tidak akan ada perusakan lingkungan, akibat pembukaan lahan? atau pencemaran akibat industri yang semakin merajalela?

Dengan pusat pemerintahan yang berpindah ke Kalimantan, secara otomatis menjadi peluang yang menggiurkan bagi para Investor. Sebab seperti dilansir dari kementrian pertanian dan kementrian ESDM, telah ada lebih dari 4 juta hektar lahan kelapa sawit yang tersebar di seluruh wilayah Kalimantan. Lalu terdapat pula, tambang batu bara terbesar di Indonesia dengan luas 84,000 hektar yang setiap harinya menghasilkan berton-ton kubik batu bara yang siap disalurkan ke Pembangkit Listrik.

Perlu untuk diingatkan kembali, kedua industri penyumbang pemasukan terbesar bagi negara tersebut, berdiri ketika ibukota negara masih berada di Jakarta. Bagaimana disaat ibukota telah resmi pindah ke Kalimantan Timur, dan membuat tempat pengurusan segala perijinan telah menjadi sangat dekat?

Entahlah apa yang akan terjadi pada paru-paru Indonesia ini. Pada akhirnya kita hanya bisa menunggu.


(Yovan)

0 komentar:

Posting Komentar