Sutradara
: Todd Philips
Sensor
: R-remaja (17+)
“Menonton film berdurasi dua jam lebih ini adalah sebuah siksaan mental dan
akan membuatmu merasa tak nyaman. Namun kau akan dibuat takkan bisa beranjak
dari kursimu. Sebab perlahan kau akan sadar,kehidupanmu juga memberikan hal
yang serupa, setiap hari!”
Tidak berlebihan bahkan
sangat rendah hati jika mengatakan ini adalah film yang cerdas, dan paling
manusiawi!
Sosok ikonis Joker yang
terepresentasi dalam beberapa film sebelumnya sebagai musuh bebuyutan Batman.
Mungkin yang akan membuatmu berfikir adalah daya tarik utama film ini. Namun
tepat setelah kamu duduk di kursi bioskop yang kamu pesan. Seketika kamu akan
merasa seperti sedang menonton sebuah film festival dan lupa bahwa ini hanyalah
sebuah cerita origin seorang tokoh komik.
Joker tampil dengan
kualitas cerita yang luar biasa sehingga menontonnya tidak akan terasa sebagai
sebuah film melainkan sebuah refleksi.
Ia menyajikan sebuah transisi kehidupan yang akan terasa begitu familiar.
Tapi jangan salah sangka ! kamu takkan menemukan transformasi diri bak pengeran
tampan yang dipenuhi lagu dan bunga-bunga, atau perubahan heroik seorang
pahlawan yang akan (terlalu) selalu diakhiri kemenangan. Joker akan membuatmu kembali
sadar bahwa semua jalan hidup yang sempurna dan berakhir bahagia, tidak lebih
dari sekedar dongeng anak-anak yang kau akan merasa malu
pernah mempercayainya.
Tokoh Arthur Fleck ini adalah sebuah refleksi dari diri manusia yang selalu
membayangkan utopia kehidupan di masa depan. Layaknya kita
yang begitu idealis mempercayai bahwa hari esok akan lebih baik. Arthur juga
berusaha membangun hidupnya dengan pondasi dasar “kepercayaan” umum manusia
tersebut. Ia bekerja untuk menafkahi hidupnya, mengejar mimpi, membangun
hubungan percintaan dan mengikhlaskan setiap kali hidupnya tidak berjalan
sesuai harapan. Namun hidup tidak sebaik itu.
Saat kamu percaya hidupnya
akan baik-baik saja, kamu akan mulai diajak berkenalan dengan masa lalu Arthur
yang kelam, yang akhirnya berdampak pada kondisi mental dan fisiknya,krisis
eksistensi, belum lagi ia dihadapkan dengan tuntutan hidup dewasanya. Namun
sungguh, itu semua hanyalah hal yang kecil. Percaya atau tidak yang akan paling
berdampak mengubahnya menjadi seorang yang rusak, adalah kondisi lingkungan
tempat tinggalnya sendiri.
Film ini berhasil menggambarkan dengan gamblang bahwa ada yang tidak beres
dengan kehidupan modern manusia.
Kota Gotham tentu kita mengenalnya dari serialisasi cerita Batman. Rumah
bagi seorang multi-milyuner, dan juga sebagai kota metropolis yang maju dengan
tingkat pertembuhan ekonomi yang pesat. Namun bukan itu yang membuatnya begitu
tersohor, melainkan sebuah sebutan bahwa Gotham adalah kota dengan tingkat
kriminalitas paling tinggi di dunia. Ironinya, Gotham adalah kota yang biasa,
persis dengan yang bisa kita temui di kehidupan nyata sekarang ini. Perkonomian
yang tinggi, teknologi yang maju, masyarakat yang modern dan kesenjangan yang
besar ! ini menjadi sebuah pengambaran yang lucu namun masuk akal, bahwa di
tempat yang menjadi bukti kemajuan peradaban manusia, itu juga menjadi tempat
kejahatan merajalela..
Gotham adalah sebuah lelucon tentang kehidupan manusia dan Joker adalah
pelawaknya.
Joker berhasil mengangkat ke permukaan kondisi sistem kehidupan modern yang
sebenarnya cacat dan dikendalikan oleh kapitalisme. Ia juga membawa sebuah
ironi, bahwa sekeras apapun manusia berusaha dan bekerja, kita tetap memiliki
kekosongan dalam diri akan hiburan. Namun karena faktor Pride yang
terbentuk dari setiap usaha tersebut, membuat manusia sangat mudah untuk memilih
menertawakan orang lain yang dirasakan lebih rendah dari dirinya, dan pada
akhirnya kita memandang itu sebagai sebuah pemenuhan akan hiburan.
Oh iya hampir lupa. Joker tetap mempertahankan cirinya sebagai sebuah kisah
pahlawan dan penjahat khas cerita komik superhero. Yaitu dimana sang antagonis
terasa begitu powerful, sementara sang protagonis memiliki segudang konflik
internal pribadinya. Dengan alur yang kita semua sudah tahu, pada akhirnya sang
protagonis akan berhasil mengalahkan sang antagonis. Namun bedanya, yang menjadi
pemeran utamanya disini adalah sang penjahat Joker, dan sang antagonis adalah
kehidupan realitanya sendiri!
Tepuk tangan selama 8 menit dan piala Golden lion yang diraih film ini
dalam festival film Venice, sangat layak dipersembahkan bagi dua sosok penting
yang sama –sama sempat diragukan publik. Yakni sang sutradara Todd Philips dan
sang aktor Joaquin Phoenix.
Dalam memerankan sosok Joker yang bagi sebagian kita mungkin masih terpaut
kuat pada mendiang Heath Leadger dalam The Dark Knight karya
Christopher Nolan. Phoenix seakan mendapat tanggung jawab yang sangat berat
untuk memenuhi ekspektasi penonton, sebab versi sebelumnya yang diperankan oleh
Jared Leto dirasa sangat mengecewakan. Demi peran ini, Phoenix sampai harus
menurunkan berat badannya secara drastis, dan benar-benar mempelajari psikologi
orang yang memiliki gangguan jiwa. Namun hasilnya, Joker versi Phoenix hadir
dan seakan menertawakan mereka semua yang meragukan dirinya. Ia sukes besar
menghidupkan karakter Clown Prince of Crime tanpa harus
memaksa kita membanding-bandingkannya lagi dengan para pendahulunya.
Takkan ada lagi yang bisa meragukan Joaquin Phoenix dipanggung Oscar tahun
ini
Kualitas skrip dan cinematografi yang apik menjadi sebuah pembuktian bagi
seorang Todd Phiilips. Awal dikenal dari film komedi The Hangover,
membuat publik sempat ragu sewaktu penunjukannya menangani skrip dan sebagai
sutradara film ini. Namun hasilnya, kualitas cerita yang dalam dan gelap khas
DC berhasil dihadirkan Philips, ditambah dengan angle pengambilan
gambar dan teknik kamera yang bisa dikatakan setara dengan kualitas Christopher
Nolan dan David Fincher. Joker mengantarkan Todd Philips sebagai sutradara yang
patut diperhitungkan di Hollywood.
Untuk timeline-nya sendiri, Joker yang sempat diisukan akan
tergabung dengan cerita trilogi The Dark Knight Nolan, karena penampilan
sang badut yang konsepnya hampir sama dan berhubung di DCEU (DC Extended
Universe) telah ada Joker versi Jared Leto. Bisa dipastikan terbantahkan.
Pergelaran penghargaan
film terbesar Academy Awards masih beberapa bulan lagi. Namun bagi sebagian
kritikus film. Hasilnya sudah terlihat jelas akan dipenuhi tawa The
Killing Jokes. Dan Joaquin Phoenix maupun Todd Philips diperkirakan akan
bergantian, naik-turun diatas podium mewah tersebut.
-Jovan



0 komentar:
Posting Komentar