Selasa, 08 Oktober 2019

JOKER, ini adalah sebuah lelucon tentang realita


Sutradara : Todd Philips
Sensor : R-remaja (17+)



“Menonton film berdurasi dua jam lebih ini adalah sebuah siksaan mental dan akan membuatmu merasa tak nyaman. Namun kau akan dibuat takkan bisa beranjak dari kursimu. Sebab perlahan kau akan sadar,kehidupanmu juga memberikan hal yang serupa, setiap hari!”


Tidak berlebihan bahkan sangat rendah hati jika mengatakan ini adalah film yang cerdas, dan paling manusiawi!
Sosok ikonis Joker yang terepresentasi dalam beberapa film sebelumnya sebagai musuh bebuyutan Batman. Mungkin yang akan membuatmu berfikir adalah daya tarik utama film ini. Namun tepat setelah kamu duduk di kursi bioskop yang kamu pesan. Seketika kamu akan merasa seperti sedang menonton sebuah film festival dan lupa bahwa ini hanyalah sebuah cerita origin seorang tokoh komik.
Joker tampil dengan kualitas cerita yang luar biasa sehingga menontonnya tidak akan terasa sebagai sebuah film melainkan sebuah refleksi.
Ia menyajikan sebuah transisi kehidupan yang akan terasa begitu familiar. Tapi jangan salah sangka ! kamu takkan menemukan transformasi diri bak pengeran tampan yang dipenuhi lagu dan bunga-bunga, atau perubahan heroik seorang pahlawan yang akan (terlalu) selalu diakhiri kemenangan. Joker akan membuatmu kembali sadar bahwa semua jalan hidup yang sempurna dan berakhir bahagia, tidak lebih dari sekedar dongeng anak-anak yang kau akan merasa malu pernah mempercayainya.

Tokoh Arthur Fleck ini adalah sebuah refleksi dari diri manusia yang selalu membayangkan utopia kehidupan di masa depan. Layaknya kita yang begitu idealis mempercayai bahwa hari esok akan lebih baik. Arthur juga berusaha membangun hidupnya dengan pondasi dasar “kepercayaan” umum manusia tersebut. Ia bekerja untuk menafkahi hidupnya, mengejar mimpi, membangun hubungan percintaan dan mengikhlaskan setiap kali hidupnya tidak berjalan sesuai harapan. Namun hidup tidak sebaik itu.

Saat kamu percaya hidupnya akan baik-baik saja, kamu akan mulai diajak berkenalan dengan masa lalu Arthur yang kelam, yang akhirnya berdampak pada kondisi mental dan fisiknya,krisis eksistensi, belum lagi ia dihadapkan dengan tuntutan hidup dewasanya. Namun sungguh, itu semua hanyalah hal yang kecil. Percaya atau tidak yang akan paling berdampak mengubahnya menjadi seorang yang rusak, adalah kondisi lingkungan tempat tinggalnya sendiri.

Film ini berhasil menggambarkan dengan gamblang bahwa ada yang tidak beres dengan kehidupan modern manusia.

Kota Gotham tentu kita mengenalnya dari serialisasi cerita Batman. Rumah bagi seorang multi-milyuner, dan juga sebagai kota metropolis yang maju dengan tingkat pertembuhan ekonomi yang pesat. Namun bukan itu yang membuatnya begitu tersohor, melainkan sebuah sebutan bahwa Gotham adalah kota dengan tingkat kriminalitas paling tinggi di dunia. Ironinya, Gotham adalah kota yang biasa, persis dengan yang bisa kita temui di kehidupan nyata sekarang ini. Perkonomian yang tinggi, teknologi yang maju, masyarakat yang modern dan kesenjangan yang besar ! ini menjadi sebuah pengambaran yang lucu namun masuk akal, bahwa di tempat yang menjadi bukti kemajuan peradaban manusia, itu juga menjadi tempat kejahatan merajalela..

Gotham adalah sebuah lelucon tentang kehidupan manusia dan Joker adalah pelawaknya.

Joker berhasil mengangkat ke permukaan kondisi sistem kehidupan modern yang sebenarnya cacat dan dikendalikan oleh kapitalisme. Ia juga membawa sebuah ironi, bahwa sekeras apapun manusia berusaha dan bekerja, kita tetap memiliki kekosongan dalam diri akan hiburan. Namun karena faktor Pride yang terbentuk dari setiap usaha tersebut, membuat manusia sangat mudah untuk memilih menertawakan orang lain yang dirasakan lebih rendah dari dirinya, dan pada akhirnya kita memandang itu sebagai sebuah pemenuhan akan hiburan.

Oh iya hampir lupa. Joker tetap mempertahankan cirinya sebagai sebuah kisah pahlawan dan penjahat khas cerita komik superhero. Yaitu dimana sang antagonis terasa begitu powerful, sementara sang protagonis memiliki segudang konflik internal pribadinya. Dengan alur yang kita semua sudah tahu, pada akhirnya sang protagonis akan berhasil mengalahkan sang antagonis. Namun bedanya, yang menjadi pemeran utamanya disini adalah sang penjahat Joker, dan sang antagonis adalah kehidupan realitanya sendiri!

Tepuk tangan selama 8 menit dan piala Golden lion yang diraih film ini dalam festival film Venice, sangat layak dipersembahkan bagi dua sosok penting yang sama –sama sempat diragukan publik. Yakni sang sutradara Todd Philips dan sang aktor Joaquin Phoenix.

Dalam memerankan sosok Joker yang bagi sebagian kita mungkin masih terpaut kuat pada mendiang Heath Leadger dalam The Dark Knight karya Christopher Nolan. Phoenix seakan mendapat tanggung jawab yang sangat berat untuk memenuhi ekspektasi penonton, sebab versi sebelumnya yang diperankan oleh Jared Leto dirasa sangat mengecewakan. Demi peran ini, Phoenix sampai harus menurunkan berat badannya secara drastis, dan benar-benar mempelajari psikologi orang yang memiliki gangguan jiwa. Namun hasilnya, Joker versi Phoenix hadir dan seakan menertawakan mereka semua yang meragukan dirinya. Ia sukes besar menghidupkan karakter Clown Prince of Crime tanpa harus memaksa kita membanding-bandingkannya lagi dengan para pendahulunya.

Takkan ada lagi yang bisa meragukan Joaquin Phoenix dipanggung Oscar tahun ini

Kualitas skrip dan cinematografi yang apik menjadi sebuah pembuktian bagi seorang Todd Phiilips. Awal dikenal dari film komedi The Hangover, membuat publik sempat ragu sewaktu penunjukannya menangani skrip dan sebagai sutradara film ini. Namun hasilnya, kualitas cerita yang dalam dan gelap khas DC berhasil dihadirkan Philips, ditambah dengan angle pengambilan gambar dan teknik kamera yang bisa dikatakan setara dengan kualitas Christopher Nolan dan David Fincher. Joker mengantarkan Todd Philips sebagai sutradara yang patut diperhitungkan di Hollywood.

Untuk timeline-nya sendiri, Joker yang sempat diisukan akan tergabung dengan cerita trilogi The Dark Knight Nolan, karena penampilan sang badut yang konsepnya hampir sama dan berhubung di DCEU (DC Extended Universe) telah ada Joker versi Jared Leto. Bisa dipastikan terbantahkan.

Pergelaran penghargaan film terbesar Academy Awards masih beberapa bulan lagi. Namun bagi sebagian kritikus film. Hasilnya sudah terlihat jelas akan dipenuhi tawa The Killing Jokes. Dan Joaquin Phoenix maupun Todd Philips diperkirakan akan bergantian, naik-turun diatas podium mewah tersebut.

-Jovan

0 komentar:

Posting Komentar