Sabtu, 02 November 2019

40 Hari Mengenang Kawanku Almarhum Yerri Murib

Turut berbelasungkawa kawan saya Yerri Murib (23) korban dari tindakan represif aparat di kota Jayapura aksi solidaritas mahasiswa eksodus di Universitas Cendrawasih.




Saya rindu padanya, Yerry Murib teman kuliahku. Teringat pertama kali bertemu, tingkah lakumu membuatku tahu kalau kau seorang yang sama sepertiku. Tak hanya kita, kebanyakan mahasiswa yang berasal dari Papua malu berbaur di lingkungan kampus. Saya tak sangkal, saya juga salah satu mahasiswa kurang percaya diri, rasa kurang percaya diri kita sama. Saya juga berasal dari Papua tepatnya di Kota Sorong. Biarpun bukan berdarah Papua, putih kulit lurus rambut, saya dibesarkan bersama budaya Papua, kita sejiwa.

Bahasa merupakan salah satu alasan kita malu berbaur.  Dia tak tahu,  Kita mempunyai perasaan minder yang sama ketika berbicara dengan "non Papua" orang lain. Diksi dalam bercakap yang kita gunakan berbeda dengan mereka, makanya sering miscommunication ketika bercakap-cakap dengan orang lain. Namun ketika menyimaknya berbicara di depan umum waktu presentasi, kau sangat berani, sangat pede, berdialog mengenai substansi presentasimu,  yah walau lawan bicara kita sering tak paham, mereka berdialog mengenai apa maksud dari serangkaian kata dalam kalimat kita, bukan maksud ide kita. Permasalahan bahasa tak membuatnya enggan membaur, dia terus berusaha. Saya termotivasi ketika melihatnya berani berbicara di depan umum, sebab itu saya memberanikan diri berbicara, dia motivatorku. Berbeda bahasa bukan pembatas, justru berbeda bahasa, kita dapat mengenal satu sama lain latar belakang budaya kita. Sangat bermanfaat menambah wawasan kita.

Saya kagum melihat ia bertekad belajar, Yerri jarang bermain ketika belajar. Sangat berbeda dengan kami sering kali bosan ketika belajar dan melakukan hal-hal yang tak berfaedah. Meski jarak ke kampus sejauh lima kilo meter dari asramanya, tak meredup kemauannya untuk belajar, dia tetap berkomitmen untuk selalu menghadiri kegiatan perkuliahan, tetesan keringat tiap hari adalah saksi dari tiap langkah-langkah kakinya.

Walaupun dia sibuk menempuh studi dan juga mahasiswa yang berprestasi dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang tinggi, dia juga peduli dengan tanah lahirnya, berbeda dengan anak kuliahan jaman sekarang yang hanya mementingkan studinya.

Biarpun saya tumbuh besar di kota Sorong, saya lebih memahami perasaan orang Papua dan rasa ketidakadilan kalian sebagai manusia setelah saya menganalnya. Berdiskusi dengannya mengenai keadaan Papua membuatku mengerti apa yang kalian rasa. Sebab ku pikir memahami dengan subjektif takkan membuat paham tanpa penjelasan dari "objeknya" orang Papua.

Buku yang saya pinjam darinya "Hidup Atau Mati" menjadi pengetahuan dan pemahaman penindasan saudara-saudara kalian yang dibungkam dari pemerintah. Hilangnya harapan dan hak asasi kalian sebagai manusia yang di sembunyikan pemerintahan Indonesia membuat nasib kalian hanya memlih hidup sebagai manusia yang tak dimanusiakan atau mati menjadi manusia yang memperjuangkan haknya sebagai manusia. Kawan, sebegitukah nasib kalian?

Yerri bukan seorang anarkis, dia kalem, selalu tersenyum, tak ada duka di raut wajahnya. Ia seorang mahasiswa teladan, dan ramah. Kami tak menyangka di balik sosok itu ada kepedihan. Yerri Murib meninggal dunia karena tertembak oleh aparat ketika membela diri bersama teman-teman aktivis lainnya, terjadi sebab TNI dan Polisi enggan bernegosasi dan langsung mengambil tindakan represif. Bentrokan tersebut memakan empat korban termasuk almarhum dan juga banyak korban yang terluka. Entah kenapa sebelum kepergiannya, dia tampak lain, seketika ia menjadi perokok dan peminum. Mungkin ada yang dia resahkan selama ini.

Untuk kawanku Yerri Murib semoga perjuanganmu menjadi benih perjuangan berikutnya yang memberitahu kepada dunia kalau orang Papua juga manusia yang punya hak yang sama di dunia dan di mata Tuhan.

- Rio

1 komentar:

  1. Tenang di surga kawan doa kami menyertaimu, semangatmu takkan mati, sosokmu selalu kami kenang.

    BalasHapus